Sejarah Masuknya Muhammadiyah Di Palu Didiskusikan

0
194

PALU, beritapalu.NET | Kapan Muhammadiyah mulai masuk di Bumi Tadulako? Inilah yang menjadi bahan diskusi Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulteng pda kajian Subuh Ahad (Subhad), Minggu (26/6/2016).

Suasana diskusi. (foto: sitimewa)
Suasana diskusi. (foto: sitimewa)

Kegiatan itu menghadirkan saksi sejarah, cucu Mubalig Muhammadiyah Muhammad Nashar Bathati bernama Nashar Awad. Nashar Awad merupakan orang yang selama ini mendampingi sang kakek dalam  berdakwah hingga akhir hayatnya.

Selain itu, dalam kajian Subhad tersebut, Pemuda Muhammadiyah Sulteng juga menghadirkan peneliti sejarah, Dosen Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Untad Palu, DR Haliadi.

Dalam diskusi yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu, terungkap bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi keagamaan yang pertama masuk Sulawesi Tengah. Menurut Nashar Awad, bahwa Organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan itu, masuk Bumi Tadulako sekitar tahun 1928 atau 16 tahun setelah berdiri tahun 1912 di Jogjakarta.

Yang membawa Muhammadiyah di Donggala dan Palu, menurut Nashar Awad adalah sang kakek, Muhammad Nashar Bathati, tokoh asal Hadramaut Yaman. Menurutnya, Muhammadiyah merupakan organisasi pertama berada di Donggala dan Palu, yang diperkenalkan oleh sang kakek. Bahkan Muhammad Nashar Bathati, selama ini hingga akhir hayatnya pada tahun 1977, bersikukuh menentang berbagai praktik Bid’ah, Churafat, dan Tahayyul yang menjadi tantangan gerakan dakwah Muhammadiyah.

“Darah saya sebenarnnya 80 persen Muhammadiyah, tapi saya bersekolah di Alkhairaat, mungkin karena selama ini silaturahim terputus, mudah-mudahan bulan Puasa ini, tali silaturahim dengan warga perserikatan yang diperjuangkan kakek saya, tersambung lagi, setelah puluhan tahun terputus,”  jelas Nashar Awad yang juga General Manajer Mall Aljufrie Palu.

Sementara peneliti sejarah Islam di Palu, Dr Haliadi yang turut menjadi pembicara pada kajian Subhad itu, mengatakan, bahwa Muhammadiyah masuk ke Sulteng sekitar tahun 1931, berdasarkan buku yang ditulis oleh Nainggolan.

Namun Haliadi tidak menafikan bahwa yang disampaikan oleh Nashar Awad, akan menjadi temuan baru dalam sejarah perkembangan Muhammadiyah di Sulteng, karena bisa jadi mubalig-mubalig Muhammadiyah sudah terlebih dulu berada di Sulteng. “Muhammadiyah pertama itu masuk Sulteng pada tahun 1931 di Pagimana Luwuk, kemudian masuk Donggala tahun 1932. Dan pada Tanggal 6 Maret 1932, cabang Muhammadiyah berdiri di Desa Wani Pantai Barat,” jelas Haliadi.

Kata Haliadi, dalam perkembangan sejarah Islam yang ditelitinya di Sulteng, bahwa Muhammadiyah lah yang merupakan organisasi paling keras menentang Belanda dan paling gigih memperjuangkan Kemerdekaan di Sulteng. “Yang bersikeras menentang Belanda pada masa penjajahan di Sulteng saat itu, sebagian besar adalah tokoh-tokoh Muhammadiyah,” jelasnya.

Bahkan kata dia, berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah, tidak lepas dari peran tokoh muda Muhammadiyah bernama Rusdy Toana, yang meneruskan cita-cita sang ayah Abdul Wahid Toana bersama Marjun Habi yang sempat ditangkap oleh Belanda karena menentang pemerintahan Hindia Belanda saat itu.

Sementara Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulteng, Fery ISA Abdullah SSos MSi mengatakan, bahwa kajian Subuh Ahad kali ini, sengaja mengulas sejarah masuknya Muhammadiyah di Palu. Harapannya, warga Muhammadiyah memahami sejarah Muhammadiyah di Sulteng, sekaligus menjadi spirit dakwah warga perserikatan.

“Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lampau, yang perlu diabadikan, agar menjadi pengetahuan bagi generasi berikutnya, maka itulah kajian ini penting untuk disimak,” jelasnya.

Fery juga berharap agar kedepan, Muhammadiyah Sulteng memfasilitasi lahirnya buku yang mengulas sejarah Muhammadiyah masuk Bumi Tadulako. Dia pun berharap, agar kajian Subuh Ahad yang digelar oleh Pemuda Muhammadiyah itu, menjadi modal awal dalam melahirkan semangat baru untuk memunculkan buku sejarah Muhammadiyah masuk Sulawesi Tengah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulteng Drs H Ahmad Dahlan MS SH MH, Sekretaris PWM Sulteng Amin Parakkasi SAg MHi, Anggota DPRD Kota Palu MJ Wartabone, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulteng H Hasan Basri, Akademisi DR Joko Lelono, DR Samsuri, DR Hairil, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulteng, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Palu, dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Sulteng, serta warga dan simpatisan Muhammadiyah.(afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here