Fery ISA Abdullah SSos MSi  

PALU, beritapalu.NET | Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tengah mengampanyekan gerakan Antikorupsi sebagai Gerakan Rakyat di Bumi Tadulako. Selain itu, juga akan menyosialisasikan perlunya sebutan bagi koruptor dengan istilah Maling.

Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tengah, Fery ISA Abdullah SSos MSi mengatakan, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah bersama seluruh Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah se Indonesia dan sejumlah Lembaga Kajian Antikorupsi, Organisasi Kepemudaan, Ormas, LBH, Akademisi, Tokoh Agama, dan Aktivis partai politik, telah menggelar Konvensi antikorupsi di Jakarta pada 17-19 Juni 2016 baru-baru ini.

Kegiatan dengan tema Konvensi Berjamaah Lawan Korupsi Itu, menghasilkan lima rekomendasi yang disebut dengan Panca Gerakan Antikorupsi. “Salah satu poinnya menyebut Koruptor dengan istilah Maling, maka itulah perlu  menjadikan gerakan Antikorupsi sebagai gerakan rakyat,” jelas Fery kepada beritapalu.NET, Senin sore (20/6/2016).

Adapun isi Panca gerakan Anti korupsi antara lain, Antikorupsi Sebagai Gerakan Kebudayaan, Anti korupsi sebagai gerakan rakyat, perlunya Menebar “Kebencian” terhadap koruptor, koruptor adalah maling, dan membentuk Partai Antikorupsi. “Lima rekomendasi ini dihasilkan dari berbagai masukan selama kegiatan, baik dari peserta maupun dari para Narasumber,” jelasnya.

Kata dia, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah telah mengkampanyekan Gerakan Antikorupsi sebagai gerakan kebudayaan dan gerakan rakyat, yang mengedepankan transformasi nilai dan kesadaran kolektif seluruh anak bangsa untuk memulai menanam kebudayaan jujur yang antikorupsi sebagai nilai integratif dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. “Kita merasa perlu untuk membangun kebudayaan Antikorupsi, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat,” jelasnya.

Selain itu, gerakan Antikorupsi sebagai gerakan rakyat, dimaknai bahwa  rakyat indonesia, khususnya Rakyat Sulawesi Tengah, perlu melawan korupsi sebagai gerakan bersama, karena korupsi adalah masalah utama bangsa ini yang harus diberantas jika rakyat ingin sejahtera. “Maka itulah, dibutuhkan peran seluruh masyarakat untuk memberikan pemahaman tentang bahaya praktik korupsi sebagai kejahatan peradaban, bukan sekadar kejahatan pidana,” jelasnya.

Lanjut Fery,  kini saatnya rakyat menjadikan koruptor sebagai musuh bersama, karena koruptor adalah maling besar. Untuk itu, dia mendorong media massa menggunakan istilah “Maling” bagi mereka yang terlibat kasus korupsi, guna membantu membangun kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah, bahwa korupsi adalah pekerjaan tidak beradab.‎ “Kita juga perlu mengkampanyekan ‘Kebencian’ terhadap praktik korupsi yang merusak peradaban bangsa karena koruptor sama dengan maling,” tandasnya.

Pimpinan pusat Pemuda Muhammadiyah bersama seluruh Pimpinan wilayah se Indonesia,  lanjut Fery, juga mendorong terbentuknya Partai Antikorupsi sebagai simbol mendorong kesadaran kolektif bahwa politik bukan jalan yang kotor, tetapi politik adalah jalan kemuliaan untuk mencerahkan dan memajukan peradaban. “Partai Antikorupsi ini bukan partai politik organik, tapi jejaring gerakan antikorupsi,” jelasnya.(afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *