Kajian Subhad Pemuda Muhammadiyah Bahas Korelasi Akidah dan Akal

0
184

PALU, beritapalu.NET | Pemuda Muhammadiyah Sulteng kembali menggelar Kajian Subuh Ahad (Subhad) di Masjid Alfurqan Palu, Minggu (19/6). Kegiatan tersebut dipandu oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulteng Fery eL Shirinja dengan menghadirkan dua pembicara yakni Pakar Tarjih Ibnu Abdurahman Dg Manessa dan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulteng H Hasan Basri.

Suasana Kajian Subuh Ahad Pemuda Muhammadiyah Sulteng di Masjid Alfurqan Palu, menghadirkan Pakar Tarjih Ibnu Abdurahman Dg Manessa dan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulteng H Hasan Basri, serta Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulteng Fery eL Shirinja, Minggu (19/6/2016). (Foto: istimewa)
Suasana Kajian Subuh Ahad Pemuda Muhammadiyah Sulteng di Masjid Alfurqan Palu, menghadirkan Pakar Tarjih Ibnu Abdurahman Dg Manessa dan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulteng H Hasan Basri, serta Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulteng Fery eL Shirinja, Minggu (19/6/2016). (Foto: istimewa)

Kegiatan yang mengangkat tema korelasi Akidah dan Akal tersebut, juga turut diwarnai dialog. Hadir pula saat itu, Sekretaris PWM Sulteng, Muh Amin Parakasi SAg MHi dan sejumlah Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulteng, serta Angkatam Muda Muhammadiyah (AMM) Sulteng.

Dalam pemaparannya, Ibnu Abdurrahman menekankan, agar umat Muslim mampu membangun korelasi akidah dan akal, seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dalam mencari kebenaran akan keberadaan Tuhan. Begitu juga prilaku yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, terang Ibnu Abdurahman, agar dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. “Maka itulah umat Islam harus mampu membangun korelasi antara akidah dan akal, dan pikirkanlah ciptaan Allah serta bersyukurlah,” jelasnya.

Dia juga menyinggung seputar perdebatan hisab dan rukyat yang sering menyebabkan perbedaan penetapan Awal Puasa, Lebaran, dan Lebaran Haji. Menurutnya, bahwa cara menghitung atau hisab semuanya sama, yang membuat perbedaan itu hanyalah penentuan kriteria. Untuk tahun ini, tidak terjadi perbedaan karena memenuhi semua kriteria.

“Bulan Ramadan tahun ini akan berjalan selama 30 hari, karena pada tanggal 29 Ramadan 1437 Hijriyah atau bertepatan dengan 4 Juli 2016 Miladiyah, posisi bulan saat terjadi ijtimak sekitar 19.01 wita dan Matahari terbenam di Kota Palu, tinggi Hilal minus 2 derajat, artinya hilal dibawah ufuk, sehingga Mustahil dapat terlihat, maka itulah Ramadan digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Syawal berdasarkan hasil Hisab, jatuh pada hari Rabu, bertepatan dengan tanggal 6 Juli 2016,” jelas Ibnu Abdurahman Dg Manessa.

Sementara Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulteng, H Hasan Basri, mengatakan bahwa warga perserikatan Muhammadiyah, tidak perlu ragu dengan Hasil Hisab Muhammadiyah dalam menetapkan awal-awal bulan qamariyah, termasuk penetapan 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 1 Dzuhijjah yang sering menjadi perdebatan di tanah air.

Hasan Basri juga menekankan, agar akal tidak diutamakan di atas wahyu. Dia mencontohkan di era abad kedua Muhammadiyah ini, tidak saja menghadapi tantangan pemberantasan Tahayul, Bid’ah dan Churafat, tapi juga tantangan yang lebih berat adalah tantangan akal yang ditonjolkan melalui Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme. “Hal-hal ini yang mesti diwaspadai, apalagi dengan munculnya Islam liberal yang menonjolkan akal, sehingga umat Islam tidak boleh terlena,” jelasnya.(afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here