WVI Ajak Warga Balane Budidayakan Tanaman Kelor

0
248

SIGI – Tanaman kelor asal Sigi, Sulawesi Tengah ternyata memiliki kandungan protein dan karbohidrat yang lebih tinggi dibanding tanaman kelor dari daerah lainnya. Selain itu, kandungan air yang dimiliki lebih rendah.

Lebih dari itu, tanaman kelor bisa dimanfaatkan untuk penyembuhan berbagai penyakit, seperti diabetes, rematik, epilepsy, kanker dan banyak lagi penyakit lainnya. Minyak yang dihasilkan dari biji buah kelor bernilai ekonomis yang sangat tinggi, terutama untuk pasar Eropa.

Paparan itu tidak sekadar dibuat-buat, melainkan telah melalui uji laboratorium di Asutralia yang diprakarsai oleh Wahana Visi Indonesia (WVI), sebuah lembaga nirlaba yang antara lain bergerak di bidang usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat selain concern pula dengan isu lingkungan.

Kegunaan dan manfaat pada tanaman kelor yang banyak terdapat dan mudah tumbuh baik di Palu maupun Sigi, mendorong WVI mengembangkannya dengan melibatkan warga sebagai basis komunitas pemberdayaan ekonomi rakyat.

Dalam kaitan itu, WVI memfasilitasi budidaya tanaman kelor (Moringa lukubara) dengan percontohan di Desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sejumlah warga yang terbagi dalam beberapa kelompok diberi bibit untuk ditanam dan dirawat sendiri dengan perlakuan tertentu secara alami (nonorganic).

Iklim di Balane dinilai cukup bagus bagi tumbuhnya tanaman kelor. Warga yang sudah terbiasa dengan tanaman itu juga menjadi penilaian khusus sehingga lokasi itu ditetapkan sebagai wilayah percontohan budidaya.

“Kita harusnya bangga karena kualitas tanaman kelor kita lebih baik dari daerah lainnya. Karena itu, kita pun harus memanfaatkan ini untuk mendapatkan nilai ekonomi yang baik untuk kesejahteraan kita juga,” sebut Manajer Program WVI Sigi, Saptarina Dwi Febriyanti pada sosialisasi tanaman kelor di kantor Desa Balane, Rabu (1/6/2016).

Diungkapkan, tanaman kelor di salah satu daerah di Indonesia (bukan di Sulteng) sudah dibudidayakan dan dikembangkan dengan sangat maju. Bahkan hasil produksinya sudah dibuat aneka keperluan mulai dari bahan kosmetik, obat-obatan, hingga minyak.

“Jam tangan Rolex yang dikenal mahal itu memanfaatkan minyak yang dibuat dari kelor, harganya lumayan, bisa mencapai jutaan per milliliter,” ujar Rina – sapaan akrab Saptarina.

Warga pun antusias mendengar paparan itu dan tergerak untuk melakukannya pula. “Harusnya kita lebih bisa memanfaatkan kelor ini karena dalam hal tertentu kelor kita lebih bagus,” tambah Rina lagi.

Sebagai percontohan, telah disiapkan lahan seluas lebih kurang 1 hektar untuk pembudidayaan tanaman kelor itu yang ditanam secara berkelompok. Penanaman dan pemeliharaan dilaksanakan sendiri oleh warga. WVI dalam hal ini hanya memberi petunjuk teknis baik penanaman maupun perawatannya.

Rina berharap, dengan fasilitasi yang diberikan oleh WVI ini dapat menjadi jalan bagi warga Balane untuk lebih meningkatkan kemampuan ekonominya.

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi juga menyambut positif langkah yang dilakukan oleh WVI tersebut. “Ini sangat kita dukung. Ini sangat bermanfaat dalam upaya pengembangan ekonomi rakyat sekaligus membantu upaya konservasi lingkungan,” sebut Kepala Bidang Pengawasan dan pemantauan Konservasi SDA Kabupaten Sigi, Yoke A. Pangandaheng. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here