Pelajar Dominasi Pelanggar Lalulintas pada Operasi Patuh

PALU – Polres Palu merilis hasil Operasi Patuh Tibombala 2016 yang digelar sejak 16 Mei 2016 lalu melalui Satuan Lalu Lintas.

Dari rilis itu diketahui, selama 10 hari pelaksanaan operasi itu, tidak kurang dari 175 pelanggaran dan mendapatkan sanksi berupa Tindak Langsung (Tilang) di tempat.

Dari seluruh pelanggaran itu, pelajar adalah jumlah terbanyak. Pelanggarannya antara lain tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), tidak memiliki Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

“Umumnya mereka masih berusia belasan tahun dan sebagian besar berstatus pelajar,” ungkap Kapolres Palu AKBP Basya Radyananda.

Selain itu lanjutnya, tak sedikit pula yang diberi sanksi karena menggunakan kendaraan modifikasi seperti knalpotnya bogar atau bersuara keras. Mereka yang melanggar aturan itu ditahan SIM dan STNK serta kendaraannya.

Kapolres mengatakan, Operasi patuh tersebut merupakan program untuk menertibkan pengendara di jalan raya. Operasi itu akan berlangsung hingga 29 Mein mendatang. Fokusnya terutama pada Kawasan Tertib Lalu Lintas (KTL).

Di Palu Sendiri, KTL itu antara lain Jalan Sam Ratulangi, Jalan Rajamoili dan jalan Moh Hatta.

Polisi foto bersama siswa SDN 4 bersama guru-gurunya usai sosialisasi Lalu Lintas di sekolah tersebut, Rabu (25/5/2016). (Foto: Humas Polres Palu)
Polisi foto bersama siswa SDN 4 bersama guru-gurunya usai sosialisasi Lalu Lintas di sekolah tersebut, Rabu (25/5/2016). (Foto: Humas Polres Palu)

Sementara itu, untuk menekan angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas yang terjadi, Polres Palu melalui Satlantas gencar melakukan sosialisasi kepada pelajar baik di tingkat SD, SMP maupun SMA agar tidak mengendari kendaraan bermotor sebelum berusia 17 tahun.

Seperti yang dilakukan Rabu (25/5/2016) di SDN 4 Palu, Satlantas Polres Palu dipimpin Kanit Dikyasa Satlantas Bripka I Kadek Aruna melaksanakan sosialisasi.

Ia mengatakan, sesuai UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya, syarat untuk memiliki SIM minimal berusia 17 tahun.

Ia juga berharap kepada para orang tua agar tidak memperbolehkan putra putrinya mengendarai kendaraan bermotor jika belum miliki SIM.

“Peran serta orang tua sangat penting agar angka kecelakaan lalu lintas dengan korban pelajar dapat ditekan,” sebut Kadek Aruna. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here