Menolak Bala dengan Ritual Pompaura

0
347

pompa-4SUARA gimba (gendang) bertalu-talu mengiringi para penari. Sesekali tarian itu menjadi tidak karuan lantaran roh arwah merasukinya (trance).

Sangguni (beras kuning) pun segera dihamburkan agar irama tari yang dimainkan pasangan perempuan dan laki-laki itu tetap berada dalam koridor kegembiraan menyambut pembersihan kampung atau menangkal bala yang mengancam.

Sejumlah warga membawa persembahan pada ritual tolak bala pompaura di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (19/5). Ritual budaya yang sudah dilaksanakan sejak turun temurun oleh suku Kaili itu dipercaya akan mampu menolak segala mara bahaya dan bencana bagi lingkungan setempat. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/16

Kamis (19/5/2016), sebuah upacara adat yang disebut Pomparua digelar kembali di Kelurahan Lasoani, Palu, Sulawesi Tengah. Upacara itu sudah turun temurun dilakukan oleh suku Kaili – etnis mayoritas yang berdiam di lembah Palu.

Pompaura adalah istilah setempat yang berarti mengembalikan, menyingkirkan atau membersihkan diri dan lingkungan. Upacara itu digelar sebagai bentuk permohonan kepada yang kuasa agar segala bencana, wabah penyakit, kesulitan hidup dapat dihindarkan.

Warga mengikat persembahan berupa aneka makanan di gelantungan janur kuning pada ritual tolak bala pompaura di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (19/5). Ritual budaya yang sudah dilaksanakan sejak turun temurun oleh suku Kaili itu dipercaya akan mampu menolak segala mara bahaya dan bencana bagi lingkungan setempat. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/16

Upacara adat pompaura dilakukan dari satu ke kampung lainnya secara bergiliran ketika musim Timur akan berganti menjadi musim Barat yang biasanya mengakibatkan kemarau panjang atau sebaliknya.

Telah menjadi keyakinan warga setempat, segala macam bencana disebabkan oleh ulah manusia dan harus dibersihkan agar tidak menimbulkan kerusakan. Keserakahan, kesombongan, ketidakpedulian pada alam dan lingkungan serta berbagai sifat-sifat buruk lainnya dibersihkan dengan ritual Pompaura tersebut.

Warga mengikat persembahan berupa aneka makanan di gelantungan janur kuning pada ritual tolak bala pompaura di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (19/5). Ritual budaya yang sudah dilaksanakan sejak turun temurun oleh suku Kaili itu dipercaya akan mampu menolak segala mara bahaya dan bencana bagi lingkungan setempat. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/16

Pada prosesi adat itu, tergambar dengan jelas semangat kekeluargaan, kebersamaan  dan gotong royong pada warga. Biaya yang ditimbulkan untuk pelaksanaan upacara adat ini ditanggung secara beramai-ramai.

Setiap rumah tangga datang dengan ‘barang bawaan’ atau disebut Taki berbentuk  nasi yang direbus daun pisang dan bahan makanan lainnya. Taki juga bisa dalam bentuk bahan makanan selain beras beras seperti  gula pasir dan kopi atau teh, singkong, pisang  dan bahan makanan lainnya. Namun bagi warga berkemampuan lebih, biasanya membawa ayam dan bahkan kambing.

pompa-8Sesungguhnya, tidak ada kewajiban untuk membawa barang bawaan ini, semua tergantung kerelaan atau kemampuan masing-masing. Sebagian dari barang bawaan ini kemudian dijadikan sesaji dan sisanya disantap bersama usai prosesi adat tersebut.

Ritual Pompaura di awali dengan prosesi Menau yang dilaksanakan seminggu sebelumnya. Pada tahapan Menau ini tidak banyak orang yang terlibat karena hanya dilaksanakan oleh tetua adat yang dipimpin Tolangga atau pemimpin upacara adat.

pompa-9Berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan prosesi Pompaura itu seperti alat musik gimba atau gendang, aneka sesaji, janur kuning, sambulu gana dan lana fongi atau air suci. Lana fongi terdiri dari aneka dedaunan  yang dicampur dengan air. Sesaji berupa nasi yang direbus dibungkus daun pisang, telur ayam, ayam bakar dan atau uta dada, serta sambulu gana yang terdiri dari kapur, siri pinang, gambir dan tembakau.

pompa-7Beberapa hari sebelum puncak ritual Pompaura dilaksanakan, tempat dan sarana serta bahan-bahan untuk sesaji dipersiapkan. Setelah semua persiapan rampung, Pompaura pun dilakukan yang di awali dengan mengantar sesaji persembahan ke tempat penyajian atau Palaka.

Selanjutnya dilakukan Novemba atau tolak bala yang ditandai dengan mengibas-ngibaskan dedaunan yang terlebih dahulu dicelupkan air wangi atau air suci, kepada kerumunan warga yang menghadiri prosesi ritual tersebut.

pompa-10Berikutnya ritual dilanjutkan di lapangan terbuka atau Vunja yang berjarak sekitar 20 meter dari tempat ritual pengibasan air suci. Vunja adalah tempat yang disiapkan khusus, berupa batang bambu yang didirikan lengkap dengan berbagai aksesoris seperti janur kuning. Di tempat inilah puncak dari prosesi Adat Pompaura ini akan berakhir. Dari awal sampai akhir prosesi, tabuhan gendang tidak pernah berhenti. Beberapa penabuh disiapkan menabuh gendang secara bergantian.

Menariknya, penabuh gendangnya tidak hanya kalangan orang dewasa tapi juga anak-anak. Bahkan ada anak-anak penabuh yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar. “Ini adalah generasi kami. Kalau kami orang tua ini sudah tidak ada, kami berharap mereka bisa melanjutkan tradisi ini,” ujar Baharudin Parisele, salah seorang tetua adat Kelurahan Lasoani.

pompa-6“Pompaura Posunu Rumpu ini adalah tradisi kami turun-temurun. Ini bertujuan untuk tolak bala, sesungguhnya bukan hanya tolak bala untuk warga Lasoani saja tapi tolak bala untuk seluruh Kota Palu dan bahkan Tana Kaili,” jelas Baharudin, seoarang tetua adat di Lasoani.

Bagi masyarakat Kaili, Pompaura adalah salah satu ritual adat yang sangat sakral dan penuh dengan nilai-nilai spiritual. Mengawali pompaura, gimba ditabuh oleh penabuh yang dikenal dengan istilah Bule. Tabuhan gendang ini juga bertujuan untuk memanggil warga agar segera berkumpul di tempat pelaksanaan upacara. Tabuhan gendang yang khas ini bisa menggerakan warga untuk datang di tempat pelaksanaan upacara adat.

pompa-11Melalui ritual adat ini seluruh warga suatu kampung memohon kepada tuhan yang maha kuasa, agar dihindarkan dan dilindungi dari berbagai macam bencana dan marabahaya. ***

Naskah dan foto: Basri Marzuki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here