Jenazah Dua Teroris Poso Tiba di Palu

0
189

PALU – Setelah dilakukan evakuasi selama empat hari, akhirnya dua jenazah teroris Poso yang tewas tertembak di Desa Pantangolemba, Poso Pesisir Selatan, Poso, Sulawesi Tengah. Minggu (15/5/2016) lalu, akhirnya tiba di Rumah Sakti Bhayangkara Palu, Rabu (18/5/2016).

Kedua jenazah yang diangkut dengan ambulance milik RS Bhayangkara itu tiba di Palu sekitar pukul 15.00 Wita dengan pengawalan ketat dari anggota Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala.

Sebelumnya Satgas Operasi Tinombala kesulitan mengevakuasi kedua jenazah anggota kelompok Santoso ini dikarenakan faktor cuaca dan medan yang sulit hingga akhirnya pada hari keempat baru bisa tiba di Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah.

Seperti diberitakan sebelumnya, kedua jenazah tersebut yang masing-masing diidentifikasi sebagai Firman alias Aco alias Inkirma asal Malino Poso dan Yazid alias Taufik asal Jawa ini tewas tertembak setelah terlabt kontak senjata dengan Satgas Operasi Tinombala di Desa Pantangolemba, Poso Pesisir Selatan pada Minggu (15/5/2016) lalu.

Diberitakan, awalnya anggota kelompok Santoso tersebut terlihat oleh Satgas saat menuruni perbukitan di desa tersebut. Mereka berjumlah antara 5 sampai 7 orang. Ketika berada dalam jarak tembak, Satgas kemudian melepaskan tembakan dan dibalas oleh kelompok tersebut.

Usai kontak lalu dilakukan penyisiran dan keduanya ditemukan sudah tewas terkena tembakan. Sedangkan rekan lainnya lari berpencar masuk ke hutan.

Dari keduanya ditemukan 5 buah bom lontong, sebuah GPS, tas ransel berisi bahan logistic, pisau, dan bubuk mesiu.

Dengan tewasnya kedua anggota kelompok Santoso yang juga masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) itu, maka saat ini diperkirakan anggota Santoso saat ini tersisa 23 orang.

Sehari sebelumnya (Selasa, 17/5/2016), Kapolda Sulteng Brigjen Polda Rudy Sufahriadi yang juga penanggung jawab Operasi Tinombala mengeluarkan maklmuat yang berisi imbauan agar Santoso bersama anggota kelompoknya agar menyerah.

Kapolda berjanji akan memperlakukan mereka secara manusiawi dan berpatokan pada aturan HAM. Ia bahkan berjanji pula akan melindungi keamanan keluarganya jika mereka menyerahkan diri.

Kaploda juga menegaskan, dirinya bersama Satgas tidak merasa bangga menembak para DPO tersebut, justeru merasa prihatin karena merupakan tindakan penegakan hukum. Makanya katanya, akalu menyerahkan diri maka tidak aka nada lagi pertumbahan darah. (wan/afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here