Sertifikasi Rotan Lestari Hutan Desa Namo Diharap Jadi Model

0
539

SIGI – Desa Namo, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi yang memiliki kawasan Hutan Desa (HD) telah menjadi kawasan uji coba sertifikasi Rotan Lestari (Roles) sejak 2015 lalu. Bahkan saat ini, uji coba tersebut telah melakukan panen rotan dan hasilnya dipasarkan hingga ke Surabaya dan diharapkan bisa menjadi model panen rotan lestari di Indonesia.

Ketua Perkumpulan Inovasi Komunitas (Imunitas), Shadiq yang menjadi penggerak uji coba itu menjelaskan, Roles merupakan skema penjaminan partisipatif dari pihak pertama dan kedua atas legalitas dan kelestarian produksi rotan di Indonesia.

rotan lestari-3Inisiatif Roles merupakan kerjasama antara NTFP-EP, AOI dan Yayasan Setara yang melihat kecenderungan tuntutan pasar dunia di masa depan yang mempertimbangkan aspek legal dan kelestarian produksi untuk setiap produk rotan yang dijual baik dalam bentuk barang jadi maupun setengah jadi.

Kecenderungan tersebut muncul di dua wilayah importir rotan besar dari Indonesia yaitu Amerika Utara dan Uni Eropa.  Kecenderungan pasar tersebut baru dijawab oleh satu negara exportir rotan yaitu Laos melalui sertifikasi rotan dengan menggunakan skema FSC.

Di desa Namo sebutnya, terdapat Hutan Desa yang di tetapkan oleh Menteri Kehutanan No.SK.64/Menhut-II/2011 dengan luas + 490 ha Dan Hak Pengelolaan Hutan Desa dari Gubernur Sulawesi Tengah 522/59/DISHUTHD-G-ST/2013 pada tanggal 25 Januari 2013 (HPHD).

Dengan diterbitkannya HPHD, maka masyarakat telah memperoleh legalitas untuk mengelola dan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK), dan hasil hutan kayu secara terbatas (bahan/material fasilitas umum).

“Namun sayangnya, hingga tahun 2015, keberadaan HD belum terkelola dengan baik sehingga dampak ekonomis yang diharapkan belum dapat dinikmati,” terangnya, Kamis (12/5/2016).

Salah satu potensi terbesar di dalam HD Namo yang berbentuk HHBK adalah rotan.  Terdapat lebih dari 10 jenis rotan, dan diantaranya merupakan rotan komersial antara lain rotan batang, lambang, noko dan tohiti.

rotan lestari-2Seiring dengan diterbitkannya Permendag No 35 Tahun 2011 tentang tata niaga ekspor rotan, praktis banyak industri primer di kota Palu gulung tikar.  Situasi tersebut berdampak tidak adanya lagi aktivitas pengolahan rotan di desa Namo.  Hingga akhirnya akhir tahun 2015, Non Timber Forest Product – Exchange Program (NTFP – EP) atau Yayasan Pengembangan Sumber Daya Hutan, melakukan pengembangan uji coba program sertifikasi skema Participatory Guarantee System (PGS) panen rotan lestari (ROLEs).

Tujuan program tersebut adalah membangun model panen rotan secara lestari, dengan skema sertifikasi penjaminan secara partisipatif.  Sehingga sumber daya hutan (rotan) dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.

Dan yang lebih penting lagi menurutnya, terbangunnya mekanisme pasar rotan yang transparan antara hulu (produsen/perotan) dan hilir (konsumen produk), yang pada gilirannya masyarakat atau petani rotan Namo memperoleh pendapatan yang lebih baik daripada mekanisme pasar konvensional.

Kriteria dasar sebagai prasyarat utama pelaksanaan uji coba program adalah keterpenuhan legalitas, yang meliputi; legalitas kawasan  (Hutan Desa), Legalitas perizinan (IPHHBK-HD), Pajak PSDH, Faktur Angkutan HHBK-HD, dan Industry Primer.

Untuk melaksanakan program tersebut Non Timber Forest Product-Exchange Programe bekerjasama dengan Imunitas yang bekerja untuk issue perhutanan sosial, pemberdayaan masyarakat dan kebencanaan.  Melalui berbagai aktivitas lapangan, terbentuklah sebuah unit pengelola rotan HD yang di SK kan oleh Kepala Desa.

Unit Pengelola Rotan Lestari desa Namo atau Unit Pengelola ROLEs Namo bertugas dan bertanggung jawab untuk tata kelola panen rotan secara lestari, sekaligus menjadi organisasi penjamin bahwa rotan yang dipanen memenuhi standar lestari.

Ia mengaku, selama periode Maret-April 2016, rotan yang dipanen secara lestari dari HD Namo sebanyak 20.923 ton yang terdiri atas jenis rotan batang 18.075 ton, lambang 696 ton, 263 ton dan tohiti 1.889 ton.

Uji program juga bekerjama dengan UD. Fajar Baru sebagai industry primer pengolah rotan.  “Peran UD. Fajar Baru sebagai pengolah rotan mentah menjadi rotan setengah jadi dan melakukan pengiriman hingga gudang di Surabaya atau Cirebon,” imbuhnya.

Pada proses ini jelasnya, setiap tahapan proses pengolahan di industri unit pengelola Roles Namo diberikan keleluasaan oleh UD. Fajar Baru untuk memantau dan mencatat hasil setiap tahapan.

Pencatatan yang dilakukan oleh Unit pengelola ROLEs Namo, meliputi perencanaan panen, inspeksi panen, hasil komisi persetujuan/standar, hingga proses-proses pengolahan rotan di industry.  Pencatatan merupakan instrument pokok dalam skema sertifikasi PGS.  Sehingga keterlacakan asal usul (CoC) setiap batang rotan dapat dipantau sejak hulu (produsen) hingga hilir (konsumen akhir).

“Sebagai program uji coba, tentu saja belum berjalan dengan sempurna.  Perlu evaluasi dan keterlibatan stakeholder untuk membenahi skema tersebut, sehingga diharapkan pola tersebut dapat diperluas bahkan menjadi model panen rotan lestari di Indonesia,” tambah Iben, Penghubung NTFP-EP Palu / volunteer Perkumpulan Imunitas. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here