3.000-an Mahasiswa Untad Angkatan 2009 dan 2010 Terancam DO

Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof Dr Sutarman Yodo SH MH.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof Dr Sutarman Yodo SH MH.

PALU – Sekitar 3.000-an mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) terancam akan Drop Out (DO) jika dalam waktu yang ditentukan tidak segera menyelesaikan kuliah. Pihak Untad pun terus mencari cara agar mahasiswa yang jumlahnya cukup banyak itu bisa diselamatkan.

Pimpinan Untad menggelar rapat yang dipimpin Wakli Rektor Bidang Akademik, Prof Dr Sutarman Yodo SH MH pada pekan lalu. Dalam rapat itu terungkap bahwa penyebab kelambatan penyelesaian studi mahasiswa yang terancam DO secara umum bukan karena kemampuan akademik, melainkan ketidaksungguhan dalam memanfaatkan waktu.

Banyak katanya di antara mahasiwa itu yang cerdas, namun karena selama memprogramkan suatu mata kuliah, mahasiswa bersangkutan hanya masuk kuliah satu atau dua kali, dan selebihnya sudah tidak pernah muncul dengan berbagai alasan.

Selain itu, ada pula mahasiswa yang tidak mendaftarkan diri dua semester berturut-turut tanpa mengurus cuti akademik sehingga secara sistem, waktu yang terbuang itu tetap diperhitungkan sebagai masa studi karena tidak ada pemberitahuan atau data konkrit yang menjelaskan keberadaan atau status cuti yang bersangkutan.

Prof Sutarman mengatakan, selain melakukan cara akademik, beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti identifikasi dan membuat cluster jumlah berapa banyak yang bisa diselamatkan dan berapa yang sulit untuk diselamatkan.

“Bagi yang masih berpeluang, segera dipacu agar dapat menempuh ujian meja paling lambat 30 Juni 2016 untuk angkatan 2009 dan 30 Juni 2017 bagi angkatan 2010,” sebut Sutarman.

Bagi mahasiswa yang sudah tidak dimungkinkan untuk diselamatkan lagi, maka pihak Untad akan segera mengirim surat kepada orang tua masing-masing. Selain itu juga memanggil mahasiswa bersangkutan untuk segera mengurus surat pindah.

“Kembali saya tekankan agar diurus sebelum 30 Juni 2016 bagi angkatan 2009 dan sebelum 30 Juni 2017 bagi angkatan 2010,” ujar Sutarman yang juga Guru Besar Fakultas Hukum ini.

Sementara itu, Tim UPT TIK juga menyampaikan bahwa khusus untuk mahasiswa angkatan 2010, tercatat masih ada 30 sks atau 18 mata kuliah yang belum lulus. Artinya, mahasiswa yang bersangkutan sulit untuk diselamatkan meskipun dipaksa dalam waktu dua semester tersisa.

Tidak hanya itu, dalam rapat tersebut disepakati bahwa mahasiswa yang sulit meneruskan studinya tersebut akan diundang dan disampaikan melalui laman Untad di www.untad.ac.id karena banyak mahasiswa yang alamatnya sudah tidak jelas atau pindah berulang kali sejak terdaftar sebagai mahasiswa pada 6 atau 5 tahun silam.

“Dengan termuatnya di laman Untad www.untad.ac.id nanti, diharapkan agar keluarga dan sahabat mereka bisa segera menyampaikan kepada mahasiswa bersangkutan. Siapa tahu masih ada kesempatan untuk menuntaskan pendidikannya di saat sudah injury time,” harap Prof Sutarman.

Ia mengimbau kepada seluruh pimpinan hingga di tingkat fakultas untuk dapat memberikan perhatian lebih kepada mahasiswa yang terancam di DO agar dapat diselamatkan.

Sementara itu, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP) Untad, Rudy Gosal SE MSi, menuturkan jumlah mahasiswa yang tercatat sampai semester genap tahun ajaran 2015/2016 untuk angkatan 2009/2010, dan 2010/2011 berjumlah kurang lebih 3.000 mahasiswa.

Data tersebut, juga dibenarkan Kepala UPT TIK Untad, Dr Nurhayadi MSi. Ia mengatakan sedang dalam analisis antara yang masih berpeluang diselamatkan hingga 30 Juni 2016 untuk angkatan 2009/2010, dan 30 Juni 2017 untuk angkatan 2010/2017.

Pembahasan mahasiswa yang terancam DO itu didasari Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Permenristek Dikti) nomor 44/2015 pasal 16 ayat (1) poin (d) yang menegaskan tentang masa studi mahasiswa jenjang Strata Satu (S1) tidak boleh lebih dari tujuh tahun. (afd/untad.ac.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here