Musawwir Lolos Bawa Kelor ke Depan Barrack Obama

0
161

KELOR banyak tumbuh di Palu, dan buat orang Palu memiliki makna historis dan juga ada anggapan sedikit mistik. Namun bukan itu yang akan diketengahkan oleh Musawwir Muhtar, melainkan perlakuan yang diberikan sehingga kelor itu bernilai ekonomis yang tinggi.

Kelor itu pula yang dibawa oleh Musawwir hingga lolos dalam seleksi ketat agar bisa mempresentasekannya di depan Presiden Amerika “digdaya” Serikat, Barrack Obama dalam waktu dekat ini.

Musawwir membuat inovasi yakni Moringa biscuit plus (MorBi+), yaitu produk biskuit yang terbuat dari daun kelor sebagai upaya untuk mengatasi gizi kurang dan gizi buruk di kalangan balita miskin. Visi MorBi+ yakni memberikan solusi yang berkelanjutan dengan mengusung tema kewirausahaan sosial melalui pemberdayan perempuan di daerah pedesaan yang selanjutnya berdampak pada tingkat pendapatan mereka.

“Awalnya kami melihat daun kelor hanya dijadikan pakan ternak, kemudian kami melakukan observasi dan menemukan daun kelor hanya sebatas dimanfaatkan manusia untuk menambah air ASI bagi ibu menyusui dan rebusan airnya untuk membersihkan mata. Makanya kami melakukan studi literatur dan analisa di labolatorium untuk mengetahui nutrisi yang terkandung dalam daun kelor,”ujarnya.

Dari situ, ia bersama timnya kemudian melakukan penelitian-penelitian sehingga menghasilkan berbagai hasil derivative dari peneiltian itu yang kesemuanya berbahan kelor. Berbagai penghargaan telah diperoleh dari inovasi tersebut hingga akhirnya mengikuti kompetisi the GIST Tech-I Competition, Science and Technology yang pesertanya dari seluruh dunia.

Kompetisi itu sangat berat karena harus melalui mekanisme voting melalui online. Tapi syukur katanya, sejak dibuka vote itu awal April lalu, cukup banyak yang menggulkannya sehingga lolos dalam 15 besar finalis yang akan presentase di depan Barrack Obama. Ia satu-satunya wakil Indonesia dan akan bersaing dengan peserta muda lainnya dari belahan bumi lainnya.

Tapi terlepas dari ruang presentasenya di depan Barrack Obama, pertanyaannya adalah siapa Musawwir Muhtar ini? Jika disearch di om goggle, cukup banyak link yang mengetengahkan nama anak muda inovatif ini.

Musawwir tidak lahir di Palu, tapi cukup kenal Palu. Ia lahir di dusun Rammang-Rammang, desa Salenrang, kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Terlahir dari keluarga miskin, ayahnya adalah seorang buta huruf yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan sedangkan ibunya hanya menamatkan sekolah hingga sekolah dasar.

Walau kemiskinan membelitnya, Musawwir kecil tetap bertekad untuk terus bersekolah, hingga akhirnya berhasil melalui jenjang mulai SD, SMP, SMA semuanya di Maros dan Perguruan Tinggi, tepatnya di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Mengalami masa-masa kuliah, waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal inovatif. Ia tercatat sebagai mahasiswa yang inovatif. Ttahun 2013 lalu, Musawwir didaulat sebagai team leader delegasi Indonesia dalam ajang bergengsi Barilla Center for Food and Nutrition, Young Earth Solution (BCFN-YES) 2013 yang diselenggarakan oleh Food and Agricultural Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) di Bocconi University Milan, Italy.

Bersama timnya, Musawwir mengusung ide “The Miraculous Moringa” atau keajaiban daun kelor. Daun kelor yang memiliki kandungan nutrien yang kompleks.

Berdasarkan hasil analisanya, ia menemukan dalam per 100 gram daun kelor, daun kelor mengadung potasium lebih banyak dari pisang, vitamin A yang lebih banyak dari wortel serta vitamin C yang lebih besar dari jeruk.

Tim Musawwir merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia yang  berhasil lolos dalam 10 besar tersebut bersama tim dari negara lain antara lain Amerika Serikat, Polandia, Nepal, India, Bangladesh, Kanada, Taiwan, dan Italia. Musawwir mengatakan meskipun winning idea dimenangkan  tim dari Bangladesh, namun tim Indonesia mendapatkan standing applause dari semua penonton yang hadir.

Tak hanya menginspirasi anak muda Indonesia melalui inovasi dan riset, Musawwir juga berhasil menyabet gelar Cumlaude dan menjadi valedictorian mahasiswa terbaik Fakultas Peternakan periode Desember 2014 dengan IPK 3.67, masa studi 4 tahun.

Selepas itu, ia mendapatkan beasiswa dan saat ini sedang mengikuti program International Europen Double Master Degree Program di Wageningen University, Netherlands dan Aarhus University, Denmark.

Berkat motivasinya membangun ekonomi kreatif melalui inovasi dan riset, Musawwir telah menapakkan kaki ke 15 negara di Asia, Eropa dan Amerika tanpa biaya sepeserpun.

Terakhir dia mewakili Indonesia dalam perumusan draft Youth Manifesto 2015 dalam bidang pangan di World Exhibition Expo di Milan Italia dan diundang langsung oleh the Ministry of Agriculture Itay, Maurizio Martina ke markas European Union.

Selain itu dia menginisiasi project BEYOND ASEAN sebuah program pelatihan dibidang mitigasi bencana yang dilaksanakan di Indonesia dan Filipina pada bulan Juni 2015.

(afd/dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here