Derita Warga Togo Morut, Setelah Banjir, Kini Kesulitan Air Bersih

0
114

KOLONODALE – Keprihatinan tertuju kepada warga Desa Togo Mulya, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah. Setelah terendam banjir sejak sebulan terakhir yang menyebabkan ekonominya lumpuh, kini deritanya bertambah  dengan krisis air bersih.

Warga mengisi jeriken dengan air yang diperoleh dari pipa air yang terendam banjir. (foto: Ale/moriwana.com)
Warga mengisi jeriken dengan air yang diperoleh dari pipa air yang terendam banjir. (foto: Ale/moriwana.com)

Warga yang masih bertahan di rumah mereka, terpaksa harus mandi dari genangan air kotor. Sedangkan untuk kebutuhan masak dan air minum mereka harus bersusah payah mencari air dari pipa air bersih yang telah terendam banjir.

Dilansir moriwana.com, Senin sore (25/4/2016), sejumlah warga terpaksa nyemplung ke kedalaman satu meter untuk mencari ujung pipa lalu dimasukan ke tempat penampungan yang disusun di atas perahu. Pemandangan seperti ini terjadi setiap hari sejak banjir merendam daerah itu.

“Ya, seperti ini pak. Mau apa lagi. Kalau gak berusaha seperti ini, ya gak masak,” ujar Wayan Parwati, warga Dusun II yang sedang mengisi air di jeriken seperti diberitakan moriwana.com.

Meski permukaan air sempat surut selama tiga hari terakhir, namun kawasan pemukiman warga Desa Togo Mulya kini masih terendam air antara satu hingga dua meter.

Saluran air bersih yang masuk di Desa Togo berasal dari sumber air Desa Tiu, dengan panjang pipa sekitar 20 kilometer dari sumber air. Pipa distribusi belum sampai ke rumah warga sehingga mereka harus berjalan cukup jauh di ujung kampung tempat pipa tersebut berada.

“Itu pun kalau musim kering. Kalau kondisi banjir seperti saat ini kita harus naik perahu dan berisiko tenggelam. Kami susah betul saat ini,” keluh Habil. Ia mengaku sudah tiga kali merasakan banjir besar selama berada di Togo yakni tahun 2002, 2010 dan 2016 ini.

Meski dikepung banjir, sebagian warga Togo masih bertahan menjaga rumahnya dengan alasan untuk menjaga harta benda dan ternak yang masih bisa diselamatkan. Mereka kini hidup terisolasi karena untuk masuk ke wilayah itu hanya dengan menggunakan katinting (motor tempel) dengan tarif Rp10.000 per orang dari jembatan Sungai Laa.

Relawan menggunakan perahu motor untuk menembus wilayah yang terisolasi akrena banjir. (foto: Tim Medis AXIS FKIK Untad)
Relawan menggunakan perahu motor untuk menembus wilayah yang terisolasi akrena banjir. (foto: Tim Medis AXIS FKIK Untad)

Kendaraan roda dua dan roda empat benar­benar lumpuh sejak sebulan terakhir. Jalan raya yang biasanya ramai dilalui kendaraan sepeda motor dan mobil kini hanya bisa dilalui perahu katinting.

Sekretaris Desa Togo Mulya, Matius Sonda, mengakui masalah air bersih memang menjadi persoalan serius selama ini. Jangankan pada musim banjir seperti sekarang ini, pada musim kering saja juga jadi masalah karena pipa air kecil dan belum sampai ke rumah penduduk.

Ia berharap agar pihak pemerintah yang menangani masalah bencana alam untuk ikut memikirkan bagaimana cara distribusi air bersih ke rumah­rumah penduduk yang terkepung banjir saat ini. Masalahnya, banyak penduduk yang tidak bisa bebas keluar­masuk rumahnya karena air cukup dalam.

“Masih banyak warga kami yang tidak mengungsi dan memilih bertahan di rumah karena menjaga barang­barang dan ternak mereka. Mereka ini harus dibantu suplay air bersih,” kata Sekdes Matius, Selasa (26/4/2016). Dia sendiri dan keluarganya ikut mengungsi bersama warga lainnya di Balai Desa Maralee.

Warga Desa Togo berjumlah 308 kelapa keluarga (KK) atau 1.117 jiwa. Sampai saat ini warga yang mengungsi akibat banjir besar itu berjumlah 69 KK atau 189 jiwa. Mereka diinapkan di Balai Desa Maralee, Kecamatan Petasia Barat.

Banjir besar mulai merendam Togo pada 25 Maret 2016. Warga kemudian mengungsi pada 6 April lalu. (moriwana.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here