8 Komunitas Dibina Untuk Jadi Diplomat Perdamaian

PALU – Universitas Tadulako (Untad) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Diplomasi Budaya Damai pada Generasi Muda.

Kegiatan ini digelar pada 17 sampai dengan 20 April 2016 di Hotel Mercure Palu itu diikuti oleh 100 peserta yang merupakan perwakilan dari 8 komunitas. Ke-8 komunitas itu adalah komunitas Islam Poso, komunitas Kristen Poso, komunitas Hindu Bali, komunitas pemuda Tawaeli, komunitas pemuda-pemudi Kulawi, komunitas Kaili Tara, komunitas Nunu, dan komunitas Tavanjuka.

Ketua Panitia, Dr H Lukman Nadjamuddin MHum menyebutkan, para peserta yang mewakili komunitasnya itu telah berikrar menjadi agen perdamaian di tempatnya masing-masing, baik di kampus, maupun di komunitas dan daerahnya.

“Kegiatan ini bertujuan membentuk mahasiswa Untad dan pemuda Sulteng menjadi diplomat perdamaian. Ke depan, mahasiswa Untad dan pemuda Sulteng harus berada di garda terdepan sebagai agen perdamaian,” jelas Dekan FKIP Untad.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Najamuddin Ramli mengatakan, para peserta bimbingan teknis diplomasi budaya harus membudayakan sikap damai di daerah masing-masing.

“Tidak boleh tidak, setelah dibekali maka peserta memiliki kewajiban untuk mengaplikasikan materi dan teori yang telah didapatkan selama empat hari pada bimtek diplomasi budaya tersebut,” ungkap Najamuddin Ramli.

Materi yang disampaikan dalam Bimtek itu beragam seperti cara berkomunikasi, kebudayaan, dan ketadulakoan. Rektor Untad, Prof Dr Ir Muhammad Basir Cyio SE MS. Prof Basir Cyio berkenan member materi tentang Kompetensi Komunikator dalam Komunikasi Budaya.

Menurut Prof Basir, para pemuda harus memiliki kompetensi untuk menyinergikan keduanya. Hal itu dilakukan agar apa pun masalah yang dihadapi dapat diselesaikan dengan santun dan bermartabat.

“Perbedaan yang ada harus dipahami sebagai dinamika kehidupan. Tidak boleh kita terus-terusan memikirkan perbedaan itu. Begitu pun dengan pendapat kita, tidak boleh kita memaksakan pendapat karena ada pendapat orang lain yang harus kita dengarkan,” jelas Prof Basir seperti dikutip dari untad.ac.id.

Selain Prof Basir Cyio, pemateri lain yang menyampaikan paparannya adalah Drs H Syamsuddin H Chalid MSi, Prof Dr Sulaiman Mamar, dan Prof Mery Napitupulu. Peserta kegiatan yang terdiri atas 100 pemuda itu banyak mengajukan pertanyaan, terutama dalam berkomunikasi untuk menciptakan perdamaian di dalam komunitasnya. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here