Kapolri akan ke Poso, Evaluasi Operasi Pengejaran Santoso

JAKARTA – Pengejaran kelompok Santoso di hutan Poso hingga kini belum membuahkan hasil. Karena itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti akan turun langsung ke Poso untuk melakukan evaluasi terhadap operasi keamanan bersandi Tinombala 2016.

“Saya mau ke sana, evaluasi. Karena evaluasi biasa dilakukan,” kata Badrodin, Senin (11/4/2016) seperti dilansir cnnindonesia.com.

Kata Badrodin, evaluasi itu akan dilakukan paling tidak pekan depan dalam rangka mengefektifkan operasi yang sudah berlangsung sejak Januari itu.

Santoso lanjutnya masih bisa terus menghindari kejaran aparat hingga hari ini. “Ini tidak mudah seperti yang diharapkan,” ujarnya.

Menurutnya, belum ada rencana penambahan pasukan gabungan dalam operasi yang juga melibatkan TNI dan totalnya mencapai 3.000 pasukan itu.

Operasi Tinombala dilaksanakan menggantikan operasi Camar Maleo yang digelar dalam empat jilid pada 2015 lalu. Meski gagal menangkap Santoso, operasi ini berhasil melumpuhkan salah satu anak buahnya, Daeng Koro.

Santoso ditetapkan sebagai salah satu buron paling dicari polisi karena diduga bertanggungjawab atas serangkaian aksi teror satu dekade terakhir. Selain itu, dia juga diduga berkaitan erat dengan kelompok radikal di Filipina.

“Berdasarkan senjata yang digunakan, kelompok Santoso ini dipastikan erat kaitannya dengan kelompok radikal di Filipina. Beberapa orang anggotanya pernah berlatih strategi perang di sana,” kata Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Rudy Sufahriady.

Sebelumnya cnnindonesia.com juga melansir pernyataan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan yang mengatakan Santoso berencana memberontak seperti bangsa Moro di Filipina. “Poso mau dijadikan semacam Moro, dijadikan pusat pergerakan ISIS di Asia,” kata Anton.

Polri, kata Anton, sudah mendapatkan dokumen yang membuktikan rencana Santoso itu. Oleh karena itu Polri melakukan operasi besar-besaran untuk memburu kelompok teror tersebut.

Santoso sendiri saat ini masih dikelilingi oleh sekitar 30 orang, termasuk istrinya. Dia dan anak buahnya dipercaya bersembunyi di pegunungan Poso yang sulit dijangkau. (afd/cnnindonesia.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here