Mengeksplore Kearifan Lokal Lewat Lakon Ganogo

0
248

SIGI – Ganogo dalam etimologinya berarti kawasan berdiam atau tempat bermukim, atau suatu tempat dimana terdapat sebuah sistem yang secara harmonis mengatur kehidupan di dalamnya. Heterogenitas di dalamnya tidak menjadi masalah serius ketika kearifan lokal menjamahnya.

Konsep itulah yang coba dikejawantahkan oleh Sanggar Seni Buvu Sopi dalam pentas mandirinya di Desa Kotapulu, Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (10/4/2016) malam.

Menurut Ketua Sanggar Seni Buvu Sopi sekaligus pengide cerita itu, Surya, konsep Ganogo itu cukup relevan untuk diangkat dalam konteks kekinian.

“Faktanya adalah bahwa saat ini hampir tidak ada lagi tempat yang berdiri sendiri, dalam arti dihuni oleh hanya komunitas tertentu, homogenitas menjadi sesuatu yang muskil,” sebutnya usai pementasan itu.

ganogo-2
Salah satu bagian dari lakon Ganogo. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Maka Ganogo sebutnya adalah konsep yang mengeksplore kearifan lokal yang dalam implementasinya berperan sebagai pilar pengatur dan pemersatu.

Pentas itu seperti mengobati kerinduan para pementas yang cukup lama tak berkolaborasi dalam lakon “melawan manja”.

Warga berduyun-duyun mendatangi pertunjukan yang digelar tepat di jantung desa itu. Penataan artistic dengan desain rumah-rumah adat tambing sangat memesona mata. Sajian kuliner tradisional yang menyertainya makin mengentalkan silaturahmi bagi para pengunjung.

Tak hanya itu, venue yang berlokasi di halaman rumah warga itu ditata sedemikian rupa seolah berada dalam sebuah inklusi Ganogo yang paripurna. Di dalamnya ada handycraft outlet, ada pula ruang baca dengan literature penambah wawasan.

“Saya bangga, karena dengan (pertunjukan) ini mengisyaratkan bahwa ternyata semangat berkesenian itu masih terpatri di dada teman-teman. Sayu salut itu,” ujar Ketua Dewan Kesenian Sigi (DKS) Jumadi.

Ais Sugali, salah seorang seniman asal Sigi juga mengapresiasi pementasan itu. Menurutnya, kreativitas itu tidak boleh mati hanya karena ketiadaan sarana. “Konsep Ganogo ini mengajari kita bagaimana kearifan lokal itu bisa menghidupkan sesuatu yang seharusnya hidup,” sebutnya.

Sementara itu, penggagas Talu Art – Izat Gunawan memberi jempol atas petunjukan tersebut. Kata Izat, Ganogo yang dipentaskan oleh Sanggar Seni Buvu Sopi menjadi menjadi satu lompatan baru bagi usaha berkesenian, terutama di Sigi.

Talu Art menurut Izat adalah wahana untuk menyemangati seni tersebut. Jika Sanggar Seni yang ada di Sigi sudah mampu berkesenian dengan semangat kemandirian dan “tanpa manja” maka dirinya mengaku berarti misi Talu Art sudah tercapai dan dengan demikian tidak diperlukan lagi. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here