Home Indeks Albar Alidrus, 22 Tahun Membina Muallaf Karena Amanah

Albar Alidrus, 22 Tahun Membina Muallaf Karena Amanah

HAMPIR 22 tahun berlalu, Albar Alidrus membina puluhan Kepala Keluarga (KK) muallaf. Muallaf adalah orang yang beragama non Islam berpindah memeluk agama Islam. Sejak tahun 1994, ia telah melakukan pembinaan bagi 70 KK muallaf, warga Dusun IV Desa Rarampadende, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

“Ketika itu, mereka sendiri yang meminta kepada saya untuk melakukan pembinaan itu,” ungkap Albar Alidrus seperti dilansir Media Alkhairaat.

Ia menceritakan, kala itu dirinya berkunjung ke Desa Rarampadende, selaku ketua Remaja Islam Masjid (Risma) di kompleks masjid perumahan Gubernur Sulteng. Dalam kegiatan Tour Dakwah itu, program awal di dusun adalah mengadakan pipanisasi ketersediaan air bersih.

Setelah pekerjaan selesai, ia melanjutkan program pembangunan Mushalla seluas 4×4 meter. Kemudian beberapa bulan kemudian, pihaknya kembali merenovasi Mushalla, menjadi seluas 12×12 meter yang dilengkapi dengan sarana MCK, tempat berwudhu dan sarana pelengkap lainnya.

Di dusun yang mayoritas beragama Islam tersebut, ia juga membangun 3 unit MCK yang diperuntukkan untuk umum. Lalu ia kembali membentuk Taman Pengajian Anak (TPA) dengan jumlah santri saat itu mencapai 70 orang.

Selain itu, pihaknya juga melaksanakan kegiatan sosial berupa Sunatan Massal sebanyak tiga kali. Jika ditotalkan sekitar 75 anak yang telah mereka khitan.

Albar mengisahkan, awalnya warga dusun IV, sebagian berasal dari lereng gunung sekitar yang tidak mempunyai agama sama sekali.

“Mereka datang bergabung dan menyatakan masuk Islam, termasuk ada beberapa warga dari desa tetangga yang juga turut masuk Islam ketika itu. Hal dasar yang pertama saya canangkan kepada mereka, yakni pembinaan akhlakulkarimah terlebih dahulu “ ujarnya.

Albar mengatakan, seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, maka ia pun  merenovasi masjid yang kemudian diberi nama Uswatun Hasanah. Sementara soal anggaran yang dibutuhkan sekiar Rp400 juta.

Dia menyebutkan, sampai saat ini kondisi masjid itu tetap aktif, dengan berbagai kegiatan keagamaan termasuk perayaan hari besar Islam.

“Ini adalah  jalan yang telah digariskan oleh Allah kepada saya, untuk bisa termotivasi dengan melihat kondisi kehidupan saudara-sudara kita yang sangat memprihatinkan,” tuturnya.

Terkait hal itu, Imam Masjid Uswatun Hasanah, Lukman hakim mengatakan bahwa dirinya, telah mengabdiakn diri di mesjid itu sejak tahun 2002.

“Selama proses pembangunan mesjid ini, dahulu selalu mendapat respon dari masyarakat hingga kini para jemaah tetap antusias melakukan ibadah” terang Lukman yang sebelumnya bernama Luther Rundu.

Selain itu, motivasi lainnya untuk memeluk agama Islam dikarenakan perkawinan. Sebagian warga kemudian memeluk agama Islam dikarenakan kawin-mawin, seperti pria asal Desa Balumpewa yang mayoritas non muslim, mengawini wanita asal Rarampadende yang kemudian memeluk agama Islam, sehingga penduduknya terus berkembang.

Menurut Lukman, walaupun warga Dusun IV yang merupakan wilayah tapal batas antardesa, namun hingga kini, hubungan antara kedua desa tetangga itu tetap baik dan damai.

“Pada dasarmya, penduduk kedua daerah ini saling memiliki hubungan keluarga dan masih serumpun. Alhamdulillah sampai saat ini kedua desa tidak pernah berselisih dan semoga akan selalu seperti ini adanya,” tutup Albar.

Saat ini, keadaan dan situasi masyarakat dusun tersebut masih cukup memprihatinkan dan memerlukan bantuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten sigi. (sumber: Media Alkhairaat)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version