Turun Temurun, Agus Dg. Bong Jalani 30 Tahun Berjualan Kue Buroncong

0
138

BURONCONG adalah nama salah satu jenis kue khas di Kota Makassar. Kue ini memiliki rasa yang gurih, bentuknya seperti busur atau setengah lingkaran dan mirip dengan kue pukis. Buroncong ini agak mulai  jarang  ditemukan karena sudah tidak banyak orang yang menjualnya.

Agus Dg Bombong adalah seorang penjual buroncong yang tinggal di Bontomanai Kabupaten Gowa. Lulusan SD  ini, harus melanjutkan usaha kedua orang tuanya sebagai penjual buroncong agar  kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi.

Dg Bombong  yang telah berusia 50 tahun ini,  harus menghidupi seorang istri dan tiga orang anak. Istrinya  bernama Manisan Dg Te’ne, anak pertama dari suami istri ini,  sudah menempuh hidup baru, anak keduanya pun  hanya tamat SMA dan anak ketiga masih duduk di bangku SD kelas 5

Pekerjaan menjadi  penjual buroncong telah dilakoni  selama 30 tahun, semenjak ia masih berusia 20 tahun. Agus yang lahir di Tangkeballa ini, harus ikhlas menjalani kerasnya hidup demi menafkahi keluarganya.

Menjadi  menjadi penjual buroncong, harus mengeluarkan modal sekitar Rp. 60.000,- perhari. Itupun ia harus keliling dari kampung ke kampung menjajakkan kue  buroncongnya. Keuntungan yang diperoleh  dari menjual kue itu,  tiap harinya berkisar antara Rp. 40.000,- sampai dengan Rp. 60.000,-.

Adapun bahan yang harus di siapkan guna membuat buroncong yaitu : 1 kg terigu, 1 liter gula, 3 buah kelapa parut, dan air secukupnya. Cara pembuatannya sangat mudah yaitu, semua bahan itu dicampur, lalu aduk sampai merata, kemudian dimasukkan kedalam  cetakan yang telah disediakan.

“Pekerjaan ini yang cocok untuk saya, karena dulu saya sudah coba kerja menjadi  buruh bangunan tapi itu tidak lama. Akhirnya saya kembali menjual buroncong keliling  mengendarai sepeda, walaupun itu harus menguras tenaga dan harus berpanas-panasan, saya akan berusaha agar kebutuhan keluarga bisa terpenuhi”,  ujarnya sambil tersenyum, saat ditemui  Selasa (29/03/2016).

Bapak beranak tiga ini berkeinginan agar anak keduanya bisa kuliah tapi apa daya makan sehari-hari pun kadang kala tak cukup, apalagi jika ia harus menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan tinggi.

Semua orang tua menginginkan anaknya sukses, begitupun dengan  Agus. Tapi, lagi-lagi biaya kuliah mengharuskan untuk menyurutkan niatnya menyekolahkan anak keduanya itu. (Citizen Reporter)

Selviana Dewi, Mahasiswa KPI FDK UIN Alauddin Makassar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here