Balaesang Tanjung Dulu dan Kini

0
163
Muh. Masykur

Oleh: Muh. Masykur

DARI dulu hingga kini belum terlihat lompatan signifikan perubahan di Kec. Balaesang Tanjung. Jika bisa disebut, kondisinya terlihat masih biasa-biasa saja. Bahkan nyaris hampir sama sejak saat sebelum mekar dari wilayah kecamatan induk, Balaesang.

Hampir di semua aspek sisi-sisi vital penunjang kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan, belum nampak nyata memberi arti kegembiraan terhadap warganya. Seperti infrastruktur; jalan, pendidikan, telekomonikasi, listrik dan pariwisata.

Semua itu masih minim dirasakan dan bahkan beberapa diantaranya belum nampak sama sekali kapan bisa mewujud di wilayah kec. Balaesang Tanjung.

Hal tersebut diurai satu persatu oleh masing-masing kepala desa yang turut hadir dalam Reses Anggota DPRD Prov., Muh. Masykur bertempat di kantor desa Malei, Sabtu (26/3/2016).

Adalah Kades Walandano, Kamonji, Rano, Pomolulu dan Malei, serta jajaran Badan Perwakilan Desa (BPD) perwakilan warga se-Kec. Balaesang Tanjung.

Semua hal mereka sampaikan. Dan semua yang disampaikan masalahnya sama. Yakni jalan, listrik yang masih terbatas dan tidak ada jaringan telekomonikasi.

Kesemua hal tersebut setiap tahun termaktub dalam dokumen hasil Musrembang desa dan kecamatan. Namun tetap saja hasilnya nihil, mengecewakan. Ungkapan kekecewaan para kepala desa itu diamini oleh semua peserta yang hadir.

Lantas sampai kapan kami di Balaesang Tanjung ini harus menunggu respon dan langkah kongkrit dari pemerintah daerah, ujar Basuki, Ketua DPC Partai NasDem Kec. Balaesang Tanjung.

“Kurang patuh bagaimana lagi kami sebagai warga negara? Kami disini taat bayar pajak. Kewajiban sudah kami tunaikan. Sekarang kami menuntut tanggungjawab Pemda. Mohon realisasikanlah pembangunan infrastruktur yang mendesak dibutuhkan warga” tegas Basuki.

Sementara, Kades Rano, Samin, menguraikan bahwa selain jalan poros Labean-Manimbaya yang umum sudah diketahui, masih ada tiga poros jalan lagi yang mengitari Balaesang Tanjung. Masing-masing, Poros Manimbaya-Rano, Sivei- Rano dan Kamonji-Rano.

Makanya, kami berharap Pemda Kab. Donggala sudah membuat desain perencanaan pengembangan Kec. Balaesang Tanjung melalui poros jalan tersebut, ujar Samin.

Lebih lanjut Samin menguraikan, betapa potensi yang dimiliki daerah ini cukup strategis. Ada laut dan danau dalam satu hamparan wilayah. Itu jika ingin mendorong potensi pariwisata di daerah.

Kami di sini juga sama seperti warga di daerah lain. Rata-rata memiliki Hand Phone. Tapi nanti bisa difungsikan kalau kami cari signal. Signal di sini liar, selalu hilang-hilang. Kadang tidak dicari, ada muncul, canda Samin.

Menyahuti aneka keluhan dan permasalahan di Balaesang Tanjung, Ketua Fraksi NasDem ini mengajak kepada para pihak, termasuk para kepala desa se-Kec. Balaesang Tanjung agar mulai saat ini tidak lagi bersikap pasif. Kita semua harus pro aktif untuk mendesakkan adanya respon dari para pemangku kebijakan daerah.

Sebab jika tidak, maka yakin saja bapak-Ibu solusi yang diharapkan bakalan lama, atau bahkan tidak terpenuhi apa yang menjadi tuntutan kebutuhan kita, tegas Masykur.

Doronglah Pemkab. Donggala untuk mulai merancang master plan atau tata ruang kecamatan, seperti yang diidekan oleh Saifudin, apara desa Malei. Sehingga jelas siapa melakukan apa dan program apa yang bisa dilakukan untuk menata daerah ini.

Sementara, Sahlan Tandamusu anggota DPRD Kab. Donggala berkomitmen bahwa uraian permasalahan yang terungkap dalam forum reses ini, yang jadi domain kabupaten akan ia tindaklanjuti kepada Pemkab. Donggala.

Tentunya,  ikhtiar dan doa kita bersama sangat dibutuhkan dalam hal ini, tutup Sahlan.

*) Penulis adalah Ketua Fraksi NasDem DPRD Sulawesi Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here