Eclipse Festival di Ngatabaru Sukses Namun Sisakan Masalah

0
288
zhul
Zhulfikar Usman

PALU – Gerhana Matahari Total (GMT) sudah selesai. Kini saatnya melakukan evaluasi terhadap sejumlah kegiatan yang sudah dilangsungkan, salah satunya Eclipse Festival Sulawesi 2016 yang digelar di Desa Ngata Baru, Kabupaten Sigi.

Dalam momentum itu, PT. Interstellar Asia Pacific Bali dan Hasan Bahasyuan Institute (HBI) Palu telah berusaha menyajikan yang terbaik, terutama pertunjukan seni dan budaya dari dalam dan luar negeri, termasuk di dalamnya seni tradisi Lokal dan internasional serta seni musik kontemporer dan pertunjukan karya-karya musik tecno (DJ) oleh Master Musik Tecno dari berbagai negara. Penyelenggara mengakui event itu banyak menuai rro dan kontra.

HBI sebagai Partner kerja lokal, dengan Surat Perjanjian Kerjasama atau MOU selama 1 tahun untuk membantu PT. Interstellar mewujudkan Event ini telah melakukan berbagai koordinasi, baik dengan Pemda Provinsi Sulawesi Tengah, Pemkab Sigi, Pemdes Ngatabaru, DPRD Sigi, Kementerian Pariwisata RI, Dirjen Imigrasi RI, serta pihak keamanan Polres Sigi dan Polda Sulteng.

Koordinasi itu dilakukan dengan harapan dapat membantu Pelaksanaan Festival dengan baik aman dan lancar. “Jika ada masalah-masalah yang kemudian timbul di lapangan, itu sudah diluar kemampuan kami,” ujar Direktur HBI, Zulfikar Usman.

Zhul – demikian ia akrab disapa – menyebut, pembiayaan dari pelaksanaan event tersebut adalah murni dari hasil penjualan tiket yang mulai di buka pada akhir tahun 2014 oleh PT. Interstellar memalui website resmi www.eclipsefestival2016.com.

Di awali dengan penyewaan lahan masyarakat seluas 14 hektar, sebesar 30 juta rupiah, dan setelah itu memulai membersihkan lahan tersebut yang awalnya adalah hutan dan semak belukar yang di dominasi oleh tumbuhan kaktus berbonggol besar dan berbahaya, dengan memberdayakan masyarakat lokal Desa Ngatabaru sebanyak 50 orang laki-laki dengan total upah borongan sebesar 20 juta rupiah dan dilanjutkan dengan pembentukan lahan sesuai konsep design landscap dengan menyewa alat berat berupa Buldozer dan bantuan Exavator dari Pemda Kab. Sigi.

Setelah lahan bersih dan siap, pembangunan sarana event dimulai dengan mempekerjakan masyarakat desa Ngatabaru sebanyak kurang lebih 100 orang dengan upah harian sebesar 50 ribu rupiah selama 2 bulan, dibantu puluhan tenaga volunteer yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri.

Khusus design katanya, dekorasi, artistik pencahayaan di kerjakan oleh seniman-seniman dari Eropa, Amerika dan jepang. Adapun sarana-sarana penunjang event tersebut adalah 3 panggung pertunjukan, restoran/cafe, dome workshop, toilet kompos, tempat mandi dll dengan konsep eco friendly atau ramah lingkungan yang sebagian besar menggunakan bahan-bahan alami seperti bambu sebanyak 6000 batang bambu, rotan, rumbia, ijuk, arang dan serbuk kayu.

Dalam proses pekerjaan pembuatan sarana-sarana event tersebut telah terjalin hubungan kekeluargaan yang sangat harmonis, dimana bertemunya para volunteer dari berbagai negara dengan pekerja lokal Desa Ngatabaru dengan berbagai karakter dan bahasa, namun tidak menjadi kendala yang berarti dalam komunikasi, justru dapat mencair dengan keakraban yang luar biasa.

 

Dikarenakan sesuatu dan lain hal, opening ceremony yang di jadwalkan pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 7 malam tertunda dan pada tanggal 8 Maret 2016 pukul 4 sore opening dimulai yang di awali dengan tarian tradisi dari Sulawesi Tengah yaitu tarian kolosal Raego Kulawi yang seketika merubah suasana menjadi begitu sakral dengan lantunan suara penari raego yang bersahut-sahutan dan mampu menghipnotis bagi mereka yang meyaksikannya. Apresiasi yang luar biasa juga terasa dari pengunjung festival yang sebagian besar adalah tamu dari mancanegara.

Setelah tarian raego kulawi, di lanjutkan dengan tari Manimbong dari Tana Toraja, tarian yang di bawakan oleh para tokoh-tokoh adat dari Tana Toraja ini, menambah suasan menjadi begitu sakral dan magis. Kedua tarian ini menjadi sajian yang sangat menarik perhatian tamu festival mancanegara dengan mengabadikannya lewat video dan foto.

Setiap harinya selama festival begitu banyak acara dan pertunjukan yang di gelar, seperti workshop gerhana oleh DR. Kate Russo, worshop yoga, workshop tenun ikat donggala, workshop pembuatan kain dari kulit kayu, seremony minum teh jepang, excluve screening Film dari Amerika, serta pertunjukan tari dari Korea, Australia, Argentina, dan musik dari komunitas latin, senyawa jogjakarta, wobology dari singapura, dan culture project dari Palu dan masih banyak lagi pertunjukan-pertunjukan menarik  lainnya.

 

Festival yang berhasil mendatangkan pengunjung mencapai 2000 orang tamu mancanegara ini telah berhasil membuat Sulawesi Tengah, Palu, Sigi dan Ngatabaru menjadi terkenal dan mendunia.  Kedatangan 2000 orang tamu dari berbagai negara ini menjadi corong promosi yang dapat mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan mancanegara yang akan berkunjung ke Sulawesi Tengah tentunya dengan target yang berlipat ganda.

Selain itu, meningkatnya devisa Negara dalam waktu singkat dan yang terbesar dari semua event dan daerah yang dilintasi gerhana matahari di Indonesia adalah Eclipse Festival Sulawesi 2016 yang di selenggarakan di Desa Ngatabaru , seperti yang termuat dalam media-media cetak, televisi, online baik lokal, nasional dan internasional.

Menurutnya, adanya kepercayaan dan tawaran dari beberapa Organize Event lainnya yang sempat hadir di festival Ngatabaru baik dari dalam maupun luar negeri yang tertarik dan berkeinginan untuk menyelenggarakan event berikutnya dengan konsep Music, Art & Culture yang berskala Internasional baik di tempat yang sama yaitu Desa Ngatabaru dan beberapa tempat yang berbeda seperti lembah Bada dan Kepulauan Togean.

 

Walau demikikan kata Zhul, dibalik kesuksesan event tersebut, dalam pelaksanaanya mendapatkan berbagai masalah dan kendala yang sangat mempengaruhi pelaksaan event tersebut, seperti ketidakpahaman  masyarakat lokal Palu, Sigi dan sekitarnya terhadap konsep privat event.

Masalah lainnya yakni tidak  adanya pengetahuan sadar wisata bagi masyarakat lokal Palu, Sigi dan sekitarnya, yang mengakibatkan ternganggunya kenyamanan para tamu-tamu festival.

Ribuan katanya masyarakat lokal Palu, Sigi dan sekitarnya memaksa masuk ke dalam area festival pada setiap harinya tanpa mau membeli tiket masuk yang sudah di sediakan khusus untuk masyarakat lokal Palu dan sekitarnya (di luar warga Ngatabaru)

Ia juga menyebut ketidakmampuan aparat keamanan untuk mencegah keinginan masyarakat yang memaksa masuk secara gratis ke area festival dengan alasan untuk menghindari kerusuhan dan kontak  aparat dengan masyarakat.

“Dengan permasalah tersebut telah terjadi lost control dan menimbulkan dampak negative yang sangat serius dalam pelaksanaan event,” sebutnya

Lost control yang dimaksud seperti mengambil foto-foto tamu luar negeri/bule yang sedang mandi di tempat mandi/shower tertutup yang di sediakan panitia dengan cara tidak sopan. Ada pula yang mengambil foto-foto tamu luar negeri/bule yang sedang beristirahat dalam tenda di area kemping dengan cara yang tidak sopan.

Bukan itu saja, sejumlah tamu-tamu tersebut kehilangan beberapa tenda/kemah, handphone, ipad, tas berisi pakaian, uang dan banyak lagi lainnya. Juga kehilangan gelang yang menjadi tiket tanda masuk sebanyak kurang lebih 1000 buah yang nilai satuannya sebesar 1-2 juta rupiah dan jika di totalkan mencapai 1 milyar rupiah.

“Karena Kejadian yang memalukan tersebut tentulah membuat kecewa dan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi penyelenggara kegiatan yaitu PT. Interstellar dan HBI,” ungkapnya.

Kerugian itu seperti  penyelenggara harus menerima sikap marah dan komplain dari tamu-tamu yang dirugikan karena ketidaknyamanan yang mereka dapatkan. Penyelenggara juga dituntut untuk mengganti rugi barang-barang tamu yang hilang/kecurian selama kegiatan festival berlangsung.

Banyaknya sisa-sisa biaya/pembayaran yang tidak bisa diselesaikan oleh penyelenggara yang sebelumnya telah di sepakati bersama, yang akhirnya menajdi hutang bagi penyelenggara, antara lain Biaya produksi penampil tradisi lokal, biaya operasional lokal yang telah terpakai selama proses kerja festival, serta gaji para tenaga kerja lokal dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ia mengatakan, sebagai  Partner Lokal, HBI tidak ingin menyalahkan siapapun karena semua pihak berperan dan bertanggung jawab akan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. “Kami menganggap jika ini telah dianggap sebuah kesuksesan, maka semua bisa berbangga, tetapi jika ini dikatakan sebuah kegagalan maka pihak penyeleggaralah yang harus menanggung malu. Sangat tidak adil..!!!” tandasnya.

HBI katanya sedang menyusun laporan kejadian dan memohon bantuan dan kebijaksaan kepada Pemerintah Daerah untuk dapat membantu menyelesaikan beberapa permasalahan yang  tidak dapat diatasi dan diluar kemampuan sebagai penyelenggara event.

“Dan kami pun mengajak untuk semua element masyarakat, baik seniman, budayawan, mahasiswa, pemuda dll, bisa lebih introspektif dan evaluatif dalam mengambil sikap dan memberi komentar, tidak hanya bisa menyalahkan, menghujat bahkan menjudge kepada pihak penyelenggara yang sudah bekerja keras dalam membangun Festival,” harap Zhul. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here