Areal Tambang Liar Dongi-Dongi Makin Meluas, Janji Penertiban Hanya Gertak Sambal

PALU – Memprihatinkan, luasan areal pertambangan emas yang dilakukan secara liar oleh warga di kawasan Dongi-Dongi Kabupaten Poso yang masuk kawasan hutan lindung makin meluas. Kalau sebelumnya Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) menyebutnya hanya mencakup sekitar 4 hektar, kini semakin melebar menjadi lebih dari angka itu.

Sementara itu, janji pemerintah dan aparat berwenang untuk melakukan penertiban atas tambang liar itu hanya gertak sambal belaka. Buktinya hingga kini, sejak janji itu dilontarkan melalui kesepakatan di DPRD Sulteng pada Kamis (3/3/2016) penertiban itu hanya menjadi “lip service”.

“Ini ada apa dengan pemerintah dan aparat? Ini jelas-jelas salah, koq dibiarkan,” sebut Ali, salah seorang pemerhati lingkungan kepada beritapalu.com.

Sejumlah pemerhati lingkungan menyesalkan makin meluas dan makin berlarut-larutnya kegiatan pertambangan emas liar di kawasan yang secara delik formal itu memiliki kekuatan untuk dilindungi. Lebih disesalkan lagi, sikap pemerintah dan aparat yang sepertinya terkesan “tutup mata” dengan aktivitas tersebut.

Bisa jadi, lambannya atau “acuhnya” pemerintah dan aparat menanganai tambang liar itu karena terkait adanya dugaan keterlibatan aparat di kawasan itu seperti disinyalir oleh Perkumpulan Inovasi Komunitas (Imunitas), Karsa Institute dan SIKAP Institute beberapa waktu lalu (baca: http://beritapalu.com/2016/03/07/duga-keterlibatan-aparat-di-pertambangan-liar-dongi-dongi/).

Gubernur Sulteng Longki Djanggola selaku pemegang otoritas negara di daerah dalam pernyataannya di media juga telah menegaskan akan sesegera mungkin melakukan penertiban di kawasan itu dan mendukung langkah-langkah tegas yang dilakukan oleh aparat termasuk Pemkab Poso yang juga akan bertindak (baca juga: http://beritapalu.com/2016/03/04/longki-tertibkan-penambang-liar-dongidongi/).

Kepala BTNLL, Drs Sudayatna dalam statemennya di media juga akan segera melakukan penindakan. Namun sekali lagi, sebatas janji. Mungkin saja BTNLL butuh waktu yang lebih panjang untuk berkoordinasi dengan pihak lain agar penertiban itu bisa dilakukan (baca : http://beritapalu.com/2016/03/04/segera-tnll-akan-tindaki-penambang-emas-ilegal-di-dongi-dongi/).

Sementara itu, laporan investigasi independen melaporkan, situasi di kawasan pertambangan emas liar di Dongi-dongi itu makin memprihatinkan. Luasan areal tambang makin bertambah dan jumlah orang yang menambang makin banyak dari sebelumnya disebut ratusan kini menjadi ribuan.

Di bagian lain, penertiban yang tidak kunjung dilakukan dimanfaatkan secara nyata oleh oportunis untuk “mengeruk” sumberdaya alam sebanyak-banyaknya, seperti mengintesifkan penambangan, membabat hutan, menarik “upeti” dari penambang liar, dan beberapa bentuk kegiatan yang berpotensi menciptakan pendapatan untuk keuntungan pribadi. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here