Daun Kelor Di Timor Diburu, Di Palu “Tapiaro”

0
236
Daun kelor (Moringa oleifera)
Daun kelor (Moringa oleifera)

PALU – Laman kompas.com dalam tulisannya menurunkan kisah seorang pengusaha asal Jawa Barat, Dudi Krisnadi yang sukses membudidayakan kelor (Moringa oleifera) di Fatukoa, Maulafa, Kupang, NTT hingga diburu pasar mancanegara. Kelor yang diusahakan tersebut diklaim memiliki kualitas terbaik nomor dua di dunia setelah Spanyol.

Menurut Dudi, kualitas kelor asal Timor yang dinilai terbaik itu membuat para pembeli kelor asal Eropa, Australia, Arab Saudi, Korea Selatan, dan China saat ini sedang antre menunggu hasil panen kelor dari Timor, kata Dudi dilansir laman tersebut.

“Hasil penelitian dari sejumlah pihak menyebutkan kalau kualitas kelor Timor yang terbaik di dunia. Inilah yang membuat para pembeli dari luar negeri sudah bersiap menunggu. Saat ini sudah ada permintaan kelor basah dari luar negeri sebanyak 100 ton per bulan, sehingga target kita pada tahun 2016 mendatang kita sudah bisa penuhi permintaan itu,” kata Dudi yang sudah akrab dengan dunia kelor sejak tahun 2001.

Demi mempersiapkan target tersebut, sebagai basis atau inti harus disiapkan sebanyak 1.000 hektar lahan. Sementara untuk plasma di masyarakat akan tersebar dengan sendirinya. Lahan saat ini yang ditanami kelor untuk seluruh Timor Barat baru sekitar 400 sampai 500 hektar dan berpusat di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang.

Kelor Timor unggul karena bisa ditanam di dalam satu kebun yang memiliki hamparan luas (budidaya), sedangkan di daerah lain di Indonesia yang sudah dicoba, tapi tidak berhasil. ”Kalau di tempat lain pertumbuhan kelor sangat lama. Bisa lebih dari satu tahun belum tumbuh bunga dan biji, sementara di Timor baru enam bulan sudah tumbuh biji dan itupun dipangkas daunnya sehingga menurut kita sangat luar biasa. Secara teoritis kalau di daerah Afrika dan India, sembilan bulan baru tumbuh biji, tetapi tidak dipangkas daunnya,” kata dia.

Dudi mengaku, untuk budidaya kelor yang memiliki nilai ekonomis tinggi, belum sepenuhnya direspons dengan baik oleh Pemerintah NTT. Budidaya kelor, kata dia, hanya direspons oleh TNI AD dari Korem 161 Wirasakti Kupang. Dudi berharap pemerintah bisa memberi perhatian serius terhadap tanaman kelor ini sehingga bisa menyejahterakan masyarakat.

Kegunaan dan manfaat daun kelor, kata Dudi, sangat beragam bahkan di sejumlah negara disebut sebagai pohon ajaib karena terbukti secara ilmiah merupakan sumber gizi berkhasiat obat yang kandungannya di luar kebiasaan kandungan tanaman pada umumnya.

“Menurut hasil penelitian, daun kelor mengandung vitamin A, C, B, kalsium, kalium, besi, dan protein dalam jumlah yang sangat tinggi yang mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia. Bahkan jumlahnya berlipat-lipat dari sumber makanan yang selama ini digunakan sebagai sumber nutrisi untuk perbaikan gizi di sejumlah negara,” kata Dudi.

Bahkan, kelor juga mengandung 40 antioksidan dan 90 jenis nutrisi berupa vitamin essensial, mineral, asam amino, anti penuaan, dan anti inflamasi. Kelor juga mengandung 539 senyawa yang dikenal dalam pengobatan tradisional di India dan Afrika serta telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mencegah lebih dari 300 penyakit.

“Tanaman kelor, mulai dari daun, biji, bunga, akar, kulit kayu, dan polong dewasa memiliki kegunaan masing-masing, yakni untuk stimulan jantung, peredaran darah, antitumor, antipiretik, antiepilepsi, antiinflamasi, antiulcer, antipasmodic, diuretik, antihipertensi, menurunkan kolesterol, antioksidan, antidiabetik, kegiatan hepatoprotektifm antibakteri, dan antijamur,” kata Dudi.

Dengan kandungan nutrisi yang demikian komplit, ujar Dudi, kelor menjadi kandidat utama untuk mengatasi masalah kekurangan gizi pada balita, ibu hamil, dan menyusui sehingga cocok untuk daerah NTT yang banyak balitanya kurang gizi.

Bagaimana dengan di Palu? Kalau di Palu kelor bahkan dibiarkan tumbuh liar dan “tapiaro” kata orang Palu. Padahal melihat potensi usaha tersebut sangat memungkinkan untuk dibudidayakan.

“Pemerintah Kota Palu yang baru harus bisa melirik ini sebagai salah satu lahan pengusahaan. Kenapa, karena di Palu sangat banyak kelor dan bahkan jadi ikon sebagai kota Kelor, Lalu kenapa tidak kita usahakan,” sebut Wahidin, pemerhati kelor di Palu.

Paling banter katanya, kebanyakan warga Palu sudah bangga dengan istilah “Kelornya Palu” dan dibuat sayur mayur. Tapi menurutnya itu tak cukup, harus out the box, menjadikan kelor sebagai komoditi yang menghasilkan. Terlebih lahan di Palu masih sangat luas untuk membudiayakannya.

“Ini pekerjaan rumah bagi pemerintahan baru. Kenapa kita tidak mencontoh orang di NTT sana,” tegas Wahidin.

(afd/kompas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here