Negeri Di Atas Awan Itu Namanya Matantimali

0
161

Jadi Destinasi Baru Wisata Pegunungan

NEGERI di atas awan itu di Matantimali, kata Arfan, seorang warga yang baru saja tiba di Palu setelah menuruni lereng pegunungan verbek dalam gugusan gunung Gawalise. Arfan berani berkata begitu, karena ketika berada di kawasan itu, gugusan awan terlihat berada di bawah.

Mantimali sendiri berada di ketinggian sekitar 1.600 mdpl. Kawasan yang belakangan ini ramai dikujungi pada setiap akhir pekan secara administrative masuk dalam teritorial Desa Wayu, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Pemandangannya sangat menakjubkan, kata Arfan lagi. Semburat matahari terlihat jelas ketika muncul dari ufuk Timur. Kabut tipis dan sesekali kabut tebal saban hari ketika sore, malam, dan pagi hari menyelimuti. Tentu saja semilir angin dan suhu yang sejuk akan menambah kenikmatan berada di tempat ini.

Pandangan ke Lembah Palu dari ketinggian sama sekali terlihat polos dari tempat ini. Hijau pegunungan di sisi kiri dan kananya memberi kesejukan tersendiri menatapnya. Belum lagi warga lokal yang cukup ramah bagi para pendatang.

Di malam hari, kerlap kerlip lampu dari kejauhan seperti sedang menggelorakan warganya dalam aktivitas malam.

Atlet mempersiapkan parasutnya untuk terbang paralayang di Matantimali. (Foto: (AntaraFoto)
Atlet mempersiapkan parasutnya untuk terbang paralayang di Matantimali. (Foto: (AntaraFoto)

Tak hanya menyajikan panorama alam dari ketinggian, kawasan yang sudah dipermak sedemikian rupa ini juga menjadi arena bagi para penerjun paralayang. Bahkan oleh beberapa penerjun local, regional, nasional dan bahkan internasional yang telah melakukan uji terbang di tempat ini, mengesankan bahwa Matantimali adalah salah satu arena terjun terbaik di dunia.

Maka bukan hal yang aneh jika tahun 2013 lalu, lokasi ini menjadi salah satu arena kompetisi untuk Kejurnas Paralayang. Bahkan jika tidak terkendala masalah teknis yang seharusnya tak terjadi, lokasi ini sudah ditunjuk oleh federasi olahraga paralayang dunia untuk menjadi salah satu spot bagi kejuaraan dunia paralayang di tahun 2013 lalu.

Penerjun paarlayan dati atas Matantimali. (Foto: AntaraFoto)
Penerjun paarlayan dati atas Matantimali. (Foto: AntaraFoto)

Permak kawasan ini pun sesungguhnya dalam rangka menjadikannya sebagai arena olahraga paralayang. Namun belakangan, minat warga untuk melepas akir pekan di tempat ini cukup besar. Jadilah kawasan tersebut sekaligus menjadi arena ekowisata pegunungan yang kini sudah menerapkan retribusi bagi pengunjung.

Untuk mencapai kawasan yang selalu ramai di setiap akhir pekan ini dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Dari Kota Palu, jaraknya sekitar 30 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 sampai 2 jam melewati Desa Porame dan Balane.

Jalannya berkelok-kelok dengan kondisi mendaki, sebagian jalannya sudah cukup lumayan dengan aspal kasar, sebagian lagi di semen dan sebagiannya lagi berlubang alias aspal kerasnya melepuh. Butuh kehati-hatian ekstra melewati jalur ini karena jalannya cukup sempit sekitar 4 – 5 meter saja.

Jalan menuju Matantimali. Hati-hati.. (Foto: AntaraFoto)
Jalan menuju Matantimali. Hati-hati.. (Foto: AntaraFoto)

Di tempat ini tersedia cottage, tapi jika bermakus menggunakannya harus memesannya jauh-jauh hari karena hanya tersedia dua unit. Ada fasilitas mandi cuci kakus dengan bangunan permanen. Masalahnya hanya di air saja yang tidak ada atau masih sedang diusahakan agar menjadi ada. Menurut warga sektiar, pipa untuk air itu sudah dipasang tinggal menyambungkan dengan sumber air dan mengalirkannya ke bak penumpang di kawasan itu.

Selama pipa air itu belum difungsikan, anda harus membawa air dari rumah sebelum naik ke kawasan itu. Atau dapat pula dengan membeli air dalam kemasan di satu-satunya kios yang ada disitu dengan harga yang tentu lebih mahal dari harga di Palu.

Pengunjung mendirikan tenda menikmati senja di kawasan ekowisata pegunungan Matantimali di Desa Wayu, Kinovaro, Sigi , Sulawesi Tengah, Sabtu (6/2/2016). (Foto: AntaraFoto)
Pengunjung mendirikan tenda menikmati senja di kawasan ekowisata pegunungan Matantimali di Desa Wayu, Kinovaro, Sigi , Sulawesi Tengah, Sabtu (6/2/2016). (Foto: AntaraFoto)

Tak sempurna akhir pekan anda di tempat ini jika tidak menginap. Namun untuk itu harus membawa perlengkapan sendiri seperti tenda, selimut dan alat masak. Tidak ada fasilitas penyewaan tenda di tempat ini. Jangan lupa bawa kantongan plastik untuk menyimpan sampah-sampah yang anda hasilkan. Di tempat ini ada peringatan keras bagi pengunjung untuk tidak membuang sampahnya sembrengen.

Sejalan dengan minat pengunjung untuk mendatangi tempat ini, pemerintah setempat terus berusaha melengkapi fasilitasnya, apalagi dengan ditariknya retribusi. Namun menurut Arfan, hal tak kalah penting adalah jalan menuju kawasan ini yang juga harus diperbaiki. “Ngeri juga melintas jalan menuju Matantimali ini. Jadi  kalau bisa, selain menambah fasilitasnya, jalannya juga diperbaiki,” harapnya.

(beritapalu.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here