Ustadz Adnan Arsal Protes Kantor Berita Reuters

0
173
Pimpinan Pondok Pesantren Amanah Poso Adnan Arsal menunjukkan berita dan foto tentang dirinya yang dilansir Kantor Berita Reuters di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/2/2016).
Pimpinan Pondok Pesantren Amanah Poso Adnan Arsal menunjukkan berita dan foto tentang dirinya yang dilansir Kantor Berita Reuters di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/2/2016).

Seolah Dirinya Tahu Tempat Persembunyian Santoso di Poso

PALU – Pimpinan Pondok Pesantren Amanah, Adnan Arsal mengadukan Kantor Berita Reuters ke Polda Sulawesi Tengah. Kantor berita Inggris itu dinilai telah membuat opini dalam pemberitaannya seola-olah dirinya tahu tempat persembunyian kelompok Santoso di Poso yang kini sedang diburu aparat gabungan TNI dan Polri.

Adnan Arsal kepada sejumlah wartawan di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, Selasa (2/2/2016) mengatakan, dirinya keberatan dengan pemberitaan yang telah dilansir kantor berita tersebut dan telah dikutip sejumlahmedia nasional maupun asing.

Adnan mengaku, pada 19 Desember 2015 lalu dirinya didatangi oleh dua wartawan Reuters tersebut, masing-masing Randy Fabi sebagai wartawan tulis dan Kanupriya Kapoor sebagai wartawan foto. Ia sempat melakukan wawancara dan pengambilan foto di tempatnya di Desa Maengko, Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Hasil wawancara tersebut kemudian diterbitkan oleh Reuters pada 24 Desember  2015.

Dalam tulisan dan foto yang telah diterbitkan itu, Adnan Arsal disebut seolah-olah tahu tempat persembunyian kelompok Santoso. “Ini kan menjustifikasi seolah saya tahu tempat persembunyian Santoso,” kata Adnan sembari memperlihatkan lansiran berita dan foto tersebut.

Foto Adnan Arsal yang dikutip oleh Merdeka.com dari Reuters. (capture from merdeka.com)
Foto Adnan Arsal yang dikutip oleh Merdeka.com dari Reuters. (capture from merdeka.com)

Ia mengutip caption foto yang telah dikutip oleh merdeka.com: “Adnan Arsal, kepala sebuah pondok pesantren di Poso, Sulawesi Tengah (19/12). Pondok pesantren ini berada di tepi hutan, wilayah yang diyakini sebagai tempat persembunyian Santoso beserta jaringannya,” degan byline foto: ©Reuters/Kanupriya Kapoor.

Selain dilaporkan ke Polda Sulteng, Adnan juga mengadukan hal tersebut ke Dewan Pers. Melalui perwakilan ahli pers di Sulteng Ruslan Sangadji, Adnan menyampaikan keberatan tersebut. Ia meminta agar dewan pers memediasi keberatannya tersebut karena tidak saja menyangkut namanya secara pribadi tetapi juga pondok pesantren yang dipimpinnya.

Klarifikasi itu menurut Adnan lebih penting lagi karena saat ini sedang beroperasi keamanan bersandi Tinombala di Kabupaten Poso yang melibatkan TNI dan Polri. “Ini bisa menjadi preseden buruk bagi saya dan pesantren yang saya kelola,” sebut Adnan.

Foto Adnan Arsal yang dikutip oleh news.trust.org dari Reuters. (capture from news.trust.org)
Foto Adnan Arsal yang dikutip oleh news.trust.org dari Reuters. (capture from news.trust.org)

Ia berharap agar dewan pers memediasinya dan meminta agar media tersebut meminta maaf atas kecerobohan yang dilakukannya, baik di media cetak, maupun elektronik serta media online selama tiga hari berturut-turut. “Ini sudah pelanggaran kode etik jurnalistik,” imbuh Adnan.

Sementara itu, Ruslan Sangadji menyatakan, aduan tersebut diterima dan langsung disampaikan ke Dewan Pers di pusat. Ruslan tidak bisa menyimpulkan bahwa telah terjadi pelanggaran kode etik jurnalistik dalam kasus tersebut karena masih akan diplenokan.

“Nanti akan kitalihat setelah dewan pers menyelidiki kasusnya,” sebut Ruslan Sangadji. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here