Sisa Pelabuhan Tua Banawa dan Nelayan Bugisnya

0
215

 

MINGGU pagi, langit di Tanjung Batu tertutup awan tebal. Sehari sebelumnya, pantai yang terletak di jantung kota Kabupaten Donggala itu diguyur hujan lebat. Hanya beberapa gelintir nelayan yang turun melaut. Sebagiannya memilih berisitrahat sembari berharap cuaca di hari-hari ke depan akan lebih bersahabat lagi.

Tak banyak aktivitas yang terlihat di pelabuhan rakyat yang saban hari ramai dengan pembongkaran dan transaksi jual beli ikan itu. Tapi di sudut sebelah utara, sesekali terlihat orang keluar masuk ke gedung mirip hangar pesawat tempur. Konon, bangunan yang seluruhnya dibuat dari seng tebal itu telah berdiri sejak tahun 1897 ketika Belanda masih menguasai wilayah tersebut.

Hangar yang berjumlah tiga buah itu berjejer tidak jauh dari bibir pantai digunakan oleh Belanda untuk menampung kopra-kopra hasil perkebunan paksa sebelum dikapalkan ke Netherland. Dulu, Donggala memang dikenal sebagai salah satu pelabuhan teramai di Sulawesi. Bekas-bekas kejayaan kota ini pun masih terlihat. Seisi kota, hampir semuanya berarsitektur kota tua peninggalan penjajah. Sebelum ibukota propinsi Sulawesi Tengah dipindahkan ke Palu tahun 1995, Donggala adalah pusat pemerintahan.

Hangar itu tampak berwarna coklat kemerahan karena karat. Nelayan setempat tidak bisa berbuat banyak pada bangunan itu, karena kepemilikannya sudah ditangan perseorangan. “Ketika rumah Soekarno di Blitar ingin dijual, pemerintah Blitarlah orang pertama yang mengajukan penawaran. Itu agar pemerintah bisa merawat situs yang bersejarah itu. Tapi kita di sini (Donggala, red) lain. Padahal bangunan ini punya nilai sejarah juga,” ujar salah seorang nelayan.

Di sebelah barat tak jauh dari bangunan itu, tampak sekelompok nelayan sedang asyik bersendagurau di warung milik pak Haji Basri. Warung itu memang menjadi tempat pelarian bagi para nelayan jika tidak turun melaut.

Di warung itu, tak hanya tersedia aneka minuman dan penganan khas, tapi juga sajian topik perbincangan tak berujung, mulai dari cuaca di laut hingga pilkada yang sebentar lagi akan digelar. Perbincangan akan makin ngelantur jika diselingi dengan Sokko (nasi dari beras pulut putih yang dicampur dengan parutan kelapa).

Tua dan muda berbaur di warung itu. Kelompok tua lebih senang meneguk kopi untuk menemani perbincangannya, sedangkan yang muda lebih suka minuman berenergi. Meskipun tak ada jarak antara mereka, namun etika, sopan santun dan limitasi moralitas seorang muda yang berbicara kepada orang yang lebih tua tetap terjaga. “Tabek” ujar seorang anak muda ketika melintas sambil membungkuk di depan seorang tua di depannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.57 Wita, suara adzan dari surau berdinding papan yang jaraknya hanya 10 meter dari warung tersebut berkumandang. Seluruh aktivitas di warung itu terhenti tak terkecuali perbincangan soal Pilkada Donggala. Nelayan yang bergerombol itu bubar dan buru-buru mengganti celana pendeknya dengan sarung yang telah dipersiapkannya untuk salat bersama.

“Eee…. Engkani kappala’na La Baco,” (kapal La Baco sudah datang) teriak seorang pemuda dengan bahasa Bugis kentalnya dari kejauhan. Sontak nelayan-nelayan tadi bergegas ke pantai untuk melakukan penyambutan. “Alhamdulillah, salama’ni” (Alhamdulillah, sudah selamat) – spontanitas nelayan lainnya.

Sejumlah nelayan memang cukup khawatir, nelayan yang melaut dua atau tiga hari sebelumnya sudah tiba di pantai itu sejak pagi hari. Kekhawatiran itu bertambah dengan cuaca yang tidak menentu. Namun mereka lega setelah kerabatnya menampakkan kapal dan dirinya, tentu bersama sejumlah ikan-ikan hasil tangkapannya.

Sesaat kemudian, ikan-ikan tersebut disambut dengan perahu-perahu kecil untuk dibawa ke pantai. Daeng Tapa mulai menghitung-hitung ikan tangkapan. Katanya, tidak sebanyak hari-hari biasanya yang bisa mencapai 40 keranjang, kali ini hanya sekitar 10 keranjang. Transaksi pun langsung dilakukan di tempat. Sejumlah juragan ikan dari daerah sekitarnya menawar. “Tambai cedde, menre’ni harga solar-e,” (tambah sedikit, harga solar sudah naik) – ujar Daeng Tapa.

Nelayan-nelayan tersebut adalah pelaku utama ekonomi di daerah pesisir Donggala terutama di Kecamatan Banawa. Keberadaannya sudah sejak lama, sayang sekali tak ada catatan sejak kapan perantau Bugis-Makassar tersebut sudah mendiami kawasan tersebut. Saking lamanya, komunitas Bugis-Makassar di kawasan itu, jumlah mereka sudah sedemikian banyak dan bahkan bahasa ibu yang digunakan pun adalah bahasa Bugis meskipun sebagian besar di antaranya tak pernah menginjakkan kakinya di daerah bugis di Sulawesi Selatan. ***

Foto dan Naskah: Basri Marzuki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here