Megalit Tertua Itu Ada di Lembah Besoa, Poso

0
204

This slideshow requires JavaScript.

SEKITAR pukul 20.30 Wita, seorang kolega saya yang berdiam di Jakarta tiba-tiba menelpon. “Abang, Lembah Besoa, tempat yang ada patung-patung megalit itu jauh gak dari Palu?” tanyanya lewat telepon.

“Yah paling beberapa jam lewat darat,” jawabku sekenanya karena seumur-umur bermukim di Palu saya sendiri belum pernah ke tempat yang dimaksud itu.

Teman itu mengaku sudah searching di om Google dan menurutnya tempat itu bagus untuk dieksplorasi. Alhasil dia menyatakan keinginan kuatnya untuk berkunjung ke tempat itu mumpung lagi cuti sebutnya. Kolega saya ini memang hobi berpetualang di alam lepas.

“Boleh dong minta tolong dianterin kesana,” pintanya dan kuiyakan saja. Pikirku juga, ini kesempatan saya juga untuk bisa melihat langsung lembah yang banyak dibicarakan eksotismenya itu. Lagi pula, sayang sekali rasanya kalau sudah mengaku sebagai orang Palu tapi Besoa yang ada megalitnya dan tersohor pula tidak dikenalinya.

“Terima kasih abang, saya pesan tiket sekarang, besok nyampe Palu, jemput yah,” ujarnya lagi dan membuatku tidak bisa berkata-kata lantaran begitu mendadaknya.

Saat itu juga saya berusaha mencari referensi terkait lembah Besoa mulai dari topografi, jalur menuju kawasan itu hingga segala aspek yang terkait dengannya, termasuk peta hidup lewat komunikasi verbal dengan rekan-rekan di Palu yang sudah pernah ke tempat tersebut.

Sekitar pukul 01.45 Wita keesokan harinya saya menuju bandara Mutiara Sis Aljufri untuk menjemputnya dengan berbekal secarik kertas bertuliskan namanya dengan huruf yang besar-besar. Maklum, sebelumnya saya belum pernah bertemu muka dengan kolega tersebut kecuali di dunia maya.

Alhasil, pukul 17.00 Wita setelah berpontar di Palu dan menikmati kaledo (makanan khas Palu) berboncenganlah kami dengan motor ke Besoa melalui jalur Palolo. Bak guide pro, sepanjang perjalanan saya berkisah tentang daerah-daerah yang kami dilalui, mulai dari potensi ekonomi, adat istiadat dan dan banyak lagi keunikan yang tidak dimiliki daerah lainnya di Indonesia.

Bukan hanya malam yang menyambut kami ketika sampai di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, tetapi juga hujan deras. Namun motor tetap kukebut karena harus sampai sebelum keesokan harinya. Kolegaku hanya punya waktu sehari saja melihat tempat itu dan harus pulang lagi keesokan harinya, tiket balik ke Jakarta sudah di tangan.

Kami tiba di Napu sekitar pukul 21.00 Wita dengan keadaan basah kuyup karena tidak bawa jas hujan. Lebih ekstrim lagi karena kami berdua menggigil lantaran hawa yang cukup dingin. Kami terpaksa mencari penginapan agar makin tidak tersesat setelah sebelumnya sempat nyasar masuk ke kebun kakao dengan jalan buntunya. Kami lalu menginap di salah satu penginapan di Desa Uwasa.

Pagi-pagi buta kami melanjutkan perjalanan lagi melewati bebukitan dan gunung-gunung. Saat itu, medan jalan masih sangat berat untuk dilalui. Untung saja semangat eksplorasi yang kami miliki terus membara sehingga tidak sampai menyurutkan langkah untuk terus menembus belantara jalan.

Setelah bertanya kiri kanan, akhirnya kami sampai juga di lembah Besoa. Motor kami parkir di depan salah satu pondok tidak jauh dari jalan masuk ke kawasan megalit itu karena jalannya becek sedalam betis.

Dan ho ho ho ho… lelahnya perjalanan itu seperti terobati ketika menyaksikan hamparan batu-batu megalit yang tersebar di lembah Besoa yang berada di kawasan yang mirip sebuah savana. Kolega saya yang tidak perlu saya sebut namanya itu tak henti-hentinya menebar senyum kegembiraan, bahkan kepada patung-patung atau arca yang ada di kawasan itu.

Sesekali ia memanjati benda-benda yang terbuat dari batu itu dipanjatinya, berteriak keras, lalu berjingkrak kesana kemari. “Gila, bagaimana bisa orang-orang dulu membuat semua ini,” ujarnya kemduain.

Sedikit tertegun menyaksikan betapa ulet orang-orang di zaman batu yang dengan peralatan serba terbatas dan apa adanya namun mampu menghasilkan karya yang demikian dahsyat buat kita saat ini. Batu-batu yang demikian besar hingga berdiameter hampir dua meter mampu dibentuknya menjadi barang bernilai seni tinggi.

Sebuah kalamba atau bejana berukuran super besar dipahat sedemikian rupa lengkap dengan penutupnya. Berdasar referensi yang ada, fungsi kalamba ada dua versi, yang pertama sebagai tempat penyimpanan air dan yang kedua sebagai tempat penyimpanan mayat.

Patung atau arca yang dibuat dan tersebar begitu banyak di savanna itu. Ratusan arca batu bisa ditemukan. Jarak dari satu arca ke arca lainnya bervariasi. Ada yang jaraknya mencapai 50 meter, bahkan ada pula yang sampai 100 meter.

Konon di batu-batu itu adalah peninggalan prasejarah zaman megalitikum atau zaman batu. Modelnya beragam dan merupakan peninggalan pra sejarah yang paling  beragam, paling luas wilayahnya dan paling tua di Indonesia. Diperkirakan usia dari arca-arca tersebut sekitar 3000 sampai 4000 SM, jauh lebih tua dari candi Borobudur.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tengah menyebutkan, terdapat 432 objek situs megalit di yang tersebar di Lore Utara dan Lore Selatan, Kabupaten Poso, rinciannya sebanyak 404 situs dan di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala sebanyak 27 situs. Arca megalitikum ini sangat langka di dunia karena hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada dan di Marquies Island, Amerika Latin.

Catatan sejarah menyebutkan, dua orang misionaris dan juga ahli etnografer Belanda Dr Albertus Christiaan Kruyt (1869-1949) dan Dr Nicolaus Adriani yang tiba di Poso pada 1895 mencatat, sebelum masuknya Belanda ke Poso pada 1908, masyarakat Poso masih memperlakukan penguburan mayat-mayat anggota suku mereka di dalam batu maupun kayu.

Usai “menggerayangi” lembah Besoa dengan arca dan kalambanya yang menyebar itu, kami pun beranjak, namun tidak langsung pulang. Menurut warga, selain di tempat itu, masih ada lagi kawasan pra sejarah lainnya yang tak kalah menarik, yakni Patung Tadulako yang terletak di Desa Bari’i.

Di atas sebuah bukit, arca ini yang menjadi inspirasi bagi nama Universitas Tadulako di Palu ini berdiri menghadap ke arah Barat. Penulisan sejarah menyebutkan, Tadulako adalah panglima perang yang tersisa dari sebuah perang suku di zaman sekitar 3.000 Sebelum Masehi. Ia dikutuk menjadi batu setelah dipukul kepalanya oleh seorang perempuan musuh dengan batang alu (alat tumbuk padi).

Waowww…. Sebenarnya masih banyak obyek yang bisa dikunjungi di tempatitu, termasuk menara emantauan burung yang letaknya tidak jauh dari tempat itu. Namun kasipnya waktu membuyarkan semuanya sehingga saat itu juga kami harus mengebut motor pulang ke Palu sebelum malam.

Sama dengan saat berangkat, pulang pun kami dihadang hujan di tengah jalan. Huma yang terletak di tengah padang savanna menjadi saksi bisu kegelisahan kami menenati redanya hujan itu. Hingga akhirnya kami tiba kembali di Palu tepat pukul 20.30 Wita.

Kolega saya itu berjanji, di waktu yang akan datang akan mempersiapkan waktu yang lebih luang agar bisa menikmati lebih banyak lagi obyek alam dan budaya di daerah ini yang menurutnya sangat ciamik dan berkelas. Ia menitip kepada pihak yang berkompeten agar bisa merawat situs-situs langka itu. ***

Ditulis oleh: Basri Marzuki

Ditayangkan pula di : http://pojokpalu.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here