Sundeki Valeaku Tutup Pertunjukan Talu Art di 2015

0
105
Pemain dari Sanggar Seni Linosidiru mementaskan pertunjukan bertajuk "Sundeki Valeaku" yang berarti menggali akar dan meletakkan dasar karya Hendra Maulana Datu Palinge di Desa Kalukubula, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/12/2015) malam. (Foto: beritapalu.com)
Pemain dari Sanggar Seni Linosidiru mementaskan pertunjukan bertajuk “Sundeki Valeaku” di Desa Kalukubula, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/12/2015) malam. (Foto: beritapalu.com)

SIGI – Pertunjukan seni bertajuk “Sundeki Valaeku” atau “menggali akar meletakkan dasar” karya Hendra Maulana Datu Palinge oleh Sanggar Seni Linosidiru di Desa Kalukubula, Sigi, Rabu (30/12/2015) malam, menandai berakhirnya seri pertunjukan Talu Art selama tahun 2015.

Pertunjukan penutup oleh sanggar yang dibina oleh seniman M. Nawir Dg. Mangala itu berlangsung di halaman sebuah rumah di kompleks Perumahan Bumi Kelapa Kalukubula. Tiga sanggar seni mengawali pertunjukan yangmengundang simpati cukup banyak warga sekitar tersebut, yakni sanggar seni Kalkuntovea, Yayan kololio, dan Buvusopi.

Pemain dari Sanggar Seni Kalukontovea mementaskan seni drama tradisi mengawali pertunjukan bertajuk "Sundeki Valeaku" yang berarti menggali akar dan meletakkan dasar karya Hendra Maulana Datu Palinge di Desa Kalukubula, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/12/2015) malam. (Foto: beritapalu.com)
Pemain dari Sanggar Seni Kalukontovea mementaskan seni drama tradisi mengawali pertunjukan bertajuk “Sundeki Valeaku” di Desa Kalukubula, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/12/2015) malam. (Foto: beritapalu.com)

Sejak tahun 2014 hingga akhir 2015, Talu Art mencatat 18 kali pertunjukan di sejumlah desa di Kabupaten Sigi. Hebatnya, seluruh pertunjukan tersebut dapat digelar dengan mengandalkan kemampuan sendiri alias swadaya tanpa bantuan pihak lain.

Meskipun setiap pertunjukkan ditampilkan dengan “apa adanya”, namun konsep yang dituangkan dalam setiap pementasan benar-benar independen dan berasal dari pelakon-pelakon seni yang tersebar di puluhan sanggar seni dan menyatu dalam komunitas Talu Art.

“Saya menilai, barangkali inilah komunitas seni yang paling rutin menggelar pertunjukan. Bahwa dalam setiap pemantasan yang dilakukan tampil dengan fasilitas apa adanya, namun semangat mereka yang tergabung dalam komunitas ini sungguh sangat luar biasa. Saya salut dengan komunitas ini,” nilai salah seorang pemerhati seni usai pertunjukan penutup tersebut.

Pemain dari Sanggar Seni Buvusopi mementaskan seni tradisi tradisi mengawali pertunjukan bertajuk "Sundeki Valeaku" yang berarti menggali akar dan meletakkan dasar karya Hendra Maulana Datu Palinge di Desa Kalukubula, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/12/2015) malam. (Foto: beritapalu.com)
Pemain dari Sanggar Seni Buvusopi mementaskan seni tradisi tradisi mengawali pertunjukan bertajuk “Sundeki Valeaku” di Desa Kalukubula, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/12/2015) malam. (Foto: beritapalu.com)

Bahkan katanya, tidak berlebihan jika ingin memberikan ikon seni di Kabupaten Segi, maka menurutnya Talu Art inilah yang paling pantas menyandang ikon tersebut. “Tanpa pihak lain pun komunitas ini mampu membuat pertunjukan rutin, apalagi jika dibantu,” imbuhnya lagi.

Izat Gunawan, salah seorang penggagas komunitas Talu Art menyatakan, Talu Art sedang berproses dan bersyukur katanya karena dalam rentang waktu dua tahun hingga titik ini mampu menggelar pertunjukan sebanyak 18 kali.

Pemain dari Sanggar Seni Kololio mementaskan seni tradisi mengawali pertunjukan bertajuk "Sundeki Valeaku" yang berarti menggali akar dan meletakkan dasar karya Hendra Maulana Datu Palinge di Desa Kalukubula, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/12/2015) malam. (Foto: beritapalu.com)
Pemain dari Sanggar Seni Kololio mementaskan seni tradisi mengawali pertunjukan bertajuk “Sundeki Valeaku” yang berarti menggali akar dan meletakkan dasar di Desa Kalukubula, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/12/2015) malam. (Foto: beritapalu.com)

“Masih banyak yang kurang, tapi tekad kami tetap sama ketika Talu Art ini dimulai, yakni semangat untuk terus berkarya dan melawan manja. Kita juga akan melakukan evaluasi, agar target-target yang ingin dicapai komunitas ini dapat dicapai di waktu-waktu mendatang,” tandasnya.

Untuk tahun 2016, selain semangat itu terus dipatrikan dan akan tetap melanjutkan proses yang sedang berlangsung dan berusaha agar karya-karya yang ditampilkan akan lebih baik lagi.

Urung rembuk dan "arisan" alokasi pertunjukan Talu Art untuk 2016. (Foto: beritapalu.com)
Urung rembuk dan “arisan” alokasi pertunjukan Talu Art untuk 2016. (Foto: beritapalu.com)

Usai pertunjukan di 2016 tersebut, komunitas Talu Art kembali melakukan “arisan”, yakni pengundian tempat pelaksanaan seri-seri Talu Art selanjutnya, termasuk sanggar-sanggar seni yang melakukan pentas di setiap seri pagelaran. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here