Roland Berger: Investasi Intra-Regional Perkuat Pertumbuhan Ekonomi di Asia Tenggara 

JAKARTA – Seiring dengan Asia Tenggara yang menjadi daerah pertumbuhan yang lebih penting, wilayah ini akan terus menjadi penarik bagi kegiatan komersial, dengan partumbuhan populasi dan pertumbuhan PDB yang lebih tinggi dari rata-rata dunia.

Sebuah studi oleh Roland Berger yang berjudul, “Southeast Asia’s Economic Outlook – The Big Picture”, menyoroti kesimpulan ini dan menyebutkan bahwa kawasan ini dirancang untuk tumbuh melalui investasi intra-regional. Dari tahun 2000-2014, investasi intra-regional tumbuh 28%, dibandingkan dengan investasi dari luar regional sebesar 12%.

Hal ini berkaitan dengan terus meningkatnya hubungan bilateral dan migrasi lintas negara. Selain itu, peluncuran Masyarakat Ekonomi ASEAN didugakan dapat lebih meningkatkan integrasi ekonomi dan memperkuatkan pertumbuhan di wilayah regional ini.

Menurut studi ini, meskipun wilayah regional ini terus meningkatkan perdagangan dan intra-regional, namun masih tertinggal dari segi daya saing, yang mana merupakan hambatan utama untuk menyadari potensi sepenuhnya dalam menarik investasi. “Negara-negara anggota ASEAN perlu meningkatkan efisiensi pasar dan kesiapan teknologi dalam rangka meningkatkan daya tarik. Mereka harus terus berkembang ke arah ekonomi yang didorong oleh inovasi,” kata Anthonie Versluis, Managing Partner, Malaysia, Roland Berger dan penulis studi tersebut. “Selain itu, birokrasi harus terus dikurangi untuk meningkatkan lingkungan bisnis bagi negara-negara di wilayah regional ini, terutama untuk ekonomi CLMV,” tambahnya, mengacu pada daerah yang terdiri dari Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam.

Asas Indonesia perlu ‘perubahan besar’ Studi ini juga fokus pada potensi bisnis di Indonesia, mengacu pada sumber daya alam yang besar dan beragam, di mana Indonesia adalah salah satu eksportir komoditas terbesar di dunia. Namun, studi ini memperingatkan bahwa tantangan institusional akan dapat membatasi pertumbuhan secara terus-menerus, di mana korupsi (15,7%) dan overregulation (13,7%) – dua tantangan terbesar – akan terus menghambat pertumbuhan, menurut World Economic Forum.

Meskipun memiliki banyak potensi untuk direalisasikan, reformasi struktural yang mendalam diperlukan untuk memungkinkan Indonesia menjawab tantangan masa depan seperti penciptaan lapangan kerja dan manajemen inflasi. Proyeksi yang telah dibuat, mengindikasikan, tanpa perubahan besar, PDB per kapita hanya akan mencapai USD 4.990 di tahun 2020, di belakang Malaysia (USD 17.483) dan Thailand (USD 7.545). Indonesia juga akan terus menghadapi inflasi yang lebih tinggi secara signifikan pada tahun 2020, di mana tingkat inflasi akan mencapai 4,7%, sementara Malaysia dan Thailand akan memiliki angka yang lebih kecil yaitu masing-masing 2,9% dan 1,9%.

Ekonomi CLMV akan melonjak Walaupun banyak perhatian yang telah terfokus pada potensi Indonesia, analisis oleh Roland Berger menunjukkan bahwa ekonomi CLMV berkembang dengan kecepatan yang sangat cepat. Bisnis lokal dan asing dirancang untuk berkembang di daerah ini, yang juga akan tumbuh karena pembengkakan PMA dalam beberapa tahun terakhir dan kedekatan wilayahnya dengan China. Liberalisasi ekonomi dan peningkatan hubungan dengan negara-negara dagang utama seperti Uni Eropa dan AS juga akan melambungkan pertumbuhan.

Myanmar memimpin rata-rata pertumbuhan PDB riil, pertumbuhan PDB per kapita, dan pertumbuhan total perdagangan rata-rata dalam jangka waktu sepuluh tahun 2005-2014. Laos memimpin dalam pertumbuhan PMA, menarik pertumbuhan sebesar 47% dibandingkan periode yang sama, sebagian besar karena meningkatnya perdagangan dengan negara-negara tetangga, perbaikan infrastruktur dan pengembangan pariwisata, serta pengembangan industri sumber daya alam.

Namun, isu utama bagi ekonomi daerah CLMV adalah produktivitas pertanian yang rendah. Secara kumulatif, pertanian menymbang PDB negara-negara CLMV lebih dari seperempat. Selain itu, produktivitas pertanian setiap tahun pada daerah tersebut adalah antara sebesar USD 480-540 pada tahun 2013, dibandingkan dengan Indonesia, Filipina dan Thailand, yang berkisar antara USD 1.000-1.200.

Dalam jangka panjang, daerah CLMV akan dapat meningkatkan kualitas infrastruktur dengan upaya proaktif pemerintah untuk meningkatkan konektivitas dan meningkatkan daya saing ekonomi dengan integrasi yang lebih kuat ke dalam ekonomi Asia Tenggara. Selain itu, perbaikan sistem pendidikan didugakan meningkat kualitas tenaga kerja.

Industri kunci akan berkembang Studi ini menyoroti industri terpilih yang akan terus berkembang. Untuk industri otomotif di Indonesia, pertumbuhan lokal jangka panjang akan terus menguat, seiiring dengan meningkatnya kelas menengah dan kebijakan industri yang mendukung pertumbuhan. Selain itu, kapasitas produksi akan berputar. Proyeksi menunjukkan produksi kendaraan komersial ringan akan tumbuh sebesar 5,2% di Asia Tenggara, tetapi dikalahkan oleh pertumbuhan di Indonesia sebesar 8,8% dari tahun 2013-2020. Pembaikan infrastruktur transportasi dan jalan akan memungkinkan industri otomotif untuk terus tumbuh.

Kebijakan energi akan sangat menekankankan pada energi terbarukan, yang diproyeksikan akan meningkatkan energi lebih dari 23% pada tahun 2025 di seluruh nusantara. Misalnya, energi tenaga air akan mencapai 11% dari sumber energi pada tahun 2020. Saat ini, negara telah memiliki PLTA dengan kapasitas terbesar kedua di Asia Tenggara yang memproduksi lebih dari 5.000 MW pada tahun 2013.

Cadangan energi akan sangat penting bagi industri baja yang membutuhkan banyak energi, di mana Indonesia adalah negara dengan konsumsi baja ketiga terbesar di Asia Tenggara. Namun, konsumsi baja per kapita terendah di Asia Tenggara adalah Indonesia yaitu 53 kilogram, yang menandakan bahwa permintaan baja Indonesia memiliki banyak ruang untuk berkembang. Studi oleh Roland Berger menunjukkan bahwa proyeksi konsumsi baja untuk wilayah regional dirancang untuk tumbuh pada rata-rata 4,7%, dengan pembangunan dan pengembangan, kendaraan transportasi, dan mesin industri sebagai pilar pertumbuhannya. Pertumbuhan kapasitas produksi di dalam wilayah regional didugakan terjadi di Indonesia dan Vietnam.

Industri pariwisata merupakan sektor ekonomi yang besar untuk wilayah regional ini secara keseluruhan, dirancang untuk bisa berkontribusi lebih pada perekonomian regional dan akan tumbuh kuat selama 10 tahun ke depan. Dari tahun 2014-2020, kunjungan wisatawan di wilayah regional ini diperkirakan tumbuh kuat, meskipun beberapa daerah akan tingkat pertumbuhan yang lebih cepat, seperti Asia Timur Laut.

Studi ini membahas keadaan lingkungan yang memburuk, masalah keamanan, system kebersihan umum yang buruk, dan tenaga manusia yang tidak memadai sebagai penghambat perkembangan sektor pariwisata. “Di luar mengatasi tantangan ini, negara-negara yang serius meningkatkan pariwisata harus mengambil langkah-langkah proaktif untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, termasuk membebaskan persyaratan visa dan menciptakan jalur ekspres untuk wisatawan Asia Tenggara. Badan pariwisata pemerintah juga harus berusaha untuk meningkatkan konektivitas untuk memudahkan perjalanan antara satu lokasi ke lokasi lain, “kata Vincent Casanova, Principal, Roland Berger, Singapura dan penulis studi ini. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here