Ritus Bagan dan Surat Cinta Untuk Pantai Talise

Sejumlah mahasiwa dari Teater Tangan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar melakukan performance art bertajuk “Ritus Bagan” di lokasi reklamasi pantai Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (6/10/2015).

PERLAHAN bergerak, siluet matahari itu kemudian hanya menjadi bayang yang kian meredupkan sore. Debu di atas hamparan batu berpasir dari Kelurahan Tipo yang ditimbunkan ke pantai itu, sore itu tak mau beterbangan. Bisa jadi, debu itu terkesima dengan sosok Ratu Pantai Talise yang tiba-tiba muncul dari arah bibir pantai dengan mengusung tembikar yang terbakar.

Langkah Ratu menuju bagan bambu yang sudah berdiri lengkap dengan ornamen budaya pesisir nya terlihat gontai. Bebatuan yang menimbun pantai itu dan menyakiti kaki sang Ratu tak menyurutkan langkahnya. Meski tertatih, Ratu akhirnya sampai juga ke puncak bagan bambu.

Seperti ingin berteriak keras, Ratu gundah dengan pesisirnya yang kian tidak dikenalinya. Ia miris, nelayan-nelayan yang menjadi teman bermainnya di laut makin sulit dijumpai. Sejumlah nelayan dijumpainya dengan raut yang sedih, menyiratkan kepedihan, seperti sedang berkata “tidak ada tangkapan hari ini”, seperti berkata “tidak ada garam lagi hari ini”.

Demikian sekelumit performing art bertajuk “Ritus Bagan” yang dimainkan sejumlah mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang tergabung dalam Teater Tangan.  Kelompom teater ini hadir di Palu dalam rangka perhelatan Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Teman) ke-13. Performing itu digelar sebagai salah satu bentuk protes mereka terhadap reklamasi pantai yang marak dilakukan, tidak hanya di Palu, tapi juga di wilayah lainnya, seperti Bali dan juga Makassar.

Menurut mereka,reklamasi pantai tidak hanya memangkas habitat wilayah perairan pantai, tetapi sekaligus mencabut kultur pesisir yang hidup di masyarakatnya. Lebih spesifik di Palu, reklamasi dengan demikian katanya mengkebiri usaha garam rakyat.

Masih ada di waktu lama pantai Talise? Sepenting apakah pantai Talise buat Kita? Masihkah ada cinta untuk pantai talise ketika reklamasi sudah memprivatisasi ombak dan Teluk Palu? Sepenting apakah garam Talise buat Kota palu? Masihkah ada kaledo tanpa garam Talise?

Deretan pertanyaan itu menghiasi surat cinta yang dibuatnya, surat cinta buat pantai Talise. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here