Siswa Kelas II SDN Karavana Belajar di Gubuk

Siswa kelas II SDN Karavana mengikuti kegiatan belajar di gubuk dekat sekolah di Desa Sidera, Biromaru, Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/8/2015). (foto” beritapalu.com/Basri Marzuki)

SIGI – Siswa kelas II SDN Karavana Desa Sidera, Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang berjumlah 19 orang terpaksa mengikuti kegiatan belajar di gubuk dekat sekolah karena ruang belajar yang tak mencukupi. Gubuk berdinding papan beratap seng bekas dan berlantai semen itu pun hanya difasilitasi beberapa sarana belajar seadanya.

Sesungguhnya, jumlah kelas buat sekolah yang dibangun tahun 2002 dan direhabilitiasi pada 2013 itu genap 6 kelas plus 1 ruang perpustakaan yang memungkinkan para siswa belajar secara normal. Namun karena saat direhabilitasi tidak dibangunkan ruang kantor bagi para guru, maka satu kelas lainnya dimanfaatkan sebagai ruang guru.

“Apa boleh buat, kita tidak mengenyampingkan anak-anak untuk belajar dengan fasilitas yang lebih baik, tapi sayang juga kalau sekolah tidak mempunyai ruang guru, padahal pendidikan itu tidak sekadar guru berdiri di depan kelas tetapi juga ada proses administrasi di dalamnya,” sebut Kepala Sekolah SDN Karavana, Nurhayati SPd ditemui Sabtu (29/8/2015).

Nurhayati mengatakan persoalan ini cukup dilematis. Di satu sisi tidak sampai hati membuat siswa belajar seperti itu, namun di sisi lain tidak ingin pula mengorbankan proses administrasi yang harus juga tetap berlangsung.

“Ada satu lagi ruangan tapi dipergunakan buat perpustakaan. Lebih tidak bagus lagi kalau justeru perpustakaannya yang dipindahkan ke gubuk tersebut, karena menyangkut kenyamanan anak-anak saat membaca buku,” lanjutnya.

Ia mengaku, permohonan untuk penambahan ruangan itu sudah diajukan secara lisan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Sigi, namun oleh dinas tersebut dikatakan sudah dijanjikan untuk pembangunan ruang tambahan itu pada tahun depan.

“Kita baru mendapat persetujuan lisan. Kita juga sadar diri bahwa baru tahun 2013 lalu kita mendapat dana untuk rehab sekolah, sehingga oleh dinas dikatakan bahwa alokasi untuk tahun ini diperuntukkan bagi sekolah lainnya terlebih dahulu. Kami hanya dijanjikan tahun depan baru dialokasi dana pembuatan ruang baru,” sebutnya.

Ia mengatakan, ada 9 orang guru di sekolah tersebut ditambah 1 orang tenaga administrasi. “Kalau ruang guru itu sudah ada, tentu kondisi kekurangan seperti ini tidak terjadi lagi. Kita harus bagaimana lagi,” sebutnya.

Diungkapkan, siswa kelas dua itu belajar di gubuk sejak dua tahun terakhir, yaitu sejak dirinya menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut. Sebelumnya katanya, kekurangan ruang belajar disiasati dengan jam masuk sekolah pada siang hari bagi siswa kelas dua.

“Orang tua anak-anak tersebut menginginkan anak-anaknya sekolah pagi juga. Itulah kami berikan pilihan, bisa masuk sekolah pagi tetapi dengan kondisi ruang belajar seperti itu. Orang tua anak-anak menyetujui. Katanya tidak apa-apa asal anak-anaknya bisa sekolah pagi,” jelas Nurhayati.

Nurhayati mengatakan, saat ini kebutuhan utama sekolah tersebut bukan hanya penambahan ruang guru, tetapi juga rumah dinas buat guru di dalam kompleks sekolah. “Guru-guru yang mengajar disini rumahnya cukup jauh, seandainya ada rumah dinas bagi guru, tentu bisa mengurangi waktu tempuh bagi guru untuk datang ke sekolah,” ujarnya.

Kebutuhan lainnya adalah pagar sekolah yang saat ini hanya berupa potongan-potongan kayu. “Ini untuk keamanan anak-anak di sekolah. Lagi pula, jika ada pagr tentu akan lebih mudah buat kai para guru untuk mengontrol anak-anak jika bermain,” imbuhnya. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here