Warga Tompira-Petasia Laporkan PT ANA Ke Polres Morowali

0
207
Aksi protes warga Morowali Utara atas dugaan penyerobotan tanah oleh perusahaan sawit. (Foto: Walhi Sulteng)
Aksi protes warga Morowali Utara atas dugaan penyerobotan tanah oleh perusahaan sawit. (Foto: Walhi Sulteng)

MOROWALI UTARA – Masyarakat di desa Tompira Kecamatan petasia melaporkan PT. Agro Nusa Abdi (ANA) ke Polres Morowali yang diduga melakukan penyerobotan lahan, Jumat (10/7/2015). Laporan itu diterima oleh Kanit, Ramli.

Kepala Divisi Advokasi Eksekutif Daerah Walhi Sulteng, Ristan Hutagalung menjelaskan kronologi sehingga warga menempuh tindakan hokum tersebut. Katanya, PT. ANA mendapatkan Izin lokasi seluas 19,675 Ha melalui izin lokasi Bupati Morowali No 188.45/0706/UMUM/2006 tanggal 8 desember 2006 dan masa berakhir tahun 2009, jika proses pengusahaan lahan mencapat 50 persen maka di perpanjang satu tahun hingga berakhir tahun 2010. “Namun dalam faktanya hingga tahun 2015 PT. ANA baru bisa mengusahakan lahan untuk perkebunan sekitar 36 persen atau kurang lebih 7000 Ha,” sebut Ristan dalam rilisnya.

Katanya dapat disimpulkan bahwa setidaknya sejak tahun 2010 PT. ANA melakukan aktivitas untuk memperoleh lokasi  atau tanah perkebunan tanpa izin pejabat atau dengan kata lain secara tidak sah menurut Hukum.  Fakta lain menunjukkan bahwa sejak tahun 2007 PT. ANA telah melakukan Land Clearing (pembersihan lahan) serta penanaman pada lahan – lahan milik masarakat Desa Tompira, Bunta, bungintimbe, Molino, Towara, Peboa kec. Petasia timur tanpa di dahului degan proses pelepasan hak atas tanah, dengan kata lain sejak tahun 2007 PT. ANA telah menguasai dan mengelolah lahan seluas  kurang lebih 7000 Ha milik masyarakat kec. Petasia timur secara tidak sah (Penyerobatan).

Sesuai dengan peraturan pemerintah pengganti Undang–Undang  No 51 tahun 1960 tentang larangan pemakaian tanah tanpa izin yang barhak atau kuasanya, pasal 6 ayat (1). Di tambah dengan pasal 385 KUHP, ini membuktikan bahwa PT. ANA yang berada di petasia Timur Adalah illegal. Lebih parahnya lagi di atas tanah masyarakat terdapat tanaman tumbuh seperti Pisang, Lemon, kelapa, cokelat, jambu, mangga  dan ada beberapa pondok warga yang di rusaki oleh perusahaan PT. ANA tanpa sepengetahuan masyarakat yang notabene tempat tinggal juga sebagai tempat penghidupan masarakat kec. Petasia timur.

“Pelanggaran fatalnya yang dlakukan oleh PT. ANA adalah melakukan aktivitas perkebunan (penanaman, pemeliharaan, sampai pemanenan hasil kebun) tanpa memiliki HGU yang merupakan alas hak penguasaan tanah,” jelasnya.

Ristan Hutagalung menyampaikan bahwa laporan tersebut adalah upaya warga untuk mengambil kembali lahan perkebunan mereka yang di rampas oleh PT. ANA, bertahun – tahun warga ke hilangan tanah mereka, selama itulah warga tidak betani, akibatnya tentu mereka bekerja serabutan, mejadi buruh dan lainnya.

“Atas laporan ini kami harapkan agar aparat kepolisian terutama kepada Polres Morowali agar segera melakukan penyidikan terhadap kasus ini, tentunya dengan melakukan langkah yang cepat dalam penanganan kasus ini menjadi kabar gembira buat warga yang sedang berjuang untuk mendapatkan keadilan, jika tidak maka pada siapa lagi warga Negara ini akan mengadu,” tandasnya. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here