YTM: Ekonomi Sulteng Tumbuh dengan Landasan Rapuh

0
208
Ilustrasi daerah pertambangan. (AntaraFoto/Zabur Karuru)
Ilustrasi daerah pertambangan. (AntaraFoto/Zabur Karuru)

PALU – Ekonomi Sulteng pada triwulan I/2015 yang oleh Bank Indonesia (BI) Sulteng mencapai 17,76 persen selama triwulan I/2015 sebagaimana diberitakan beritapalu.com, Jumat (19/6/2015) ditanggapi oleh Yayasan Tanah Merdeka (YTM) sebagai pertumbuhan yang landasannya rapuh.

Adriansyah Manu, Manager Kampanye dan Jaringan YTM menyebutkan, kerapuhan landasan pertumbuhan itu karena dalam paparan kepala perwakilan Bank Indonesia Sulteng, Purjoko, terutama disebabkan oleh peningkatan investasi sector industry pengolahan, yaitu beroperasinya smelter Pig Iron di Morowali dan produksi LNG.

Adriansyah dalam rilisnya ke beritapalu.com, Sabtu (20/6/2015) menyatakan, tidak mengherankan jika pertumbuhan itu melaju cepat, karena smelter yang dibangun oleh PT. Bintang Delapan Mineral (BDM) dan Thixing Group yang asal Cina itu berkapasitas produksi 300 ribu metric ton per tahun.

“Namun, perlu diketahui daerah ini juga memiliki angka kemiskinan yang cukup tinggi yakni mencapai 13,61 persen atau 387,070 jiwa dari hampir 3 juta jiwa penduduk Sulteng,” sebutnya.

Ia mengatakan, paradigma pembangunan perekonomian di Sulteng justeru ditopang lewat Pemberian sejumlah Izin pertambangan dan perkebunan Sawit di Sulteng yang telah mencapai  343  Izin Usaha Pertambangan (IUP) dengan luas 1.917,699 hektare dan  Izin Usaha Perkebunan Sawit termasuk Hak Guna Usaha (HGU) sebanyak  48 dengan luas 605,870 hektare.

“Dari sekian banyak pemberian IUP/HGU ini, pemerintah tidak pernah memikirkan dampak langsung yang ditimbulkan. Benar bahwa, pertumbuhan ekonomi kita melaju cepat. Tetapi di tengah  meningginya angka pertumbuhan ekonomi kita, sejumlah petani di daerah dimana investasi bercokol kehilangan tanah karena sebagian besar pemberian izin berada di tanah-tanah petani yang telah lama dikuasai dan menjadi basis produksi mereka,” jelasnya.

Ia mencontohkan kasus pemberian IUP oleh Pemerintah Daerah Morowali kepada PT. Bintang Delapan Mineral (BDM) yang saat ini menjadi basis ekonomi Sulteng justru membuat para petani di Desa Bahomakmur, Kabupaten Morowali kehilangan tanah, 335 kepala keluarga (KK) tak lagi berproduksi.

Di sisi lainnya lanjut Adriansyah, penyerapan tenaga kerja dalam perusahaan industri seperti tambang tidak begitu menyerap tenaga kerja yang banyak karena penggunaan teknologi yang tinggi hanya membutuhkan tenaga kerja untuk mengoperasikan mesin-mesin.

“Sehingga posisi buruh kita menjadi lemah, upah murah menjadi konsekuensi, karena mekanisme hubungan perburuannya menjadi longgar mempraktekan buruh kontrak dan Outsourching. Untuk menjadi tenaga kerja pun harus bersaing. Ekonomi kita ditopang dengan mekanisme pasar kita pun hanya mengejar target ekonomi dalam angka-angka. Tetapi kondisi rakyat tetap sama berada di bawah kemiskinan,” tandasnya. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here