Nilai Ekspor Sulteng Melejit oleh Beroperasinya Smelter Morowali

0
183
PT Sulawesi Mining's nickel smelter and power plant stands under construction in Morowali, Central Sulawesi province, Indonesia. Photographer: Yoga Rusmana/Bloomberg
PT Sulawesi Mining’s nickel smelter and power plant stands under construction in Morowali, Central Sulawesi province, Indonesia. Photographer: Yoga Rusmana/Bloomberg

PALU – Efek pembangunan smelter atau pabrik pemurnian mineral di Kabupaten Morowali mulai terasa bagi makro ekonomi Sulteng. Sedikitnya, beroperasinya smelter itu telah mendongkrak nilai ekspor Sulteng yang selama ini “terjun bebas”.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng mencatat, sejak April atau sejak smelter itu beroperasi, nilai ekspor Sulteng mencapai US$ 42,75 juta atau naik US$ 39,27 juta atau jika dipersentsekan kenaikannya sangat mencengangkan yaitu 1.128,45 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Maret 2015). Nilai ekspor itu langsung dilakukan melalui pelabuhan di Sulteng, terutama dari Kolonodale, Morowali.

Selama Januari-April 2015, total nilai ekspor Sulteng tercatat US$ 53,68 juta atau naik US$ 6,86 juta atau 14,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar US$ 46,82 juta. Sementara itu.

“Mulai April smelter di Morowali mulai beroperasi, kita mulai bisa ekspor besi dan baja. Makanya, bulan April itu nilai ekspor kita melonjak. Sementara, kakao yang sebelumnya menjadi komoditi ekspor andalan kita saat ini tidak ada ekspor lagi,” jelas Kepala BPS Sulteng, JB Priyono di kantornya, Senin (1/6/2015).

Kelompok komoditas penting lainnya adalah minyak mentah. Nilai ekspornya pada bulan April 2014 sebesar US$ 11,20 juta, serta lemak dan minyak hewani/nabati senilai US$ 7,04 juta. Sedangkan nilai ekspor kelompok komoditas lainnya masingmasing di bawah US$ 0,50 juta.

Sementara itu, selama Januari-April 2015, besi dan baja tetap merupakan kelompok komoditas ekspor paling dominan. Nilainya mencapai US$ 23,35 juta atau 43,50 persen dari total ekspor. Disusul lemak dan minyak hewani/nabati senilai US$ 14,48 juta (26,97 persen), minyak mentah senilai US$ 11,20 juta (20,86 persen), kayu dan barang dari kayu senilai US$ 1,79 juta (3,33 persen), serta ikan dan udang senilai US$ 1,76 juta (3,27 persen). “Nilai ekspor kelompok komoditas lainnya masing-masing di bawah US$ 0,55 juta,” imbuhnya.

Bila dilihat dari negara tujuan, Tiongkok merupakan negara tujuan ekspor paling utama selama April 2015 yakni mencapai US$ 30,55 juta atau 71,46 persen dari total nilai ekspor Sulteng. Negara tujuan berikutnya adalah Korea Selatan senilai US$ 11,35 juta (26,55 persen). Sementara itu, nilai ekspor ke negara tujuan lainnya masing-masing di bawah US$ 0,25 juta.

“Selama Januari-April 2015, ekspor terbesar Sulteng juga ditujukan ke Tiongkok senilai US$ 31,08 juta,” sebutnya lagi.

Selanjutnya, ekspor ke Korea Selatan senilai US$ 11,74 juta, Malaysia senilai US$ 4,36 juta, India senilai US$ 3,46 juta, dan Amerika Serikat senilai US$ 1,62 juta. Berdasarkan kontribusinya, ekspor ke lima negara tujuan tersebut meliputi Tiongkok sebesar 57,90 persen, Korea Selatan 21,87 persen, Malaysia 8,12 persen, India 6,45 persen, dan Amerika Serikat 3,02 persen. Sementara, negara lainnya masing-masing berperan kurang dari 1,00 persen. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here