Sastra Bingkai Kosong di Talu Art #12

0
181
Pemain dari Komunitas Seni Zat Sibalaya memainkan teater bertajuk Sastra Bingkai Kosong di Desa Sibalaya, Tanambulava, Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (31/5/2015) malam. beritapalu.com/Basri Marzuki/15
Pemain dari Komunitas Seni Zat Sibalaya memainkan teater bertajuk Sastra Bingkai Kosong di Desa Sibalaya, Tanambulava, Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (31/5/2015) malam. beritapalu.com/Basri Marzuki/15

SIGI – Komunitas seni mandiri dan independen di Kabupaten Sigi yang tergabung dalam Talu Art kembali unjuk seni dengan mempersembahkan teaterikal bertajuk Sastra Bingkai Kosong di Desa Sibalaya, Tanambulava, Sigi, Minggu (31/5/2015) malam.

Seperti sebelumnya, event seni Talu Art selalu menampilkan sesuatu yang baru. Kali ini di Talu Art ke-12, Sastra Bingkai Kosong menjadi tema utama. Gagasan dan pelakonnya juga diciptakan dan dimainkan oleh Komunitas Zat Sibalaya. Dengan pemeo “menanam karya, melawan manja” penampilan taterikal kontemporer itu memukau penonton yang memadati lapangan terbuka SDN 1 Sibalaya.

Penataan stage, tata cahaya dan perupaan aksesoris pentas sangat memikat. Rembulan yang menaungi pertunjukan itu kian menyemangati dan memberi roh tersendiri bagi para pelakon dan penonton yang tak berkedip pada setiap segmen pertunjukan di tempat terbuka itu.

Sebelumnya, Sanggar Seni Kololio Kaleke menjadi pembuka pertunjukan itu dengan menampilkan musik tradisi. Dilanjutkan dengan penampilan Eceng Paporo Family yang menampilkan puisi kekhawatiran atas alam yang kian dirusakkan oleh manusia.

Jangan kira dengan kesederhanaan yang menjadi ciri Talu Art lalu kualitas seni yang ditampilkan menjadi asal-asalan. “Tidak,” tegas Izat Gunawan, penggagas Talu Art tersebut. Justru kesederhanaan itu adalah simbolisasi dari semangat berkesenian yang independen dan mandiri yang selalu dikedepankannya. Buktinya kata Izat, setiap penampilannya sejak Talu Art ke-1 hingga saat ini selalu mendapat apresiasi.

Kebersamaan dalam setiap pertunjukan Talu Art sangat kental. Itu terlihat darikekompakan yang terjalin, baik sesame individu maupun sesama anggota komunitas. Tak kurang Pimpinan Sanggar Seni To Kaili Bangkit, Ashar Yotomaruangi yang menyempatkan diri hadir pada event seni itu member apresiasi yang sangat positif.

“Saya memaksakan diri hadir disini karena saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Talu Art ini. Independensi, kemandirian, kebersamaan yang diperlihatkan, benar-benar member harapan bagi kebangkitan seni, terutama di Sigi. Saya berharap, semangat yang ditunjukkan teman-teman di Talu Art ini dapat ditularkan kepada komunitas seni lainnya di luar Sigi,” ujar Ashar.

Dan akhirnya, makan jagung rebus dengan sambal kelapa parut sambil berdiskusi dan evaluasi pertunjukan menjadi penutup seluruh rangkaian Talu Art ke-12 tersebut. Talu Art ke-12 dijadwalkan akan digelar pada akhir Juni 2015 di Desa Kabobona. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here