Kecewa pada Polisi, Jurnalis di Malang Demo di Patung Chairil Anwar

0
172
wartawan demo di malang. ©2015 Merdeka.com
wartawan demo di malang. ©2015 Merdeka.com

MALANG – Jurnalis se- Malang Raya menyuarakan kebebasan pers di depan patung Chairil Anwar, Jalan Basuki Rahmat, Malang, Jawa Timur, pada Minggu (3/5/2015) ini. Aksi tersebut sebagai rangkaian peringatan hari kebebasan pers internasional, yang jatuh pada hari ini.

Para Jurnalis yang tergabung dalam berbagai organisasi pers, seperti AJI Malang, IJTI Korda Malang Raya, PWI Malang menyuarakan, berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi. Aneka spanduk dan poster berbau tuntutan mereka bentangkan sebagai bentuk aksi solidaritas menyangkut kasus yang menimpa para wartawan.

Koordinator aksi Yatimul Ainun mengatakan, pihaknya menyoroti kepolisian yang masih kerap menggunakan pasal-pasal pidana dalam menyelesaikan kasus pemberitaan. Padahal, para jurnalis memiliki undang-undang pers yang seharusnya digunakan dalam menyelesaikan setiap sengketa pemberitaan.

“Polisi masih dengan mudah menetapkan tersangka bagi jurnalis meski Dewan Pers menilai pemberitaan sudah sesuai,” kata Ainun, Minggu (3/5/2015).?

Peserta aksi juga mengecam adanya intervensi pemilik media terhadap independensi ruang redaksi. Hak publik untuk menerima informasi dari frekuensi publik yang digunakan perusahaan media, kerap digunakan untuk kepentingan pemilik media.

Selain wartawan media mainstream, para aktivis pers mahasiswa dari berbagai kampus di Malang juga ikut meramaikan aksi. Jurnalis Malang Raya mengingatkan, hari kebebasan pers merupakan momen menuntut diselesaikannya berbagai kasus kekerasan.

Data AJI menyebutkan, sejak 1992 ada 1.123 jurnalis di seluruh dunia terbunuh karena aktivitas jurnalistik. Dari jumlah tersebut, 19 di antaranya terbunuh pada 2015.

Sementara di Indonesia, sejak 1996 ada 8 kasus kematian jurnalis yang belum diusut tuntas. Belum lagi 37 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang 3 Mei 2014 hingga 3 Mei 2015 hingga kini belum tuntas.

Dari 37 kasus tersebut 11 kasus kekerasan dilakukan polisi, 6 kasus oleh orang tak dikenal, 4 kasus dilakukan satuan pengamanan atau keamanan, 4 kasus dilakukan massa, dan lainnya oleh berbagai macam profesi.

“Semua kasus kekerasan atas jurnalis yang dilakukan polisi tidak pernah diselesaikan sampai ke jalur hukum,” kata Ketua AJI Malang, Eko Widianto.

“Semua kasus kekerasan atas jurnalis yang dilakukan polisi tidak pernah diselesaikan sampai ke jalur hukum,” tambah dia.

Catatan buruk untuk kepolisian masih ditambah dengan munculnya kasus penetapan tersangka Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Meidyatama Suryodiningrat pada awal Desember 2014. Meidyatama diduga melakukan penistaan agama, atas penayangan karikatur yang kasusnya sebenarnya sudah ditangani Dewan Pers.

Status tersangka Meidyatama, hingga kini tidak pernah dicabut meski Dewan Pers sudah melayangkan surat bahwa kasus tersebut merupakan ranah Undang-undang Pers.

Perlakuan buruk juga menimpa jurnalis Tribun Lampung, Ridwan Hardianyah yang juga Sekretaris AJI Bandar Lampung. Dia tiba-tiba ditangkap dan digeledah rumahnya pada Rabu (4/3/2015) lalu, tanpa ada surat perintah penangkapan. Belakangan diketahui, polisi salah orang.

Namun peristiwa ini terlanjur membuat korban trauma bertemu polisi sehingga mengganggu kerja-kerja jurnalistiknya. Selain itu, sampai hari ini ada delapan kasus pembunuhan jurnalis tanpa ada pengusutan terhadap pelaku. (merdeka.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here