Banyak Konsumen Elpiji 12 Kg di Palu Beralih ke 3 Kg

0
168
Sejumlah warga mengambil tabung dan kompor gas yang dibagi secara gratis pada program konversi minyak tanah ke gas di Kantor Kelurahan Birobuli Utara, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (2/12/2013). Meskipun Gubernur Sulteng meminta konversi itu ditunda karena masalah validitas data penerima, namun pemerintah Kota Palu bersama Pertamina tetap menjalankannya. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/13
Ilustrasi. Sejumlah warga mengambil tabung dan kompor gas yang dibagi secara gratis pada program konversi minyak tanah ke gas di Kantor Kelurahan Birobuli Utara, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (2/12/2013). Meskipun Gubernur Sulteng meminta konversi itu ditunda karena masalah validitas data penerima, namun pemerintah Kota Palu bersama Pertamina tetap menjalankannya. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/13

PALU – Disparitas (selisih) harga yang cukup jauh antara elpiji 12 kilogram dengan 3 kilogram membuat tak sedikit konsumen beralih. Menggunakan elpiji 3 kilogram yang disubsidi pemerintah itu jauh lebih menguntungkan dari elpiji 12 kilogram yang didasarkan pada harga pasar.

Sejumlah kekhawatiran pun muncul jika elpiji 3 kilogram akanmenjadi rebutan dan bahkan kehabisan stok karena diminati banyak orang.

Saptono, seorang pendagang terang di bilangan Palu Barat mengaku sejak sebulan terakhir beralih ke gas 3 kg karena harga elpiji 12 kg demikian tinggi. Sebelumnya ia mengaku menggunakan elpiji 12 kg karena bisa lebih lama diapakai. Namun karena harganya yang demikian tinggi, terpaksa ia beralih ke 3 kilogram meskipun harus menambah waktu ekstra untuk mengganti dengan tabung 3 kilogram lainnya karena cepat habis.

Harga elpiji 3kg saat ini rata-rata Rp16.000per tabung, Sementara harga elpiji 12 kg sekarang ini berkisar Rp145.000 tabung.

Hal yang sama juga dikemukakan Sumarno, salah seorang pedagang kue-kue di bilangan Palu Timur. Perpindahannya ke elpiji 3 kilogram sudah dilakukan sejak tiga pekan lalu. Perpindahan itu juga dengan alasan yang sama, yaitu margin ketunungan yang diperoleh menjadi semakin kecil karena tersedot oleh biaya pembelian gas 12 kilogram.

“Kita tidak bertahan dengan harga setinggi itu, makanya kita pindah ke 3 kilogram meskipun lebih cepat habis. Tapi kan kita beli lebih banyak supaya ada persediaan kalau habis,” akunya.

Kepala Seksi Usaha dan Sarana Perdagangan Disperindag Sulteng, Rudi Zulkarnain tidak menampik banyaknya konsumen yang beralih ke elpiji 3 kilogram itu. “Mereka beralih karena harga elpiji 3 kg murah dan mudah diperoleh di tingkat pengecer,” katanya.  (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here