UN Jujur, Berkualitas dan Bermartabat, Jangan Mengejar Nilai

Ramlah M. Siri
foto: dok. pribadi

Oleh: Ramlah M Siri

POLEMIK Ujian Nasional (UN) Tahun 2015 ini hampir tidak terdengar lagi, seperti adanya protes untuk tidak melaksanakan UN, tentang kecurangan, kegaulauan, ketakutan siswa atau kebocoran soal maupun masalah UN lainnya, apakah karena UN tahun 2015 ini kelulusannya ditentukan oleh sekolah atau karena memang membuktikan bahwa semua sadar bisa membuktikan UN bukanlah suatu hal yang harus dimasalahkan. Ujian Nasional adalah fokus pendidikan yang lebih besar mengarah pada tujuan akademis melalui UN akan berhasil mendidik dan membangun karakter siswa dengan baik, sesuai harapan menjadikan UN jujur, berkualitas dan bermartabat , akan tercapai.

Semulus apapun gambaran UN saat ini, tetap kita harus memberikan semangat dan memdukung pelaksanaan UN 2015, belumlah dapat dipastikan bahwa para peserta UN akan melanjutkan pada jenjang berikutnya, meskipun salah satu tujuan UN agar pesertanya bisa melanjutkan kejenjang lebih tinggi, Pembelajaran yang paling baik diberikan kepada siswa adalah yang sedekat mungkin dengan keadaan , tujuan pendidikan saat ini tidak terlihat menyiapkan siswa menjalani masa depannya dengan nilai-nilai karakter yang baik karena tujuan pendidikan mereka hanya berujung pada nilai, bukan bagaimana memanfaatkan ilmunya yang didapatkan selama mereka dididik di sekolah.

Kalau tujuan Ujian Nasional hanya untuk nilai, karakter mereka tidak dibentuk untuk menggunakan dan memanfaatkan ilmunya di kehidupan nyata nanti. Berbagai cara pun akhirnya dilakukan asalkan bisa lulus, jadilah ini yang memunculkan bibit-bibit melakukan plagiat, bahkan korupsi. Kondisi pendidikan kita memang memaksa mereka melakukan itu, para pembuat kebijakan dan pemimpin-pemimpin di institusi pendidikan harusnya percaya bahwa pembelajaran yang paling baik diberikan kepada siswa adalah yang sedekat mungkin dengan keadaan sebenarnya . Sekolah harus berusaha untuk memberikan kesempatan kepada siswanya menjalani hal-hal yang kelak mereka hadapi di luar sekolah.

Dengan membiasakan mereka menerapkan ilmunya di sekolah akan menjadi bekal pengalaman mereka ketika menghadapi dunia kerja, usaha, dan masyarakat, Ujian Nasional Tahun 2015 yang diselenggarakan hari Senin tanggal 13 April, yang sistem pelaksanaanya berbeda dengan tahun sebelumnya,UN tahun 2015 ini sekolah diberi kepercayaan menjadi penentu kelulusan siswanya dari standar kelulusan sampai pada sistem kepengawasanya yang menggunakan sistem rayonisasi dan pengawasan silang .

Semua pihak harus sepakat untuk melaksanakan UN yang jujur, berkarakter dan bermarabat, kalau ada pihak tertentu yang mempersiapkan membantu siswa dalam menjawab soal, itu artinya menjurumuskan siswa kemental ketidak jujuran, biarkan mereka berusaha untuk menjawab dengan segala kemampuan mereka, toh pihak sekolah sebelum UN telah mempersiapkan siswa dengan berbagai cara, seperti, belajar tambahan, belajar kelompok dan lain sebagainya, meskipun sekolah menjadi penentu kelulsan UN bukankah sekolah berarti siswa diberikan keluasan untuk membantu siswa, jadi pihak sekolah tak perlu kuatir siswanya tidak lulus UN.

Selama ini ketakutan siswa pada UN karena kelulusan ditentukan oleh pusat, sekarang apalagi yang jadi permasalahan , jadi kalau memang kita mau membawa generasi bangsa ini menjadi generasi yang kuat dan mandiri, jujur dan peduli terhadap negara dan bangsanya , maka tolong hentikan semua ketidak jujuran, telah terjadi dan menjadi masa hitam keberadaan UN, meskipun sebenarnya kita tak perlu menoleh kebelakan, namun sejarah kelam UN harus menjadi pembelajaran masa lalu agar tida memngulanginya, buat UN 2015 jadikan UN yang paling jujur, berkualias dan bermartabat, biarkan siswa lulus dengan prestasinya, lupakan keegoisan kita untuk meluluskan siswa demi prestise sekolah.

Masa lalu UN yang kelam, di setiap pelaksanaan selalu mendapat kritikan disebabkan sebagai sumber ketidak jujuran, bagaimana bisa disebut kejujuran jika ada pihak tertentu yang mencoba membantu siswa. Ini semua karena prestise dan reputasi yang akan terancam menjadi sumber persoalan dari ketidakberdayaan para guru dan sekolah mempertahankan ketidak jujuran itu. Banyak kasus penyelenggraaan UN, bukan pihak luar sekolah yang melakukan pelanggaran, tapi pihak sekolah , yaitu mereka yang dari dalam sendiri dan sungguh ironis adalah oknum pendidik sendirilah (yang mau membantu siswa dalam UN) yang menciptakan UN penuh sandiwara dan ketidak jujuran, lalu apa yang akan dicontoh para generasi kita kalau semua yang melakukan ketidak jujuran adalah para pendidik yang mereka harus guguh.

Semua pendidik mengharapkan buat siswa untuk berprestasi dalam belajar karena itu pula yang diharapkan dari siswa dalam menuntut ilmu, kondisi ini menuntut peran guru dan seluruh perangkat sumber daya manusia di sekolah, untuk terus menerus berinovasi dan berimprovisasi demi kemajuan dan prestasi siswa. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa tersebut, diperlukan suatu evaluasi, yang saat ini secara nasional disebut Ujian Nasional (UN), yang pesertanya adalah siswa kelas terahir dalam suatu tingkat sekolah. Dimana tujuan atas penyelenggaraan UN itu, dimaksudkan untuk mengukur hasil proses belajar siswa, yang sasarannya untuk mengetahui mutu pendidikan, baik di tingkat nasional, maupun di tingkat yang lebih rendah, misalnya provinsi, kabupaten dan kota.

Berbagai Persiapan yang dilakukan semua sekolah khususnya dikota Palu untuk tingkat SMA, mulai dari belajar tambahan sampai pada membentuk kelompok belajar , maka tak perlu kita merasa takut siswa atau anak-anak kita gagal UN, sehingga menghalalkan berbagai cara untuk meluluskannya. Cukup dengan pembelajaran tahun-tahun kemarin betapa kecurangan UN mencoreng tubuh pendidikan kita sehingga ada beberapa daerah yang harus mengulang UN.

Suatu dosa yang besar dilakukan kalau mengajari siswa atau generasi bangsa suatu sikap yang tak jujur , dan semua pembelajaran karakter yang ditanamkan sekolah pada siswa akan hancur berkeping dan tak berguna, jika pada UN 2015 ada guru yang mengajari siswa dalam ujian nasional ini, sebab namanya ujian harus belajar dan harus mengusahakan agar bisa lulus, bukan membantu siswa dengan jawaban saat ujian. Cukup persiapan yang dilakukan sekolah untuk menghadapi UN. Biarkan siswa menjawab sendiri soal-soal yang ada, alangkah ruginya mengajar anak-anak itu selama 3 tahun tidak mungkin tidak bisa menjawab soal–soal ujian yang diberikan, dan alangkah tak bermoral jika ada seorang guru memberikan jawaban pada siswa saat Ujian.

Diyakini saja bahwa lebih banyak siswa yang benar-benar belajar untuk mempersiapkan dirinya menghadapi UN dari pada yang hanya menerima nasibnya, semua harus mementingkan dan memikirkan kepentingan anak-anak kita yang ikut UN 2015 ini, kalau ada yang membiarkan anak- anak itu dalam kecurangan maka sama saja membunuh karakter generasi bangsa yang berusaha untuk jujur dan belajar keras mempersiapkan diri menghadapi ujian, ketika melihat teman sesama siswa diberi bantuan jawaban kemudian bisa lulus, sama saja menamamkan pada mereka rasa malas , putus asa dan akan pembunuhan karakter mereka yang sudah jujur, kadang justru merekalah jadi korban tak lulus.

Ada benarnya kalau dikatakan bahwa pihak sekolah yang ketakutan terhadap siswanya yang tak lulus disebabkan karena takut dianggap tak berhasil, sekolah bereputasi jelak, kalau memang takut mendapat julukan seperti itu, harusnya setiap penaikan kelas pada tiap tahunnya selektif, siswa yang memang tak bisa naik kelas jangan dinaikkan, ketika dikelas XII atau kelas ujian tak perlu khawatir lagi sebab semua siswa sudah tersaring sesuai dengan potensi mereka. Untuk apa meluluskan dengan membantu mereka hanya akan memperburuk keadaan mereka, selamanya akan jadi generasi yang instan, kasian siswa yang dengan segala upaya mereka belajar dengan sungguh-sungguh melihat teman mereka tanpa belajarpun bisa lulus. Kita menyaksikan betapa generasi kita, tak bisa berpikiran jernih , hanya sedikit sekali yang bisa berprestasi, padahal harapan kita semua pendidik membimbing generasi menjadi gerasi yang cerdas bertanggung jawab dan bermoral.

Saat ini kita fokus UN 2015 yang sementara berlangsung utnuk tingkat SMTA, bagaimana supaya penyelenggaraannya benar-benar diawasi secara utuh, bukan hanya keamanan, tetapi dari siswa yang tak boleh membawa HP (hand phone ke dalam kelas) sampai pada semua yang terlibat dalam kepanitian UN di setiap sekolah perlu diawasi, sebab bukan tidak mungkin merekalah yang akan dipersiapkan untuk membantu siswa dan disinilah peran para pengawas sekolah dan semua yang berkompoten diuji, mereka yang mengawasi harus mempunyai kekuatan untuk memberikan masukan bagi proses penyelenggraan UN Pemerintah harus membuka diri bagi pengawas-pengawas yang tidak hanya sekadar melihat proses UN, juga mengawasi terselengaranya UN 2015 yang jujur, berkarakter, berkualitas dan bermartabat dalam arti tanpa kecurangan demi generasi emas, kalau ada oknum yang campur tangan membantu kecurangan UN, maka sebaiknya diberikan ganjaran yang seberat-beratnya.

 

*) Penulis, Kepala SMP Negeri 14 Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here