Negara Harus Pulihkan Psikologis Keluarga Daeng Koro

0
101
Dedi Askary foto: dok. pribadi
Dedi Askary
foto: dok. pribadi

PALU – Komnas HAM Perwakilan Sulteng menyerukan dilakukannya pemulihan kejiwaan terhadap keluarga Daeng Koro yang tewas tertembak saat kontak senjata di Pegunungan Sakinah Jaya, Parigi Moutong, Jumat (3/4/2015) lalu.
Langkah itu menurut Ketua Komnas HAM Perwakilan Sulteng, Dedi Askari SH penting dilakukan terutama jika ditilik dari sudut kemanusiaan, terlebih dari sudut tanggangjawab negara. “Terlepas apakah kemudian istri Daeng Koro pada akhirnya ‘ditetapkan sebagai tersangka’ atau diupayakan melalui mekanisme penyelesaian alternatif lainnya.
Terhadap istri almarhum Daeng Koro lanjutnya, mengingat yang bersangkutan dalam kondisi hamil delapan bulan. “Haruslah ada kebijakan khusus, semisal membantu yang bersangkutan menjalani kehidupannya menyongsong momentum lahirnya sang bayi hingga pembiayaan penghidupan sang ibu dan anak, setelahnya jika yangg bersangkutan dipandang layak secara medis menjalani proses-proses administrasi dalam kerangka penegakan hukum, barulah untuk selanjutnya langkah-langkah yang berkesesuaian secara hukum dilakukan kepadanya dengan senantiasa memperhatikan hak-hak normatif yang bersangkutan,” sebut Dedi dalam rilisnya yang disampaikan ke redaksi beritapalu.com.
Menurutnya, berbarengan dengan itu, langkah dan intervensi yang tidak kalah penting adalah terhadap ketiga anak almarhum yang masih anak-anak dan di bawah umur. “Apalagi jika melihat foto ketiga bocah bersama bapak dan ibunya menenteng senjata sebagaimana foto yang dilansir Polda Sulteng. Ini sungguh sesuatu yang mengagetkan jika tidak hendak dikatakan membuat shok publik,” sebutnya.
Betapa tidak lanjutnya, anak seusia itu telah dididik memanggul senjata.
Atas kondisi itu, Komnas HAM RI Perwakilan Sulawesi Tengah meminta kelembagaan negara terkait, baik yg ada di Jakarta maupun yang ada di daerah (provinsi dan kabupĂ ten) untuk melakukan intervensi kepada istri dan anak2 almarhum secara berkala dan sistematis melalui pembinaan mental (pemulihan psikologis), pembinaan keagamaan secara benar baik melalui lembaga pendidikan formal maupun lembaga keagamaan binaan Departemen Agama.
Selain itu, menghindari akan semakin banyak jatuhnya korban dalam kerangka penegakan hukum bagi mereka yang masuk dalam DPO, Komnas HAM RI Perwakilan Sulteng mengimbau dan menyarankan secara gentelmen dan bertanggung jawab untuk menyerahkan diri.
Langkah ini dipandang penting demi menghindari jatuhnya korban baik dari aparat hukum maupun dari pihak masyarakat sipil sendiri. Langkah gentelmen itu dipastikan mendapat apresiasi dari negara, termasuk kemungkinan adanya kebijakan meringankan penghukuman.
Demikian juga bagi aparat penegak hukum yang bertugas di lapangan bahkan yang sedang memburu para pelaku yang diklam sebagai teroris, dalam bertugas di lapangan hendaknya senantiasa mengedepankan tindakan persuasif dan mengedepankan aspek kemanusiaan sebagaimana tertuang dalam instrumen hukum Hak Asasi Manusia. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here