Beginilah Cara Mario Menyusup ke Roda Pesawat Garuda

PEKANBARU – Apa yang terjadi dibalik pagar besi Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II masih jadi misteri. Benar, rekonstruksi aksi nekat Mario Steven Ambarita (21) akhirnya dilakukan, Jumat (10/4/2015). Namun, hanya sebagian saja adegan tergambar. Sisanya, ditutupi. Mario dan PPNS Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kompak tak mau bercerita.

Setelah sempat tertunda sehari, Jumat siang rekonstruksi peristiwa masuknya Mario ke roda pesawat Garuda yang kemudian membawanya dari Pekanbaru ke Jakarta akhirnya terealisasi. Rekonstruksi ramai dipadati awak media, dan dikawal ketat keamanan Bandara SSK II serta Polisi Milter (POM) TNI Angkatan Udara.

Mario menyusup ke dalam ruang roda pesawat Garuda Indonesia (GA177) jenis Boing 737-800 dan terbang dari Pekanbaru ke Jakarta, Selasa (7/2) lalu. Aksi Mario ketahuan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Petugas curiga melihatnya, terhuyung turun dari roda pesawat, wajahnya pucat, darah keluar dari telinganya. Ketahuan, ia diamankan, dan dirawat. Belakangan, ia jadi tersangka dan dijerat Pasal 344 Juncto Pasal 345 Undang-Undang (UU) Nomor 1/2009 tentang penerbangan dengan ancaman hukuman setahun penjara dan denda Rp500 juta.

Rekonstruksi dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Mario yang saat rekonstruksi mengenakan baju kaos hitam menunjukkan, awal ia memasuki roda pesawat dimulai dengan pengintaian. Dirinya terlebih dahulu memantau dari Masjid Bandara SSK II berjarak sekitar 100 meter dari terminal Cargo.

Pukul berapa ia sudah mulai berada di masjid itu, pria asal Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) yang kini berstatus tersangka itu tak mau bercerita. Apalagi PPNS yang menangani kasus itu, hanya menyebut karena pesawat yang disusupi Mario terbang siang, berarti sekitar satu atau dua jam sebelumnya Mario sudah disana.

Di masjid, tergambar adegan Mario tidur-tiduran pada pelataran masjid. Tidurnya bukan karena capek, tapi lebih pada mengulur waktu. Sambil melihat-lihat pesawat yang memang langsung tampak di seberang masjid. Saat rekonstruksi dilakukan saja, dari masjid tampak jelas barisan pesawat yang kemarin akan terbang dari SSK II.

Dari masjid, pemantauan dilakukannya dua kali. Pertama diperagakannya ia melihat ke runway bandara dibatasi pagar besi. Leluasa dirinya melakukan pemantauan. Sepertinya ia sudah faham pesawat yang akan ia susupi. Pagar besi ini, saat aksi Mario terjadi hanya pagar saja. Belakangan, ketika aksi Mario jadi masalah baru dipasangi kawat berduri, Kamis (9/4) sore lalu.

Karena pada pemantauan pertama dilihatnya Garuda yang akan ia naiki belum memperlihatkan tanda-tanda akan bersiap terbang. Ia kembali lagi ke masjid. Tidur-tiduran lagi. ‘’Golek-golek dulu. Ulur waktu pak. 10 sampai 15 menit,’’ katanya pada PPNS Kemenhub.

Selang waktu yang disebutnya itu, dirinya bangkit dari masjid dan pergi ke pagar lagi. Pada pengamatan kedua inilah dilihatnya pesawat sudah akan berangkat. perkiraan Mario tentang pesawat yang akan berangkat sempat mengundang tanya. Ia menjawab singkat saat ditanyai hal itu. ‘’Ya tahu saja pak,’’ singkatnya.

Pada pantauan kedua inilah, ia kemudian bergegas lari ke arah gapura sekitar 300 meter dari terminal cargo. Disana, ada gerbang yang sebaris dengan terminal. Gerbang ini adalah jalan masuk pada proyek pengerjaan jalan.

Tiba di gerbang, Mario kemudian menyeberangi pagar gerbang dengan memanjat. Sampai di atas pagar setinggi 2,5 meter, ia meloncat turun. Hanya sampai disini pulalah awak media yang meliput jalannya rekonstruksi bisa mengikuti. Dibalik pagar yang dilompati Mario merupakan areal terbatas, setidaknya begitu disebut PPNS Kemenhub. Disini rekonstruksi masuk pada adegan ke delapan dan 19 adegan.

Selama rekonstruksi dilakukan, Mario tampak tak nyaman dengan sorotan kamera yang berulang kali mengambil gambar dirinya. Ia terlihat enggan namun tak bisa berbuat banyak. Sebelum rekonstruksi dilanjutkan di dalam, PPNS Kemenhub memberikan waktu pada Mario untuk menyampaikan pernyataan ke wartawan.

Kontan saja, awak media yang sudah berhari-hari penasaran mendengar penuturan Mario langsung mencecar. Terutama tentang alasan yang mendasari aksi menantang mautnya itu. ‘’Saya ada rencana kuat ketemu Presiden Jokowi. Saya melihat cara terbaik supaya rencana saya berhasil,’’ katanya.

Wartawan kemudian menanyakan, apa tidak terpikir olehnya bahwa aksinya itu berbahaya. Selain bagi dirinya juga bagi ratusan penumpang pesawat yang ia susupi. ‘’Karena saya niat baik. Nyawa saya pertaruhkan,’’ ujarnya cuek.

Pasca aksi Mario, Bandara SSK II kelabakan. Pagar-pagar langsung dipasangi kawat berduri. Inventarisir titik yang dinilai rawan baru dilakukan. Terkait ini ia mengatakan ada prioritas yang harus diperbaiki.

Meski dinilai lemah dalam keamanan bandara, Budi malah menyebut keamanan SSK II masuk dalam kategori baik. Diberikannya ilustrasi.’’Bandara satu tempat di timur Indonesia motor bisa masuk, di Kalimantan  orang bisa berkebun. Di pekanbaru, jauh lebih baik dari di tempat lain. Hanya saja disini ada Mario disana tidak,’’ katanya.

Lebih dramatis dicontohkannya, Mario bisa masuk dan kemudian menyusup ke roda pesawat karena memang berniat untuk itu. Areal yang harus dilalui Mario berat.’’Upaya mario untuk masuk itu sudah seperti Kopassus. Karena banyak rintangan yang dilaluinya,’’ ucapnya.

 

Kini semua pihak menunggu penegakan hukum atas Mario. Namun masih ada yang mengganjal, pasal yang dijeratkan pada Mario hanya mengancam hukuman satu tahun penjara dan denda Rp500 juta. Jika dilihat dari kadar bahaya yang ditimbulkan, ini dinilai tak sepadan. Budi tak menampik hal itu. ‘’Mungkin ini ada pasal yang kita minta direkomendasikan. Hukum harus ditegakkan, ada pasal lain yang akan kita rekomendasikan. Indikasinya dia tidak bawa KTP. Dia ngomong katanya ada yang mau memberi uang, saya tidak tahu itu siapa,’’ pungkasnya. ***

Sumber : jpnn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here