Wali Kota ber-SNI

Oleh R Martin

 

Tabung gas meledak dan menewaskan pemiliknya. Berita ini sering menghiasi media cetak dan elektronik di Indonesia sekarang ini. Bahkan, jumlah korban hingga saat ini tercatat lebih 100 orang.

Banyaknya kejadian itu diakibatkan oleh produk tabung gas, dan aksesorinya tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Sungguh berbahaya jika berbagai produk tersebut masih sering dipakai oleh masyarakat. Ini seperti bom waktu yang siap mengancam keselamatan siapa saja.

Selain tabung gas, helm juga harus ber-SNI guna memberikan jaminan keamanan bagi penggunanya. Meski sebenarnya maut hanya Tuhan yang menentukan, apa salahnya jika manusia mengurangi resiko maut tersebut.

Helm yang tidak sesuai SNI dikhawatirkan dapat membahayakan pemakainya jika sedang mengalami kecelakaan.

Pemerintahpun mewajibkan warganya untuk menggunakan segala produk ber-SNI. Harganya yang mahal bukanlah menjadi soal, yang penting keamanan terjamin.

Ironisnya, berbagai produk ber-SNI tersebut mudah dipalsukan, dan barangnya pun mudah ditemui di pasaran dengan harga yang sangat-sangat terjangkau.

Tentu saja masyarakat akan memilih produk yang murah dengan menomorduakan kualitas. Efeknya bisa terlihat, korban berjatuhan di mana-mana.

Siapa yang salah? Pemerintah, masyarakat selaku konsumen, atau pemalsu produk ber-SNI? Tak usah cari siapa yang salah, kesalahan ada pada diri kita masing-masing.

Pemerintah adalah masyarakat, di dalam masyarakat ada pemalsu. Pemalsu tersebut juga beredar di pemerintahan. Sebuah lingkaran setan yang susah dicari ujungnya.

Untuk sementara kita singkirkankan dulu lingkaran setan tersebut. Beberapa saat lagi, tepatnya pada 4 Agustus 2010, akan digelar pesta demokrasi untuk memilih Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palu.

Pilkada Palu diikuti enam pasangan yang siap bersaing ketat untuk merebut hati masyarakat.

Memilih pemimpin ibarat membeli sebuah produk. Pilihlah produk yang ber-SNI. Kita tidak ingin melihat pemimpin kita “meledak” saat baru menjabat tiga bulan.
Ledakan itu disebabkan kualitas pemimpin kita yang kualitasnya dipertanyakan. Atau lebih parah lagi, pemimpin yang terpilih bisa melukai pemilihnya, seperti helm tidak ber-SNI dengan kualitas rendah, dan pecah saat dibanting.

Pemimpin ber-SNI adalah sosok yang sesuai dengan harapan masyarakat. Secara sederhana, dalam konteks ini, SNI dapat diartikan sehat, jujur, amanah, bersih, serta takwa dan percaya kepada Tuhan. Sangat mudah sebenarnya mencari sosok pemimpin yang memenuhi kriteria tersebut.

Jangan sampai calon para pemimpin itu meraih label SNI dengan cara instan, dan akhirnya mutunya hanya bertahan selama dua tahun saja dari lima tahun yang seharusnya. Lebih parah lagi, mereka dikhawatirkan membuat label SNI sendiri alias palsu kemudian ditempelkan di pundaknya masing-masing.

Selaku konsumen, masyarakat harus jeli memilih pemimpinnya supaya tidak menyesal selama lima tahun ke depan. Kalaupun tidak ada pemimpin ber-SNI di kota ini, pilihlah yang terbaik dari yang ada, insyaAllah bisa amanah. Semoga Wali Kota Palu 2010-2015 memiliki label SNI yang asli, bukan buatan atau dibuat-buat. Wassalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here