Piala dunia dan pilkada Palu

Oleh R Martin

Gelaran Piala Dunia di Afrika Selatan tak berbeda jauh dengan Pilkada Kota Palu yang akan berlangsung pada 4 Agustus mendatang. Kedua even akbar itu sama-sama melibatkan massa, dengan fanatismenya masing-masing. Dan, tentu saja uang yang berputar di kegiatan itu tidaklah sedikit.

Ibarat Piala Dunia, Pilkada Kota Palu juga diikuti sejumlah peserta yang telah lolos seleksi beserta tim sukses dengan seragam kebesarannya yang berwarna kuning, merah, biru, hijau, bahkan ada yang dengan perpaduan berbagai warna.

Bedanya, masyarakat secara sukarela merogoh koceknya guna mendukung tim kesayangannya berlaga di Piala Dunia. Mereka juga rela menyebrang ke Afrika demi memompa semangat timnya saat bertanding.

Sedangkan peserta pilkada justru kebalikannya. Mereka mengeluarkan miliaran rupiah demi meraih simpati masyarakat. Padahal “permainan” yang mereka tampilkan belum jelas, apakah cantik atau justru kebalikannya.

Bagi masyarakat, menerima bantuan dalam bentuk apapun dari peserta pilkada adalah rejeki tersendiri. Tapi, apakah memberikan bantuan harus lima tahun sekali? Apakah bantuan itu ikhlas? Hanya peserta pilkada sendiri yang mengetahui jawabnya.

Momen Piala Dunia sangat dinantikan masyarakat setiap empat tahun sekali. Kalau pilkada hanya dinantikan segelintir orang yang ingin memperebutkan kekuasaan.
Kita lihat saja pada babak final Pilkada Kota Palu pada 4 Agustus 2010. Siapa yang berhak mendapat tropi Piala Dunia. Tim yang solid, kuat, dan bermain cantik kemungkinan besar akan membawa pulang Piala Dunia.

Banyak tim bermodal besar dan mampu menyewa pelatih dengan biaya mahal, tentu saja dengan harapan saja bisa menang di final.
Dana banyak belum tentu bisa menyabet Piala Dunia, lihat saja Prancis, Italia, Afrika Selatan yang hanya bisa menonton putaran babak 16 besar.

Kita semua berharap bahwa jika menjadi pemenang harus dilakukan dengan cara yang sportif, jujur, dan menaruh hormat kepada lawan. Tidak seperti Prancis (maaf bagi fans Ribery cs) yang harus melakukan cara curang untuk tembus ke putaran final Piala Dunia saat bertanding pada babak play off. Prancis akhirnya tersingkir dengan menyimpan berbagai masalah internal.

Piala Dunia dan Pilkada adalah serupa tapi tak sama. Banyak emosi dilibatkan di dua ajang tersebut. Keduanya bermuara pada satu tujuan, menang.

Wasit yang adil

Hal utama yang sangat penting adalah wasit. Baik Piala Dunia ataupun Pilkada membutuhkan wasit yang profesional dan bisa bersikap adil.

Banyak wasit dikeroyok pemain sepakbola karena memberikan keputusan tidak adil. Tidak cukup di lapangan, wasit juga menjadi bulan-bulanan penonton di luar lapangan. Jangan sampai kejadian itu terjadi. Kedewasaan penonton juga menjadi faktor lancar dan tertibnya dua hajatan besar itu.

Selamat menonton Piala Dunia 2010 (baca: berPilkada). Kita tunggu pemenang yang merupakan harapan dari semua orang. Wassalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here