Published On: Sun, Mar 22nd, 2015

Bupati Buol Dilapor ke KPK – Entedaim Dilapor Ke Polda

Share This
Tags

PALU – Akhirnya Amat Entedaim SH, Senin hari ini, melaporkan Bupati Buol dr Amirudin Rauf SPOG MSi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Amat berangkat dari Palu menuju Jakarta via penerbangan pesawat Garuda pukul 15.00 wita, Minggu  (22/3).

Amat berangkat ke Jakarta seorang diri, dengan membawa beberapa berkas temuannya tentang dugaan korupsi Bupati Buol, salah satunya pelepasan asset rumah dinas (rumdis) dokter dan staf RSUD Undata yang diduga telah dilepas/dijual oleh Amirudin Rauf mantan Direktur Undata sekitar tahun 2010 lalu.

Di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri Palu, Amat menegaskan sikapnya tidak pernah berubah untuk melaporkan Bupati Buol Amirudin Rauf ke KPK. “Inikan sudah tekad saya sejak awal, untuk melaporkan kasus dugaan korupsi Bupati Buol Amirudin Rauf ke KPK, “ kata Amat Entedaim.

Ia merinci secara singkat, setumpuk berkas yang ada di kopornya kemarin, semuanya didominasi oleh dokumen tentang dugaan korupsi Bupati Amirudin Rauf. Diantaranya, rekaman gambar pertemuan Amirudin Rauf dengan bos PT Cipta Cakra Murdaya (PT CCM) Group Murdaya Poo di sebuah Hotel di Jakarta.

“ Salah satu dokumen penting yang saya bawa ke Jakarta ini adalah dokumen tentang rekaman pertemuan Bupati Amirudin Rauf dengan Murdaya Poo, “ ungkapnya.

Selain memboyong dokumen pertemuan Bupati dengan Murdaya Poo, ia juga membawa sejumlah dokumen tentang dugaaan korupsi terkait pelepasan rumdis dokter dan staf RSUD Undata, yang sebelumnya telah diserahkannya ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulteng, setelah kasus itu beberapa hari merebak ke publik Sulteng.

“Saya tidak setengah-setengah dalam mendrill kasus ini. Pokoknya kasus ini harus tuntas, harus ada kepastian hukum. Apalagi KPK dan ICW (Indonesian Curuption Watch, red) akan saya datangi di Jakarta nanti. Do’akan saya berhasil, “ tandasnya.

Ia kembali menegaskan, sebagai putera Sulteng yang konsisten untuk menegakkan hukum di negeri ini, ia berkeinginan untuk mewujudkan aparatur negara yang bersih dan jujur.

“Inilah tekad saya yang sebenarnya. Inilah inti perjuangan saya, dan saya tidak pernah berharap sebuah iming-iming hadiah dari siapapun. Termasuk misalnya upaya negosiasi dan segala macam dari orang yang sedang saya soroti, “ tegasnya, lalu berpamitan kepada media ini.

LAPOR KE POLDA

Sementara itu, Senin (23/2), Bupati Buol dr Amirudin Rauf SPOG MSi melaporkan Amat Entedaim SH, terkait pernyataan Amat Entedaim yang menduga Bupati Buol telah melakukan konspirasi dalam sebuah pertemuan dengan bos besar PT Cipta Cakra Murdaya (PT CCM) Group, Murdaya Poo, di Jakarta, pada Desember tahun 2014 lalu.

Pernyataan Amat Entedaim, yang menyebutkan adanya pertemuan tak biasa antara Bupati Buol Amirudin Rauf dengan Murdaya Poo, yang diduga membahas hasil panen di luar HGU, kemudian berujung pada dugaan permintaan fee itulah yang akan dilaporkan Bupati Buol Amirudin Rauf ke Polda Sulteng.

“Saya akan melaporkan Amat Entedaim pada hari Senin nanti (hari ini, red) di Polda Sulteng, dan setelah itu kami akan menggelar konfrensi pers dengan wartawan, “ kata Amirudin Rauf, saat dihubungi, Sabtu (21/2).

Sementara itu, Amat Entedaim, yang dikonfirmasi, Minggu (22/2), terkait rencana Bupati Amirudin Rauf yang akan melaporkan dirinya ke Polda Sulteng, mengatakan, silahkan saja bupati menempuh jalur hukum, bila merasa tersinggung dengan pernyataan kritisnya tersebut. “Tidak apa-apa, silahkan saja pak bupati menempuh jalur hukum. Justru ini baik bagi saya, dan baik bagi seluruh masyarakat Sulteng, agar di depan aparat hukum atau di pengadilan sekalipun, semakin banyak yang terungkap di balik misteri pertemuan itu. Sekaligus melihat, siapa sesungguhnya yang benar, “ ujar Amat.

Ia juga mengatakan, setelah dirinya dilapor di Polda, dia masih akan melakukan langkah-langkah berikutnya. Salah satunya langkah itu, ia akan melaporkan Bupati Buol ke KPK. “ Saya setelah dilapor di Polda, juga akan berangkat ke Jakarta ke gedung KPK, untuk melakukan upaya legal standing ke KPK, melapor secara tertulis dan memberikan data-data faktual tentang adanya kasus tindakan korupsi (gratifikasi, red) yang dilakukan Bupati Buol saat ini, “ papar Amat.

Amat kembali menjelaskan, pertemuan yang terjadi antara Bupati Amirudin Rauf dengan Murdaya Poo, diduga kuat sebagai upaya “meminta jatah” fee dari hasil panen PT Hardaya Inti Plantation (PT HIP) anak perusahaan PT CCM di Buol, yang berada di luar HGU seluas 4.500 hektar kepada Murdaya Poo. Hasil panen, terang Amat, cukup wah, sekali panen bisa mencapai keuntungan Rp 8 miliar hingga Rp 9 miliar. Inilah yang dia duga dikejar oleh Bupati Buol. “Saya menduga, pertemuan itu sebagai upaya untuk meminta jatah fee hasil panen PT HIP, yang berada di luar HGU, “ duganya.

Dijelaskan Amat, panen yang berada diluar HGU itu sebenarnya sebuah keuntungan “haram” bagi siapa saja yang menerimanya, baik bagi perusahaan PT HIP (PT CCM Group) maupun pihak lain, yang coba-coba ingin mengambil hasil panennya. Sebab, wilayah di luar HGU, bukanlah wilayah yang diizinkan pemerintah, karena itu menikmati hasil produksinya dikategorikan sebagai pelanggaran, dan mesti mendapat hukuman sesuai undang-undang yang berlaku, termasuk undang-undang tindak pidana korupsi (tipikor). “Pertemuan tak lazim antara Bupati Buol dengan Murdaya Poo, di luar protokoler, dalam sebuah hotel. Secara etika, seharusnya tidak bisa dilakukan. Apalagi pertemuan itu dilakukan bukan di kantor Bupati, tetapi di hotel di Jakarta, “ tambahnya. (mch/Radar Sulteng)

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: