Media Abal-Abal Versus Media Mainstream

Di media sosial terlihat sejumlah orang cerdas dan berpendidikan memposting berita yang sumbernya dari media abal-abal. Media abal-abal Online dalam bentuk blog dan fanpage memuat berita yang provokatif dan agitatif yang bertujuan menyerang kelompok tertentu dan bahkan secara terang-terangan menyerang kewibawaan pemerintah. Pasca tertangkapnya pengelola Trio Macan 2000, aktivitas media abal-abal justru tidak kehilangan nyalinya dan masih tetap menjalankan misi mereka menebar berita-berita agitatif dan provokatif.

Mengkritik kelompok tertentu dan mengkritik Pemerintah liwat media mainstream sangat diharapkan agar pemerintah selalu berjalan di rel yang benar (On the right track) tapi menghina dan menghujat kelompok tertentu dan pemerintah liwat media abal-abal sangat disesali.

Orang cerdas dan berpendidikan sebaiknya tidak menjadikan media abal-abal yang sangat partisan menjadi rujukan. Media abal-abal bukan produk jurnalistik; tdk tunduk pada UU Pers dan kode etik jurnalistik; sering tdk cover both sides ; beritanya tdk berimbang.

Akhir-akhir ini ada banyak media abal-abal Online yang menjadi alat propaganda politik. Media abal-abal ini mirip media Obor Rakyat yang pernah beredar jelang Pilpres lalu dan dimusnahkan oleh masyarakat dan petugas berwenang. Berita media abal-abal sangat  agitatif, provokatif dan propagandis serta sangat bias dan tendensius. Contentnya mengandung buruk sangka (Negative Prejudice) dan sering menjadi alat penebaran benih-benih ideologi kebencian (hatred ideology). Tujuannya antara lain untuk pembunuhan karakter lawan politiknya.

Ironisnya media partisan dan abal-abal seperti ini berafiliasi dengan Partai berbasis agama dan ada yang didukung oleh Ormas afiliasi agama. Media ini memakai nama Islam untuk kepentingan politik yang kurang beretika. Media ini berlindung dibalik kesucian agama tapi sebaliknya justru pemberitaan mereka sangat tendensius dan bias karena sering menyerang lawan politiknya dengan argumentasi argresif dan pandangan yang radikal.

Medianya ini terkadang memuat berita yang isinya hujatan dan fitnah kepada pemerintah. Sebagai seorang Muslim dan pengurus Ormas Keagamaan (Kahmi dan ISNU) saya prihatin dengan sepak terjang pengelola media partisan seperti ini. Kelihatan justru tindakan mereka hanya merusak nama Islam dan nama partai afiliasinya di mata masyarakat Indonesia yang majemuk dan multikultur serta masyarakat yang cinta damai.

Masyarat Indonesia sangat  menginginkan berita sejuk dan objektif serta beritanya dapat dipertanggung jawabkan. Orang cerdas harus hanya menjadikan rujukan media mainstream yang beritanya dapat dipertanggung jawabkan dan jurnalisnya tentu selalu menghormati kode etik jurnalistik dan UU Pers.

Penulis: Mochtar Marhum, Akademisi, Pemerhati Media dan Blogger Sosial-Humaniora

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here