Menyikapi Meninggalnya BMP Asal Langaleso di Negara Tujuan: Sebuah Pelajaran Penting

ROHANI, buruh migran perempuan asal Lengalesso tidak bisa lagi bertemu dengan anak-anaknya. Perempuan yang berangkat bekerja keluar negeri di tahun 2010 ini mengalami sakit hingga meninggal di negara tujuan. Meski sempat memberi kabar pada keluarga perihal kondisi kesehatannya, seminggu sebelum dia meninggal, namun keluarga tidak bisa melakukan apa-apa. Kini Keluarga hanya bisa menunggu kedatangan sekalipun tinggal jenazah ibu Rohani.

Pada tanggal 30 januari 2014, Solidaritas Perempuan (SP) Palu mendapatkan informasi dari salah seorang masyarakat desa Langaleso Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi, bahwa adanya buruh migran Perempuan (BMP) atau umumnya disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Langaleso telah meninggal dunia dirumah sakit negara tujuan tempat bekerja. Identitas BMP yang sementara kami peroleh bahwa BMP bernama Rohani BT Hamila Lojo yang bekerja dinegara tujuan Saudi Arabia.

Dari Informasi ini, Solidaritas Perempuan sebagai lembaga yang salah satu fokus issu kerjanya yakni  menangani kasus-kasus Pelanggaran Hak-Hak Buruh migran perempuan, merasa penting untuk kemudian menindaklanjuti informasi ini.

Maka pada saat itu juga, team SP Palu mengunjungi rumah keluarga BMP yang dimaksud. Didesa Langaleso kami bertemu dengan keluarga BMP yakni suaminya (bapak Asrun) dan ibu kandung dari Rohani BT Hamila Lojo. Suami BMP yakni bapak Asrun mengatakan Pada tanggal 28 januari 2010 Rohani BT Hamila Lojo berangkat bekerja menjadi calon anggota buruh migrant asal dari Desa Langaleso kecamatan Dolo, kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, melalui PT. Jauhara Perdana Satu Cabang Palu. Dari cerita bapak Asrun bahwa benar isterinya telah meninggal disalah satu rumah sakit di Arab Saudi, kabar ini disampaikan langsung oleh salah satu BMP yang kebetulan juga berasal dari desa Langaleso yang sama bekerja dinegara tujuan yang sama, kabar diterima pada tanggal 29 Januari 2014 melalui telephone genggam.

Bapak Asrun juga bercerita bahwa seminggu sebelum menerima berita wafat, BMP Ibu Rohani sempat menelfon suaminya dan mengatakan bahwa dirinya sedang sakit dan sekarang berada dirumah sakit. Itulah komunikasi terkahir ibu Rohani pada keluarganya di desa Langaleso. Seminggu kemudian suami korban mendengar berita bahwa istrinya sudah meninggal. Keluarga korban berharap dan berkeinginan agar jenazah ibu Rohani bisa dipulangkan ke Indonesia di Desa Langaleso Kabupaten Sigi. Itulah harapan keluarga setidaknya masih bisa melihat jenazah isteri dari bapak Asrun dan ibu dari tiga orang anak yang ditinggalkan.

Kondisi Rohana merupakan cerminan dari kerentanan yg dialami Buruh Migran Perempuan, salah satunya adalah kesehatan buruh migran perempuan. Hal ini menunjukkan Bahwa selama ini akses kesehatan bagi BMP di luar negeri sangatlah minim, harusnya pemerintah punya sistem jaminan dan pelayanan kontrol serta penanggulangan kesehatan bagi WNI sampai ke luar negeri. Saat ini  indonesia sudah meratifikasi konvensi perlindungan hak-hak buruh migran perempuan dan keluarganya. Indonesia penting untuk mengharmonisasi konvensi tersebut kedalam kerangka kebijakan nasional dan kebijakan daerah tentang hak-hak buruh migran perempuan, termasuk dalam hal ini melindungi hak terkait akses kesehatan bagi buruh migran.

Peristiwa meninggalnya buruh migran perempuan ditempat kerja (dinegara tujuan) asal sulawesi tengah seperti ini bukanlah hal yang pertama kali terjadi. Ini merupakan kesekian kalinya dari BMP yang terdata, baik karena kekerasan yang dialami oleh BMP dinegara tujuan ataupun karena kondisi sakit. Olehnya solidaritas perempuan menyerukan kepada pemerintah daerah sulawesi tengah dan pemerintah kabupaten terkait, perlu segera menyikapi kebijakan-kebijakan baik terkait perlindungan hak-hak BMP dan juga kebijakan daerah lainnya yang dapat membuka akses ekonomi perempuan untuk meminimalisir keinginan perempuan untuk bekerja sebagai buruh migran perempuan.

Selanjutnya Menyikapi Keinginan keluarga TKW, SP Palu melakukan presure agar keinginan tersebut segera ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait. Selanjutnya SP Palu bertemu langsung dengan pihak petugas lapangan yang merekrut TKW bersangkutan (sponsor) dan mendiskusikan pengurusan pemulangan jenazah TKW ke Indonesia. Menurut sponsor dan penyelenggara kepulangan jenazah ke indonesia akan diproses sesuai prosedurnya, sponsor sudah harus melapor ke Dinas NAKERTRANS Propinsi dan Kabupaten serta ke BNP2TKI. SP Palu juga menghubungi Pihak PPTKIS yang memberangkatkan mendorong untuk segera memproses pemulangan jenazah Rohani.

Infromasi dari sponsor ke keluarga TKW, bahwa jenazah akan tiba di Palu pada tanggal akhir Februari atau awal Maret. SP Palu mengkonfirmasi kepihak PPTKIS, Diterima informasi dari pihak PPTKIS yang memberangkat pada tanggal 24 Februari 2014 bahwa “belum, karena pengkargoan jenazah harus koneck dengan pemberangkatan jakarta kepalu. Dan sebelumnya KBRI mesti menyurat Ke KEMNLU dan pihak bandara untuk informasi kedatangan jenazah info kesiapan koneckting tersebut. Informasi terakhir dari agen PPTKIS pada 2 Maret 2014 bahwa jenazah telah berada di Jakarta dan sementara pengurusan kepulangan jenazah ke Palu.

(Ditulis oleh Indri dari Solidaritas Perempuan (SP) Palu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here