Aset Bank Perkreditan Rakyat di Sulteng Capai Rp1.059 Miliar

0
144

PALU- Aset Bank Perkreditan Rakyat di Sulteng Capai Rp1.059 Miliar atau memiliki pangsa sebesar 5,74% terhadap total aset perbankan Sulawesi Tengah. Jumlah tersebut meningkat signifikan bila dibandingkan share aset BPR pada triwulan I 2012 yang hanya mencapai 3,13%.

Humas Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Hasudungan Paulungka mengatakan beberapa indikator kinerja BPR lainnya juga menunjukkan perbaikan dari kondisi sebelumnya.

“Secara tahunan aset BPR se Sulawesi Tengah tumbuh 121.45% atau 10.99% (qtq). Pertumbuhan aset tersebut didorong oleh pertumbuhan kredit sebesar 149.15% (yoy), dan pada sisi pasiva jumlah DPK tumbuh sebesar 50,59% (yoy),”Ungkapnya.

Dia menjelaskan perluasan jaringan kantor BPR yang direalisasikan pada semester sebelumnya telah membawa dampak terhadap peningkatan realisasi kredit pada triwulan laporan.

Disebutkan jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun BPR pada triwulan laporan
adalah sebesar Rp356 miliar atau tumbuh 50,59% dalam satu tahun terakhir dan secara
kuartalan tumbuh sebesar 25,44%.

Komposisi dana pihak ketiga masih didominasi oleh tersebut simpanan berbiaya tinggi (deposito) dengan pangsa sebesar 85.81%, sementara simpanan dalam bentuk tabungan memiliki pangsa 14.19%.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa sebagian besar masyarakat memilih BPR sebagai tempat untuk menyimpan dana karena bersedia memberikan imbal jasa yang lebih menarik dari bank umum.

Hasudungan juga menyampaikan pada sisi aktiva, jumlah kredit yang disalurkan BPR juga mengalami pertumbuhan positif. Pada periode laporan total kredit yang diberikan adalah sebesar Rp952 miliar, tumbuh 149,15% (yoy) atau 17,44% (qtq).

Pertumbuhan kredit pada triwulan laporan didorong oleh pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja yang tumbuh masingmasing sebesar 104.5% (qtq) dan 50.5% (qtq). Sementara kredit konsumtif yang memiliki pangsa hingga 75.10% tercatat tumbuh 6,9% (qtq).

“Adanya pertumbuhan yang lebih tinggi pada kelompok kredit investasi dan modal kerja merupakan hal yang menggembirakan karena dengan demikian peran BPR sebagai salah satu penggerak ekonomi di daerah berjalan semakin baik,”Kata Hasudungan.

Sementara itu, kualitas kredit BPR pada akhir triwulan laporan tercatat mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari adanya peningkatan rasio Non Performing Loans (NPLs)-gross dari 0.81% pada triwulan sebelumnya menjadi 1.02% pada triwulan laporan.

Namun demikian rasio NPL tersebut masih lebih rendah dibandingkan posisi triwulan yang sama tahun lalu sebesar 1.82%. Berdasarkan kredit menurut jenis penggunaan, NPL tertinggi terjadi pada kredit modal kerja dengan NPL sebesar 2.39% diikuti kredit investasi dan kredit konsumtif masing-masing sebesar 1.44% dan 0.69%.(bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here