Nilai Investasi Sulteng Peringkat Enam Nasional

PALU-Nilai Investasi Sulawesi Tengah pada triwulan 1-2013 menempati urutan ke-enam nasional dengan nilai investasi mencapai USD517 juta.Nilai investasi ini lebih besar ditopang oleh proyek kilang gas alam cair (LNG) PT Donggi Senoro LNG di Desa Uso, Kabupaten Banggai dengan persentase sebesar 96,12% dari 14 proyek.

Humas Kantor Bank Indonesia Perwakilan Sulteng Hasudungan Paulangka Siburian mengatakan Sulteng sebagai daerah yang memiliki potensi ekonomi tinggi juga tidak luput dari bidikan para investor. Pada triwulan I-2013 realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) Sulawesi Tengah mencapai USD516,80 Juta atau jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya USD1,1 Juta.

“Realisasi pembangunan proyek kilang gas alam cair (LNG) PT Donggi Senoro LNG di Desa Uso, Kabupaten Banggai, Sulteng hingga akhir Februari telah mencapai 57%,”kata Hasudungan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Palu.

Dia menambahkan konstruksi kilang LNG yang dimulai sejak Januari 2011 ini direncanakan akan  memakan waktu 48 bulan, dengan pengiriman LNG pertama direncanakan mulai akhir 2014. Proyek LNG Donggi-Senoro dibentuk oleh tiga anggota konsorsium, yaitu Pertamina (29%), Medco (20%) dan Mitsubishi Jepang (51%) dengan nama PT. Donggi Senoro LNG yang tertuang dalam gas sales agreement (GSA) pada tanggal 22 Januari 2009 dengan cakupan perjanjian tentang kombinasi ekspor dan domestik dalam pengalokasian gas.

“Proyek ini dikembangkan dengan pola pengembangan hilir (downstream) dan tidak dijamin oleh pemerintah. Dalam hal ini sebanyak 100% biaya proyek ditanggung oleh investor (penanaman modal asing/PMA). Proyek pengembangan gas Senoro terdiri dari pembangunan kilang senilai USD2,8 miliar yang dilakukan PT Donggi-Senoro LNG (DS LNG), pengeboran di Blok Senoro-Toili 600 juta dolar AS, dan Blok Matindok USD 275 juta,”Ujarnya.

Cadangan LNG Donggi- Senoro sebesar 2,3 triliun kaki kubik, sedang kapasitas produksinya 2 juta ton/tahun. PT DS LNG telah menandatangani perjanjian jual beli LNG dengan 3 pembeli selama 13 tahun sejak mulai beroperasinya kilang pada 2014. Ketiga perusahaan tersebut adalah Chubu Electric Power Co Inc (Jepang) dengan volume 1 juta ton per tahun, Kyushu Electric Power Co Inc (Jepang) dengan volume 300 ribu ton per tahun dan Korea Gas Corporation (Kogas) 700 ribu ton per tahun.

Proyek pengembangan gas Senoro mencakup pengembangan gas di Blok Senoro-Toili yang dikelola oleh Join Operating Body (JOB) Pertamina-Medco dan area Matindok yang dioperasikan Pertamina. Gas dari kedua lapangan tersebut kemudian diolah menjadi gas alam cair di Kilang Donggi-Senoro. Proyek Donggi-Senoro merupakan proyek pengembangan gas alam cair pertama di Indonesia yang menggunakan skema hilir.

Proyek gas DSLNG merupakan salah satu kegiatan utama koridor Sulawesi dalam Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Sesuai kesepakatan antara pemerintah dengan konsorsium Pertamina-Medco-Mitsubishi, maka sebanyak 75% gas yang diolah PT DS LNG sebagai operator kilang dialokasikan untuk diekspor dan 25% sisanya untuk kebutuhan pembangkit listrik dan pupuk.

Besarnya nilai investasi dan strategisnya peran proyek DSLNG tentu akan memberikan banyak manfaat positif baik bagi Indonesia secara umum maupun Sulteng pada khususnya. Disebutkan manfaat al;dengan asumsi proyek berjalan 13 tahun dan harga minyak mentah US$70 per barel,negara diperkirakan memperoleh pendapatan US$6,7 miliar.Proyek diperkirakan menyediakan ribuan tenaga kerja langsung yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan tenaga kerja tersebut.Memberikan eksternalitas positif (spillover effect) bagi lingkungan sekitar seperti munculnya investasi hotel, makanan, dan jasa lain yang melibatkan pengusaha.

Manfaat lainnya adalah pengalokasian gas untuk pembangkit listrik di dekat lokasi proyek yang akan menumbuhkan industri baru. Dengan adanya kecukupan daya listrik di daerah Banggai akan meningkatkan daya saing investasi Sulteng untuk menarik investor lainnya
dalam menanamkan modalnya di provinsi terluas di Sulawesi ini.

Dalam kaitannya dengan PDRB Sulteng, proyek konstruksi DSLNG sebesar USD2,8 miliar tercatat dalam sektor bangunan. Dalam kurun waktu triwulan I-2011 hingga triwulan IV- 2012 yang merupakan periode dimulainya proyek konstruksi DSLNG, dapat dilihat bahwa sektor bangunan memiliki rerata pertumbuhan PDRB sebesar 17,07% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan dengan rerata pertumbuhan periode triwulan I-2007 s.d. triwulan IV-2010 dengan pertumbuhan sebesar 10% (yoy).

“Ke depan, pasca produksi LNG, pencatatan PDRB akan beralih dari sektor bangunan ke sektor industri pengolahan mengingat output yang dihasilkan telah memiliki value added atau barang setengah jadi”katanya.

Disisi lain, munculnya industri jasa yang berada di sekitar area DSLNG seperti toko, hotel dan restoran pada gilirannya akan meningkatkan kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran.

Proyek pembangkit yang nantinya akan dibangun juga dapat meningkatkan kinerja sektor listrik, gas dan air dan memberikan multiplier effect bagi sektor lainnya mengingat infrastruktur ini memiliki keterkaitan yang cukup besar dengan sektor lainnya memiliki daya tarik yang besar bagi para investor.

“Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa proyek DSLNG memberikan manfaat yang besar bagi Sulteng dan menjamin keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Sulteng dari berbagai sektor dalam kurun waktu hingga 15 tahun ke depan,”Ungkapnya(bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here