KAP Keluarkan “Catatan Hitam Buruh Perempuan”

0
183

PALU – Terkait dengan hari buruh yang dipeingati setiap tanggal 1 Mei, Komite Aksi Perempuan (KAP) mengeluarkan “Catatan Hitam Buruh PerempuanIndonesia”. Catatan itu mengungkap perlakuan buruh perempuan Indonesia yang tidak senonoh dan menjadi catatan kelam perjalan bangsa ini.

Dalam catatan hitam itu, KAP mengunkap sejumlah kasus perempuan Indonesia yang mengalami diskriminasi dalam pekerjaan, kekerasan seksual yang berakibat secara psikis. Ia mencontohkan kasus Omih, seorang buruh perempuan di Tangerang yang harus dipenjara karena mempertahankan haknya dalam bekerja. Omih, kemudian juga harus kehilangan anaknya karena perjuangannya dalam mempertahankan haknya bekerja.

Kasus kekerasan lain juga menimpa seorang jurnalis, Nurmala Sari Wahyuni di Kalimantan yang mendapat kekerasan dari orang tak dikenal ketika melakukan peliputan. Nurmala kemudian harus kehilangan bayi yang dikandungnya.

Kasus lainnya menimpa Satinah, perempuan buruh migran asal Ungaran, Jawa Tengah yang dieksekusi pancung. Hal ini terjadi karena Pemerintah RI tidak melakukan advokasi pada Satinah. Kasus Satinah juga menambah data 420 buruh migran yang terancam hukuman mati dan 99 lainnya yang sudah dieksekusi. Sejumlah buruh migran perempuan lainnya yang bekerja di luar negeri juga menjadi korban perdagangan manusia.

Kasus lain juga menimpa seorang buruh perempuan di Jawa Barat yang di PHK oleh manajemen perusahaannya karena jujur menyatakan statusnya yang terkena HIV/AIDS .

Beberapa kasus diskriminasi lain juga diterima buruh perempuan lain, seperti banyaknya kasus PRT (Pekerja Rumah Tangga Anak) yang hampir semuanya adalah perempuan. Para PRT Anak ini harus bekerja selama 14-18 jam sehari, bekerja lebih dari satu pekerjaan, diupah murah, tidak diberikan libur maupun cuti dan kehilangan waktu sosial mereka.

Sejumlah buruh yang bekerja di Jakarta Utara juga banyak mengalami pelecehan dan kekerasan seksual, seperti harus mau menikah dengan pengusaha/ majikan di pabrik agar diangkat sebagai karyawan tetap di perusahaan tersebut. Kasus pelecehan ini juga sering menimpa beberapa jurnalis perempuan yang dirayu oleh narasumbernya ketika mereka melakukan peliputan.

Diskriminasi lain diterima para buruh perempuan yang harus mengenakan busana tertentu karena kewajiban mengikuti hukum atau Perda (Peraturan Daerah) yang berlaku. Para buruh perempuan ini selain harus mengenakan busana tertentu, juga harus mematuhi penerapan jam malam bagi perempuan. Perda ini telah melakukan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan yaitu mempersempit atau membatasi akses sosial bagi para buruh perempuan.

KAP menyebutkan, di dalam organisasi, para buruh perempuan sangat minim mendapatkan posisi di dalam organisasi Serikat Pekerja. Mereka umumnya tidak diberikan kesempatan sebagai pemimpin. Di kalangan media, juga tak banyak pemimpin perempuan. Hanya sekitar 5% jurnalis perempuan yang menjadi pemimpin di medianya.

Secara umum, para buruh perempuan juga mengalami diskriminasi dalam penerimaan upah, asuransi dan fasilitas kerja. Semua kasus ini menandakan bahwa buruh perempuan telah mengalami kekerasan, diskriminasi dan mengalami upaya-upaya pemiskinan.

Di hari Buruh Internasional (May Day), Komite Aksi Perempuan yang terdiri dari organisasi buruh, organisasi perempuan, organisasi mahasiswa, hukum, organisasi anak dan sejumlah organisasi masyarakat sipil lain akan melakukan aksi pada Rabu, 1 Mei 2013 jam 8.00 Wib yang bertempat di Bundaran Hotel Indonesia. Mereka akan membawa Instalasi Besar berupa: Buku Hitam yang merupakan representasi Catatan Hitam Buruh Perempuan Indonesia dan akan diserahkan pada presiden di istana negara. (Wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here