Sulteng targetkan produksi Udang Vaname 600.000 ton pertahun

0
134

Palu-Sulawesi Tengah dalam kurun beberapa tahun terakhir mengembangkan segala kemampuan untuk mengolah sektor kelautan dan perikanan  sebagai penggerak perekonomian daerah dan salah satu yang dikembangkan yakni udang vaname dengan metode superintensif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di negara-negara Eropa, Amerika dan Jepang.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Hasanuddin Atjo mengatakan potensi kelautan dan perikanan di Sulteng cukup besar dan untuk pengembangan udang vaname terdapat beberapa kabupaten yang memiliki potensi tersebut yakni kabupaten Donggala, ParigiMoutong, Tolitoli, Poso, Banggai, Banggai Kepulauan, Tojo Unauna dan Morowali.

“Udang ini kebutuhannya tidak terbatas seiring dengan pertumbuhan penduduk di dunia yang kini mencapai 7 miliar pada tahun 2012 sehingga kebutuhan akan udang sebagai bahan makanan pun akan meningkat.Olehnya budidaya udang menjadi komoditas yang penting dan bernilai ekonomis untuk dibudidayakan dan dikembangkan”ujarnya

Hasanuddin Atjo menyebutkan Kabupaten Parigimoutong menjadi pilot percontohan untuk budidaya udang vaname dengan menggunakan inovasi super intensif dengan memanfaatkan tambak untuk menjadi kolam sehingga mampu memproduski 350 ton udang vaname.

“Kami menargetkan 3.000 hektar lahan yang akan mengembangkan budidaya udang vaname di beberapa kabupaten yang saya sebutkan tadi dengan harapan masing-masing kabupaten tersebut mampu memproduksi udang vaname hingga 200 ton sehingga dalam setahun bisa kita targetkan produksinya mencapai 600.000 ton,”harap Hasanuddin Atjo.

Dari beberapa kabupaten pengembangan budidaya itu akan melalui dua pelabuhan terbesar di Sulteng untuk ekspor  yakni Pelabuhan Pantoloan untuk wilayah yang berdekatan seperti Donggala dan untuk Pelabuhan Banggai untuk Kabupaten TojoUnauna dan sekitarnya.

Namun demikian dalam penyiapan infrastruktur menurutnya ada beberapa hal yang mestinya dapat dikembangkan sendiri dalam negeri sehingga biayanya bisa lebih kurang semisal untuk penyediaan kincir yang selama ini masih impor harganya mencapai Rp4 juta padahal jika dikembangkan di dalam negeri sendiri tentunya harganya mungkin jauh lebih murah termasuk peralatan lainnya.

Sementara untuk pemenuhan benih menurut Hasanuddin Atjo tidak menjadi persoalan mengingat teknologinya sudah dikuasai asalkan tidak terganggu dengan adanya pencemaran maupun situasi keamanan mengingat hal itu semua menjadi bagian yang penting dalam mengembangkan sebuah investasi yang intensif.(bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here