Investasi untuk udang Vaname capai Rp350 Juta

0
147

Palu-Investasi yang dikeluarkan di luar lahan membangun satu petak tambak super intensif  termasuk dukungan peralatan seperti tambak Ketua SCI Sulawesi Hasanuddin adalah sebesar Rp320 juta. Modal kerja setiap siklus untuk pembelian benih, pakan, pembayaran listrik dan beberapa kebutuhan lainnya sebesar Rp350 juta rupiah. 

Selanjutnya nilai rupiah yang diperoleh dari produksi 15,3 ton tersebut sebesar Rp675 juta rupiah, sehingga margin yang diperoleh setelah dikurangi modal kerja tanpa penyusutan sebesar Rp325 juta.
Pada satu sisi produktivitas dengan menerapkan inovasi ini dapat mencapai 15,3 ton per 1000 meter persegi atau 153 ton per ha.
Namun pada sisi lain perlu pengkajian lebih jauh seberapa besar angka produktivitas yang dapat direkomendasikan agar usaha ini dapat berkelanjutan dengan tidak menimbulkan dampak lingkungan.
Oleh karena itu Lembaga Penelitian dan Pengembangan di Kementerian Kelautan dan Perikanan diharapkan dapat melakukan pengkajian secara sinergi guna menemukan seberapa besar produktifitas yang direkomendasikan.
Ia menambahkan dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan seyogyanya bisa melihat China yang dalam proses pembangunan ekonominya mereka membangun infrastruktur kelautan dan perikanan mulai dari hulu hingga hilir baik dari sisi produksi hingga nilai tambah.

“Kita juga melakukan hal itu dengan meningkatkan inovasi-inovasi dalam pengembangan infrastruktur untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah bahkan sampai titik zero dimana tidak ada limbah, semua dimanfaatkan,”ungkap Hasanuddin.

Sebagai catatan produksi udang nasional tahun 2012 sekitar 450.000 ton dan memposisikan Indonesia di urutan keempat dunia setelah China, Thailand dan Vietnam. Pada tahun 2013 diproyeksikan sebesar 550.000 ton dan tahun 2014 sebesar 700.000 ribu ton. 

“Kita berkeyakinan bahwa target tersebut dapat dicapai bahkan melebihi, selama formula inovasi itu dilakukan secara benar,”katanya.

Upaya meningkatkan produktivitas secara massal tidak cukup hanya dengan inovasi, namun peranan lembaga keuangan dengan bunga yang layak sangat diharapkan. Demikian pula dengan peran industri dalam negeri untuk memproduksi kincir air, pompa, automatic feeder dan sejumlah peralatan lainnya yang selama ini masih di impor.  Perbaikan sistem logistik dan penyediaan listrik yang mudah dan murah juga menjadi faktor yang akan mempengaruhi pencapaian target tersebut.(bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here