BNI salurkan PKBL senilai Rp5 miliar

BNI menyalurkan dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan atau (PKBL) senilai Rp 5 miliar untuk memperkuat layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama di daerah yang sulit dijangkau dan pulau terdepan. Dengan dukungan perbankan ini, pemerintah juga dapat terbantu untuk semakin mendekati target percepatan pencapaian Millenium Development Goals (MDG’s) bidang kesehatan yang harus dikejar oleh Indonesia.

Terdapat lima program sasaran yang akan didukung oleh dana PKBL tersebut, yakni pertama, program peningkatan Puskesmas dan jaringannya, baik sarana dan prasana, serta peningkatan layanan. Kedua, peningkatan kemampuan dan pemberian penghargaan bagi tenaga medis, khususnya yang bertugas di daerah terpencil, perbatasan, dan pulau terdepan Indonesia.

Ketiga, upaya preventif berupa pendidikan dan sosialisasi HIV – AIDS melalui Program ”Aku Bangga Aku Tahu”. Keempat, mendukung program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Kelima, membantu program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

”Kehadiran dunia usaha pada hari ini menunjukkan komitmen dunia usaha untuk mendukung program-program Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat,” ujar Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo saat mewakili dunia usaha dalam penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan Kementerian Kesehatan di Jakarta.

Sebagian dari dana Rp 5 miliar yang disalurkan BNI, yakni sebesar Rp 1,5 miliar, dialokasikan untuk mendukung percepatan pencapaian target distribusi informasi tentang HIV dan AIDS pada kelompok usia paling rentan terkena wabah. Meski demikian, BNI berharap kontribusinya ini dapat meringankan beban pemerintah dalam memberantas berbagai masalah kesehatan lainnya, misalnya kematian ibu dan anak.

Sesuai target MDG’s, pada tahun 2015, Indonesia sudah harus mendistribusikan informasi tentang HIV dan AIDS secara benar dan komprehensif kepada 95 persen penduduk berusia 15-24 tahun. BNI menaruh perhatian serius pada pencapaian target ini karena berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI, distribusi pengetahuan HIV dan AIDS masih membutuhkan kerja keras, sebab hingga 2010 masih pada kisaran 11,4 persen.

”Besar harapan kami program distribusi informasi mengenai HIV dan IDS tersebut akan mempercepat distribusi pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang  HIV dan AIDS, khususnya kepada kelompok usia 15-24 tahun yang paling rentan terkena penyakit tersebut,” tutur Gatot.

Langkah BNI ini memungkinkan untuk dilakukan karena setiap tahunnya BNI terus berkomitmen agar setidaknya 4% dari laba yang diperoleh dapat dialokasikan untuk membantu masyarakat sekitar melalui PKBL. PKBL di BNI diberi nama Corporate Community Responsibility (CCR) bukan Corporate Social Responsibility (CSR), seperti pada umumnya dipakai banyak lembaga. Penggunaan idiom CCR dimaksudkan agar seluruh dukungan yang BNI berikan dapat lebih memberdayakan penerimanya, bukan sekadar pemberian seperti CSR(sumber bni.co.id)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here