Pertemuan G-20: Indonesia Dukung Ciptakan Kerangka Pertumbuhan Global Yang Kuat, Berkelanjutan dan B

JAKARTA-Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo dan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, memimpin delegasi Indonesia pada pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (MGM) negara anggota G-20, pada 4-5 November 2012 di Mexico City, Mexico.Hal itu disampaikan Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Dody Budi Waluyo

Dody Budi Waluyo menyampaikan di tengah kondisi global yang diwarnai dengan pertumbuhan ekonomi global yang lemah dan pemburukan risiko yang terutama disebabkan oleh permasalahan di kawasan Eropa dan potensi pengetatan fiskal yang tajam di Amerika Serikat, G-20 kembali menegaskan tekadnya untuk memperkuat serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu, negara-negara G-20 berkoordinasi untuk memulihkan kepercayaan terhadap sistem keuangan, mengurangi risiko serta gejolak di pasar keuangan internasional serta untuk berkontribusi kepada pemulihan ekonomi yang lebih cepat dan penciptaan lapangan kerja, serta memperkuat dasar bagi pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan serta berimbang.
Ia mengatakan G-20 secara khusus melihat perlunya implementasi secara menyeluruh dan tepat waktu atas berbagai komitmen kebijakan yang telah disampaikan negara anggota untuk mendukung perbaikan serta menghindarkan perekonomian global dari terealisasinya berbagai faktor risiko yang saat ini masih sangat tinggi.

Untuk itu negara-negara kawasan Eropa diminta untuk mengambil langkah-langkah yang telah mereka janjikan, terutama dengansegera melaksanakan keputusan para pemimpin kawasan Eropa pada 19 Oktober 2012 untuk membentuk mekanisme supervisi tunggal bagi perbankan kawasan Eropa; menerapkan Compact for Growth and Job sebagai kebijakan untuk reformasi dan konsolidasi fiskal.

Kawasan Eropa juga diminta segera melanjutkan momentum reformasi struktural, fiskal dan sektor keuangan guna meningkatkan daya saing dan mendukung stabilitas keuangan.

Anggota G-20, khususnya negara maju yang tengah dihadapkan pada problema fiskal, seperti Amerika Serikat dan Jepang, bertekad menjaga pendanaan publik di tingkat yang berkelanjutan, dengan menjaga laju konsolidasi fiskal agar tetap mendukung pertumbuhan. Sedangkan negara-negara yang memiliki ruang fiskal yang memadai siap sedia mendukung penciptaan dengan melakukan kebijakan yang akan mendorong permintaan dalam negeri, jika perekonomian memburuk.

Sedangkan di sisi global rebalancing yang hingga saat ini masih berjalan lambat, MGM sepakat untuk menempuh adjustment internal dan eksternal berupa kebijakan nilai tukar yang lebih berbasis pasar dan fleksibilitasnya sejalan dengan fundamental, meningkatkan sumber pertumbuhan domestik di negara surplus, meningkatkan Tabungan Nasional di negara yang tengah menghadapi permasalahan defisit, serta menjalankan reformasi struktural yang ambisius untuk meningkatkan output dan lapangan kerja.

G-20 juga terus melakukan upaya untuk memperkuat proses koordinasi kebijakannya dengan memperkuat proses diskusi yang akan membahas implementasi komitmen kebijakan anggota G-20. Untuk itu, pertemuan MGM terakhir ini telah menyepakati seperangkat indikator kebijakan fiskal, moneter dan nilai tukar yang akan digunakan untuk memperkuat proses peer review negara anggota G-20, sebagai bagian dari Accountability Assessment Framework.

Di tahun 2013, akan dibahas indikator-indikator bagi efek tular kebijakan domestik (spills over), implementasi reformasi struktural, dan pencapaian pertumbuhan yang kuat, berkelanjutan dan seimbang. Negara anggota G-20 juga telah bergerak maju dalam implementasi agenda penguatan arsitektur keuangan internasional dengan terus mendorong implementasi komitmen negara anggota dalam memperkuat keuangan IMF. Disamping itu, G-20 berkomitmen mengimplementasikan 2010 Quota and Governance Reform IMF, mendukung penyelesaian tinjauan formula quota IMF dan tinjauan umum quota IMF secara tepat, serta penguatan surveillance IMF melalui adopsi New Integrated Surveillance Decision dan peluncuran Pilot External Sector Report. Upaya-upaya tersebut penting untuk meningkatkan legitimasi, relevansi, dan efektivitas IMF.

Melanjutkan reformasi di sektor keuangan yang telah diusung sejak krisis 2008, G-20 berkomitmen mengimplementasikan agenda reformasi regulasi sepenuhnya secara tepat waktu dan konsisten. Disamping itu, G-20 menegaskan bahwa telah banyak pencapaian dalam upaya financial inclusion, baik terkait implementasi rekomendasi Global Partnership for Financial Inclusion (GPFI), dukungan pendanaan UMKM, G-20 Peer Learning Program, juga perlindungan konsumen. Dalam hal ini, Alliance for Financial Inclusion (AFI) telah ditetapkan sebagai jejaring yang permanen bagi upaya pembelajaran dan pertukaran pengalaman, serta forum untuk melakukan diskusi mengenai kebijakan di bidang Financial Inclusion.

G-20 juga telah melakukan pembahasan mengenai isu kenaikan dan pergerakan harga komoditas yang mempengaruhi perekonomian global, dan akan melanjutkan upaya untuk meningkatkan transparansi dan fungsionalitas pasar komoditas, baik pasar fisik maupun pasar keuangan. Secara umum, Indonesia mendukung berbagai agenda bahasan G-20 tersebut dan memberikan komitmen untuk berkontribusi dalam upaya menciptakan kerangka pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan dan berimbang.

Indonesia melihat pentingnya bagi G-20 untuk terus mendorong implementasi kebijakan yang telah disepakati oleh negara-negara anggota untuk mencegah pemburukan lebih lanjut dari perekonomian global, terutama kebijakan-kebijakan yang dimaksudkan untuk melakukan reformasi struktural, yang diyakini akan berdampak langsung terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here