Sebanyak 104 peluru bersarang di badan orangutan

Pangkalan Bun – Sebanyak 104 peluru bersarang di sekujur badan dan kepala seekor orangutan yang ditangkap di wilayah perkebunan sawit oleh tim rescue SKW II-BKSDA Kalteng dan Orangutan Foundation pada 10 Oktober 2012. 

Dokter Hewan dari Orangutan Foundation UK, Drh. Zulfiqri mengatakan orangutan yang diberi nama Aan tersebut telah dirontgen pada bagian kepala, dada, perut, kaki dan tangan. Melalui rontgen terhitung bahwa terdapat 37 peluru yang bersarang di kepala dan 67 peluru yang bersarang tersebar di sekujur badan. Beberapa peluru juga bersarang pada organ-organ vital termasuk di daerah jantung dan paru-paru. Peluru juga bersarang di daerah mata sebelah kanan dan kiri, sehingga diperkirakan bahwa di kemudian hari mata kanannya kemungkinan juga akan buta. Mata kirinya sudah buta saat Aan dibawa keluar dari perkebunan sawit.

Drh. Zulfiqri menambahkan, peluru juga banyak bersarang di daerah telinga, baik di sebelah kanan maupun kiri sehingga diperkirakan kemungkinan Aan juga akan tuli. Terdapat banyak peluru dan lubang bekas peluru di kepala Aan, dan diperkirakan bahwa Aan kemungkinan dapat mati karena mengalami infeksi berat di kepala. Lubang-lubang akibat peluru akan menjadi jalan masuk bagi berbagai jenis penyakit, termasuk jenis-jenis penyakit yang mematikan.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II-Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (SKW II-BKSDA Kalteng), Hartono SP menyayangkan kondisi yang dialami oleh Aan. Orangutan adalah salah satu satwa yang dilindungi secara hukum karena sudah terancam punah. Dalam pasal 21 ayat 2 huruf a dan b Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya mengatakan ‘Setiap orang dilarang untuk: menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.’ Dan dalam pasal 40 ayat 2 mengatakan ‘Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).’

Hartono SP menghimbau seluruh masyarakat yang merasa memelihara orangutan atau satwa yang dilindungi lainnya untuk secara sukarela menyerahkannya kepada SKW II-BKSDA Kalteng. Ia juga berharap agar instansi pemerintah terkait lainnya bersama-sama mengevaluasi pemberian perijinan pembangunan di luar bidang kehutanan untuk tetap memperhatikan keseimbangan alam.

Hartono SP menegaskan bahwa SKW II-BKSDA Kalteng bersama dengan Orangutan Foundation UK akan terus berusaha mencari jalan terbaik agar Aan bisa terus hidup. Dengan bantuan dokter, peluru-peluru yang bersarang di tubuhnya akan dikeluarkan. Kemudian Aan akan dipindahkan ke salah satu camp reintroduksi di Suaka Margasatwa Sungai Lamandau. Aan akan ditempatkan dalam kandang besar di dalam hutan dan dirawat secara intensif. Ia akan dilepasliarkan jika sudah pulih dan dinilai mampu bertahan hidup di alam liar.

Terancam punahnya orangutan adalah akibat ulah manusia yang rakus dan terus menerus merusak serta membuka hutan, sehingga secara langsung mengganggu kehidupan mereka termasuk satwa dan tumbuhan lainnya. Padahal, hewan dan tumbuhan adalah juga makhluk ciptaan Tuhan yang berhak hidup secara nyaman di muka bumi. Manusia yang diciptakan Tuhan dengan kesempurnaan akal seharusnya dapat berfikir bahwa terus berkurangnya areal hutan yang berdampak pada berkurangnya jumlah hewan dan tumbuhan akan mengakibatkan ketidakseimbangan alam yang pada akhirnya mengancam keberlangsungan seluruh kehidupan di muka bumi. (*/Astri Siregar)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here